Dituding Korupsi ADD/DD, Raja Negeri Oma : Silahkan Buktikan, Jika Tidak Saya Lapor Balik

Monumen Patung Liberty di Negeri Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dan Bapa Raja Negeri Oma, Eduard Pattiata

Kabartoday, AMBON – Menjadi pimpinan dan niat baik membangun daerah sendiri, belum tentu mendapat dukungan seluruh warga. Pasti ada saja warga yang tak puas serta cemburu.

Apalagi jika kemauan mereka tidak dipenuhi, maka berbagai cara dan upaya akan dilakukan warga untuk menggembosi pimpinan daerah mereka.

Bacaan Lainnya

Seperti yang terjadi di Negeri Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Niat baik Raja Negeri Oma Eduard Pattiata untuk membangun daerahnya ternyata masih mendapat ganjalan dari sekelompok kecil warga.

Kelompok warga ini mewadahkan diri dalam organisasi Relawan Melawan Lupa (RML). Mereka bahkan dengan terang-terangan menuduh pimpinan mereka melakukan korupsi terhadap Anggaran Dana Desa dan Dana Desa (ADD DD) Negeri Oma.

Bahkan RML diinformasikan telah memasukan laporan dugaan penyalahgunaan ADD DD Negeri Oma tahun 2020 – 2022 ke Aparat Penegak Hukum (APH).

Terhadap tuduhan ini, Raja Negeri Oma Eduard Pattiata mengapresiasi baik tindakan kelompok RML. Ia bersyukur karena masih ada sejumlah warganya yang mengambil posisi sebagai sosial kontrol dalam kepemimpinannya.

“Iya, saya dapat informasi ada beberapa warga yang melaporkan saya ke kejaksaan. Mereka menuduh saya telah melakukan korupsi dana ADD DD. Saya apresiasi saja tindakan mereka. Anggaplah ini bagian dari sosial kontrol,” ujar Pattiata kepada media ini, Selasa (13/2/2024).

Walaupun memberikan apresiasi, Pattiata berharap tuduhan kelompok RML harus memiliki bukti yang kuat. Pasalnya tindakan mereka dinilai telah mencemari nama baik pribadi serta keluarga besar Raja Negeri Oma Eduard Pattiata.

Padahal, sejak memimpin Negeri Oma dari tahun 2020 lalu, Pattiata selalu berupaya maksimal membangun Negeri  yang berteung Leparissa Leamahu ini. Pembangunan negeri juga dilakukan dengan melibatkan seluruh potensi negeri.

Karena itu, ia merasa ada yang janggal dengan pelaporan RML. Ia menduga RML dimotori salah satu warganya Porry Hetharia yang kepentingan pribadinya tidak dipenuhi raja Negeri Oma.

“Semoga laporan mereka terbukti. Jika tidak terbukti, maka saya pasti akan mengambil langkah hukum untuk memulihkan harkat serta martabat pribadi dan keluarga besar saya,” tandasnya.

Informasi yang beredar, kelompok RML menyoroti pembangunan objek wisata miniatur patung Liberty di pantai Negeri Oma serta resort wisata milik adiknya yang dibangun untuk mendukung spot wisata tersebut.

Mereka menuding, pembangunan monumen patung Liberty tidak mencerminkan kearifan lokal. Mereka berdalih sebaiknya yang dibangun adalah Monumen Cengkeh dan Pala.

Selain monumen patung Liberty, kelompok RML juga menuding pembangunan resort wisata di sekitar kawasan pantai Negeri Oma milik adik raja Negeri Oma, menggunakan dana ADD maupun DD.

Pattiata tegaskan, pembangunan monumen Patung Liberty serta resort wisata milik adiknya Max Pattiata sepenuhnya dari anggaran pribadi adiknya. Tidak ada satu peser pun mencuri ADD dan DD Negeri Oma.

“Monumen patung Liberty serta Resort pendukung spot wisata itu milik adik saya. Semua biaya dia (Max Pattiata) yang punya. Saya tegaskan ya, tidak ada satu peser pun gunakan ADD maupun DD,” tegasnya.

