Empati Kepemimpinan, Kunci Membangun Tim yang Kuat

DEPOKPOS – Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani dengan sikap empati yang dalam. Bahkan yang perlu menjadi catatan saat ini adalah bagaimana seorang pemimpin harus memiliki visi dalam membangun jiwa yang merdeka, mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku seluruh rakyat sekaligus pemimpinnya agar berorientasi pada kemajuan dan hal-hal yang modern, sehingga lembaga pendidikan yang dipimpinnya dapat berjalan secara kondusif dan produktif.

Kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari sudut pandang hasil kuantitatif semata. Keberhasilan seorang pemimpin kini juga ditentukan oleh kemampuannya untuk memahami, merasakan, dan merespons kebutuhan serta perasaan anggota timnya. Dalam konteks ini, konsep empati telah muncul sebagai aspek penting dalam membangun hubungan yang kuat dan produktif di antara pemimpin dan anggota tim.

Penelitian ini mengambil fokus pada peran sentral empati dalam kepemimpinan sebagai kunci utama dalam membentuk tim yang kuat. Empati, sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi dan merespons secara emosional terhadap pengalaman dan kebutuhan orang lain, dianggap dapat mengubah dinamika tim. Melalui pemahaman mendalam terkait kebutuhan dan perspektif anggota tim, seorang pemimpin yang berempati mampu menciptakan lingkungan kerja yang positif.

Definisi Empati

Empati adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan berbagi perasaan atau pengalaman orang lain. Ini melibatkan kemampuan untuk menyadari perasaan dan kebutuhan orang lain, dan merespons dengan cara yang penuh perhatian dan peduli. Seseorang yang memiliki empati dapat menciptakan hubungan interpersonal yang lebih kuat dan dapat memahami perspektif orang lain. Definisi empati mencakup berbagai keadaan emosi, termasuk merawat orang lain dan memiliki keinginan untuk membantu mereka; mengalami emosi yang cocok dengan emosi orang lain, membedakan apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain, dan membuat perbedaan yang tidak terlalu berbeda antara diri dan yang lain (Salma, 2020: 136).

Empati menurut Decety dan Jackson (dalam Irawati, dkk. 2023:77) adalah cara untuk memfasilitasi terjadinya proses berbagi dan mengkomunikasikan rasa yang dialami oleh seseorang, sehingga terjadi proses asimilasi terhadap rasa sedih yang dialami tersebut menjadi bagian dari perasaannya. Selain itu menurut Efendi (dalam Djafri, 2014; Irawati, dkk. 2023:77) menyatakan bahwa empati merupakan bagian dari kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali perasaan diri kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.

Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan komoditas yang sangat dicari dan sangat dihargai. Sebagai individu dan makhluk sosial mencari dan menelusuri informasi lebih lanjut tentang bagaimana menjadi pemimpin yang efektif adalah sebuah keniscayaan. Kepemimpinan adalah cara untuk meningkatkan kehidupan pribadi, sosial, dan profesional mereka. Sebuah perusahaan atau lembaga akan mencari seseorang dengan kemampuan kepemimpinan yang baik karena mereka percaya bahwa kehadirannya membawa aset khusus ke organisasi mereka dan pada akhirnya meningkatkan bottom line (Juhji, dkk. 2020:173).

Terdapat beberapa pendekatan kepemimpinan menurut Rost (1991, dalam Juhji, dkk, 2020:174) diantaranya: 1) kepemimpinan otentik (authentic leadership), dimana keaslian pemimpin dan kepemimpinan mereka ditekankan; 2) kepemimpinan rohani (spiritual leadership), yang berfokus pada kepemimpinan yang memanfaatkan nilai-nilai dan rasa memanggil dan keanggotaan untuk memotivasi pengikut;3) kepemimpinan hamba (servant leadership), yang menempatkan pemimpin dalam peran hamba, yang menggunakan “prinsip-prinsip peduli” untuk berfokus pada kebutuhan pengikut untuk membantu para pengikut ini menjadi lebih otonom, berpengetahuan luas, dan seperti pelayan itu sendiri; dan 4) kepemimpinan adaptif (adaptive leadership), dimana para pemimpin mendorong pengikut untuk beradaptasi dengan menghadapi dan memecahkan masalah, tantangan, dan perubahan.

