Dugaan Monopoli Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah Di Tebing Tinggi, Pemilik Nunung Colection Tidak Mau Dikonfirmasi Wartawan

KabarToday I Tebing Tinggi – Terkait isu miring Dugaan Bersubahat dan Monopoli Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah di Kota Tebing Tinggi, Pemilik Nunung Colection yang disebut – sebut bernama Pak To, berusaha menghindar dan tak mau di konfirmasi Wartawan.

Pasalnya, saat Korespondent Media ini berhasil mengkonfirmasi Pekerja Penjaga Ruko tempat Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah miliknya tersebut, yang berada di Jalan Pulau Belitung – Bandar Sono – Tebing Tinggi melalui Whatsapp (WA) mengatakan, bahwa Pak To tidak mau atau tidak bersedia memberikan nomor HP/WA untuk diberikan kepada Wartawan.

“Maaf …maaf…kali pak…
Soalnya bapak itu juga gak balas” chat saya.
Ini baru di balasnya juga..

Kan gak enak klu saya pekerja mau ngasih no.bapak itu tanpa sepengetahuan nya.
Katanya gak usah …
Balsnya gitu aja pak..

Sekali lagi minta maaf pak ya … 🙏🙏”, tulis Ita pada dinding WA nya membalas konfirmasi KabarToday.

Sebelumnya, saat dikonfirmasi lewat sambungan suara WA dimaksud, Ita mengatakan, bahwa dirinya hanyalah pekerja, yang setiap harinya stanby di Ruko.

Menurut Ita, sebagai pekerja, kalau Pakaian Seragam laku banyak dirinya akan digaji Rp. 100.000 perhari. Jika Lakunya sedikit hanya bergaji Rp. 50.000. Dan jika tidak ada yang laku, maka dirinya tidak digaji sama sekali.

Ia juga mengatakan, bahwa perusahaan tempatnya bekerja adalah Mitra Jaya dengan nama Logo Pakaian yang diselipkan pada pakaian adalah Nunung Colection.

Sebelumnya diberitakan, kegiatan Monopoli Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah ini diketahui telah melanggar dan mengangkangi PP serta Permendikbud RI. Dimana kegiatan tersebut dilakukan secara berjama’ah, antara Pengusaha Mitra Jaya (Nunung Colection) dengan Pihak berkompoten di Disdikbud beserta 10 Kepala SMPN se Kota Tebing Tinggi.

Dikabarkan juga, kegiatan jahat juga disebut – sebut mendapat perlindungan penuh dari pihak yang berkompeten lainnya. Sehingga, para Oknum yang terlibat didalamnya merasa diatas angin dan seolah merasa sudah kebal hukum. Sehingga, aksi jual menjual Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah tingkat SMP tersebut, dari Baju Batik, Baju Koko, Rompi dan Baju/Celana Olah Raga, berlangsung tanpa hambatan.

Dan dari hasil kerjasama tersebut, diduga semua pihak yang terkait, baik dari Kepala SMPN masing – masing, hingga pihak Disdikbud Kota Tebing Tinggi mendapat jatah gratifikasi yang cukup fantastis nilainya. Sementara dibalik itu, Wali Murid harus menjerit oleh karenanya.

Pasalnya, selain kualitas barang yang jelek, juga harus membeli Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah dimaksud dengan harga yang cukup mahal. Dimana, perpotong Seragam Sekolah tersebut pukul rata dibandrol dengan harga Rp. 100.000.

Mirisnya, jeritan Wali Murid ini hanya diibaratkan radio rusak dan dianggap angin lalu. Yang penting, bagi hasil keuntungan dari Monopoli Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah tersebut didapat besar dan memuaskan.

Kondisi ini juga membuat keberadaan Disdikbud dan para Kepala SMPN Se Kota Tebing Tinggi, rangkap fungsi sebagai Multi Level Marketing bekerja sama dengan Nunung Colection.