Max Pattiata, adik Raja Negeri Oma beberkan perilaku Porry Hetharia yang kepentingan pribadinya tidak dipenuhi sehingga diduga ini menjadi pemicu pelaporan RML.

Dalam salah satu tangkapan layar ponsel, ada chat Whatsapp tertanggal 20 November 2020 antara Max Pattiata dan Porry Hetharia.

Max Pattiata, pemilik resort wisata pantai di Negeri Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah

Saat itu Max Pattiata mengirimkan gambar maket pembangunan patung Liberty ke Porry Hetharia. Ketika itu, monumen masih dalam rencana pembangunan. Dalam chat tersebut, Max Pattiata meminta tanggapan Porry atas rencana tersebut.

“Tanggapan Bung??,” tanya Max Pattiata.

“Sungguh luar biasa, Excellent… Jika terjadi , Puji Tuhan atas rencana dan ttp diberkati…. ,” balas Porry.

Ada juga tangkapan layar chat WA yang lain dimana Porry Hetharia meminta pekerjaan dari Max Pattiata. Dalam chat tersebut, Porry bahkan sampai bermohon. Dia juga sampaikan keadaannya yang sudah parah.

Porry Hetharia, salah satu kelompok RML yang melaporkan dugaan korupsi ADD DD Negeri Oma.

“Bung,. Ee… Slmt beraktifitas, Bung jika tidak mengurangi rasa hormat dari Bung par Bt, Bt bermohon jika ada pekerjaan Bt dapat kerja apa sj yg bisa Bt kerjakan , Bt sudah parah2 Bt mohon ijin dari Sang Pencipta lewat Bung jika ada perhatian Btohon bayak2 dangke.. Tuhan Yesus memberkati Bung dan Keluarga…,” pinta Porry dalam chat itu.

Ternyata, laporan kelompok RML ini ditindaklanjuti pihak berkepentingan. Bahkan Inspektorat Kementerian Dalam Negeri telah melakukan monitoring evaluasi (Monev) terhadap laporan RML.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Negeri Oma bapak As Wattimena bahwa Inspektorat pusat telah melakukan Monev pada bulan Oktober 2023 lalu.

“Ia, Inspektorat Pusat dari Jakarta telah melakukan Monev terhadap laporan RML pada bulan Oktober tahun 2023 lalu. Hasilnya, tidak ada temuan. Fakta lapangan ternyata jauh berbeda dengan laporan mereka (RML),” ungkap Wattimena.

Ia jelaskan, setelah selesai Monev, tim inspektorat menyampaikan hasil pemeriksaan kepada tim pelapor (RML) bahwa tidak ada temuan sesuai dengan laporan tujuh orang pelapor.

Wattimena katakan pula bahwa terhadap laporan  kelompok RML dengan motor gerak Porry Hetharia bisa menjadi laporan balik karena dianggap sudah menuduh.

Parahnya lagi, setelah dilakukan kroscek data kependudukan Porry Hetharia, ternyata identitas kependudukan menunjukan Porry Hetharia bukan penduduk Negeri Oma.

Terkait miniatur Patung Liberty, sudah diresmikan langsung oleh Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail pada Sabtu (25/11/2023) lalu. Ini menjadi salah satu spot wisata unggulan di Negeri Oma dan Pulau Haruku.

Diketahui, Miniatur Patung Liberty di Negeri Oma ini setinggi sekitar tujuh meter. Monumen dibangun masyarakat setempat sebagai simbol kemajuan negeri.

Patung ini berdiri tak jauh dari dermaga, sehingga langsung terlihat saat melintas di perairan sekitar negeri ini.

Di Negeri Oma sendiri, terdapat beragam objek wisata alam yang menjanjikan kunjungan wisata, seperti Air Panas Sila dan Mata Air Asol, di samping objek wisata bahari lainnya. (IMRAN)

Pos terkait