Diancam Zionis Israel, Warga Gaza: Kematian Lebih Baik Daripada Pergi!

“Saya lahir di sini, dan saya akan mati di sini, meninggalkannya adalah sebuah stigma,” katanya.

GAZA, PALESINA – Israel memerintahkan semua warga sipil di bagian utara Jalur Gaza, yang berjumlah lebih dari 1 juta orang, pindah ke selatan dalam waktu 24 jam.

Namun, hingga Jumat (13/10) sore, tidak ada tanda-tanda eksodus massal saat Israel mempersiapkan serangannya.

Bacaan Lainnya

“Kematian lebih baik daripada pergi,” kata Mohammad, 20 tahun sambil berdiri di jalan di luar sebuah bangunan yang menjadi puing-puing akibat serangan udara Israel dua hari yang lalu di dekat pusat Gaza.

“Saya lahir di sini, dan saya akan mati di sini, meninggalkannya adalah sebuah stigma,” katanya.

Sebelumnya, petinggi Hamas mengatakan kepada penduduk Jalur Gaza untuk tetap tinggal di rumah pada Jumat (13/10). Saran tersebut bertentangan dengan seruan militer Israel agar lebih dari satu juta warga sipil pindah ke selatan dalam waktu 24 jam.

Permintaan itu disampikan melalui pengumuman di masjid. Masjid-masjid yang berada di Gaza menyiarkan pesan: “Pertahankan rumahmu. Pertahankan tanahmu.”

Sebelum permintaan tersebut, Militer Israel memerintah warga sipil Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan. “Teroris Hamas bersembunyi di Kota Gaza di dalam terowongan di bawah rumah dan di dalam bangunan yang dihuni warga sipil Gaza yang tidak bersalah,” ujarnya.

Tapi, Hamas mendesak warga Palestina untuk mengabaikan seruan tersebut. Kelompok yang memimpin wilayah Gaza itu menggambarkannya sebagai disinformasi yang dirancang untuk menyebarkan kepanikan dan memfasilitasi rencana Israel untuk menyerang dan menghancurkan kelompok militan tersebut.

Israel telah melancarkan serangan udara terberat di Gaza. Militer pun telah mengerahkan 300 ribu tentara cadangan dan mengumpulkan tank di dekat perbatasan sebagai respons terhadap serangan Hamas.

Pos terkait