Disdikbud Kota Tebing Tinggi juga disebut – sebut merekomendasikan secara lisan kepada semua Kepala Sekolah SMPN, agar mengarahkan Orang Tua/Wali Murid untuk membeli Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah dimaksud dari Nunung Colection yang berada di Jalan Pulau Belitung – Bandar Sono – Tebing Tinggi.

Diduga, dari hasil Penjualan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah dimaksud, Disdikbud Kota Tebing Tinggi beserta jajaran Kepala Sekolah SMPN setempat, dikabarkan mendapat Fee Gede, hingga Puluhan Juta Rupiah. Apalagi menjelang atau memasuki tahun Ajaran Baru atau Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang saat ini sedang berada diambang pintu.

Jika melihat kualitas Pakaian yang diproduksi oleh Nunung Colection, sangat memprihatinkan. Jika dibandingkan dengan harga di pasaran berkisar Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000 per potong. Namun, Nunung Colection mematok harga Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah tersebut kepada Orang Tua/Wali Murid, per potongnya senilai Rp. 100.000. Tapi dua atau tiga kali pakai jahitannya sudah lepas, Kain Batiknya cepat sobek karena terlalu tipis, serta kandungan Karet yang ada pada Pakaian Olah Raga mudah kendor.

Mengutip pemberitaan Ombudsmen RI terkait hal ini, Perwakilan Ombudsman RI DI Yogyakarta mengingatkan, bahwa Penjualan Seragam/Bahan Seragam oleh Sekolah maupun Madrasah adalah dilarang, hal ini merujuk pada ketentuan Pasal 181 dan Pasal 198 PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang intinya Pendidik dan Tenaga Kependidikan dilarang untuk menjual Seragam ataupun Bahan Seragam. Demikian juga Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah.

Kemudian, Pasal 4 Ayat (1) dan (2) Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah, juga mengatur ketentuan mengenai Seragam. Pengadaan Pakaian Seragam Sekolah diusahakan sendiri oleh Orang Tua/Wali Siswa. Pengadaan Pakaian Seragam Sekolah juga tidak boleh dikaitkan dengan pelaksanaan PPDB ataupun kenaikan kelas.

Hal ini juga dirangkum dalam Permendikbud No.1/2021 Pasal 27 tentang PPDB juga dijelaskan tentang larangan melakukan pungutan untuk Seragam. Begitu juga Permendikbud No.75/2016 menjelaskan, bahwa Komite Sekolah baik perseorangan maupun kolektif dilarang menjual Seragam maupun Bahan Pakaian Seragam di sekolah.

Regulasi tersebut selalu menjadi Pedoman dalam membuat Surat Edaran (SE) setiap menjelang Penerimaan Peserta Didik Baru. Namun sayang, tidak diimbangi dengan Pengawasan Dinas Pendidikan yang ketat, sehingga menjadi masalah tahunan. Dan parahnya lagi, malah Oknum berkompoten di Dinas Pendidikan turut serta Bersubahat di dalamnya.

Dari pihak Disdikbud dan para Kepala Sekolah yang berhasil dikonfirmasi KabarToday terkait hal ini, semuanya membantah telah menjual Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah dimaksud.

Dilain pihak, banyak dari pihak Wali Murid saat dikonfirmasi Media ini mengatakan, agar hal ini segera dihapuskan. Dan Wali Murid dapat melakukan sendiri untuk Pengadaan Perlengkapan Pakaian Seragam Sekolah sesuai dengan kemampuan perekonomian Wali Murid masing – masing.

Menurut mereka, agar hal itu tidak lagi diarahkan dan dipaksakan untuk membeli pada Nunung Colection dengan bandrol harga yang mahal, tapi kualitasnya jelek.

Bahkan mereka juga meminta, agar hal ini segera dapat ditangani oleh pihak hukum tanpa terkecuali, karena telah melanggar norma – norma dan etika, serta aturan dan peraturan terkait Pelaksanaan Pendidikan di Negara ini. (Okta)

Pos terkait