Kepemimpinan Berbasis Empati

Kepemimpinan berbasis empati adalah gaya kepemimpinan yang menekankan penggunaan empati sebagai instrumen utama dalam mengelola dan memimpin orang-orang. Ini melibatkan kemampuan untuk merasakan, memahami, dan merespons perasaan serta kebutuhan anggota tim atau kelompok kerja. Dalam kepemimpinan berbasis empati, pemimpin tidak hanya memandang anggota tim sebagai sumber daya produktif, tetapi juga sebagai individu dengan perasaan, kekhawatiran, dan harapan mereka sendiri.

Kepemimpinan berbasis empati dianggap dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif, meningkatkan kepuasan karyawan, dan memotivasi tim untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin dengan keterampilan empati yang baik sering kali dapat membangun hubungan yang kuat dan memberikan dampak positif terhadap budaya organisasi.

Manfaat Empati

Empati memiliki manfaat yang signifikan dalam konteks kepemimpinan. Pemimpin yang mampu mempraktikkan empati dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif, membangun hubungan yang kuat dengan anggota tim, dan meningkatkan kinerja keseluruhan organisasi.

Empati dapat meningkatkan hubungan interpersonal, seorang pemimpin yang berempati dapat membentuk hubungan yang lebih kuat dengan anggota tim. Dengan berempati, setiap individu dapat merasakan dan memahami perasaan, kekhawatiran, dan kebutuhan individu, mencipakan ikatan yang lebih dalam. Empati juga dapat meningkatkan motivasi dan menciptakan suasana kerja yang mendukung dimana karyawan dapat merasa dihargai. Dengan meningkatkan motivasi dan keterlibatan karyawan, maka karyawan akan merasa bahwa pemimpin mereka peduli terhadap keberhasilan maupun kesejahteraan tiap karyawan.

Selain itu, dengan rasa empati dapat membantu pemimpin memahami berbagai perspektif dan sudut pandang. Hal ini dapat memperkaya pengambilan Keputusan dengan mempertimbangkan aspek-aspek emosional dan sosial. Dengan adanya empati juga dapat mengurangi konflik dan meningkatkan kolaborasi. Pemimpin yang berempati cenderung lebih efektif dalam menangani konflik. Tim dapat membantu menyelesaikan konflik antara satu sama lain dengan cara mengormati perasaan dan pandangan semua pihak sehingga meningkatkan kolaborasi dan Kerjasama yang baik dalam tim.

Meningkatkan citra pemimpin dan organisasi merupakan salah satu manfaat empati, dengan pemimpin yang menunjukkan empati akan membangun citra positif. Dimana pemimpin akan dianggap sebagai seorang pemimpin yang peduli, dapat dipercaya dan bijaksana sehingga dapat meningkatkan reputasi perusahaan atau organisasi.

Tantangan dan Kendala

Meskipun empati memiliki banyak manfaat dalam kepemimpinan, ada sejumlah tantangan dan kendala yang dapat dihadapi pemimpin dalam menerapkan dan mempraktikkan empati. Beberapa di antaranya melibatkan keseimbangan antara empati dan tanggung jawab kepemimpinan.

Terdapat beberapa tantangan utama empati dalam kepemimpinan yaitu adanya Ketidakseimbangan antara Empati dan Keputusan Strategis. Tentunya sebagai seorang pemimpin harus menjaga keseimbangan antara memahami dan merespons emosional tim dengan membuat keputusan strategis yang diperlukan. Terlalu banyak empati tanpa pertimbangan yang tepat dapat menghambat kemampuan pemimpin untuk membuat keputusan sulit.

Kemudian, Pengaruh Emosi Pribadi Pemimpin, dimana pemimpin harus mampu mengelola dan mengenali pengaruh emosi pribadi mereka terhadap situasi atau keputusan. Terlalu banyak terlibat secara emosional dapat mengaburkan penilaian objektif dan keputusan rasional. Sementara empati dapat membantu menyelesaikan konflik, pemimpin juga dapat merasa kesulitan ketika terlibat dalam konflik antaranggota tim. Menemukan keseimbangan antara empati dan pengelolaan konflik yang efektif dapat menjadi tantangan.

Adanya Resiko Over-Identification, yaitu pemimpin yang sangat empatik mungkin cenderung terlalu terlibat secara emosional dengan anggota tim. Ini bisa menyebabkan risiko over-identification, di mana pemimpin merasakan terlalu banyak beban emosional dari masalah tim. Serta tantangan dalam menilai kinerja objekif. Dimana terlalu banyak empati dapat membuat pemimpin kesulitan untuk menilai kinerja individu secara objektif.

Empati dalam kepemimpinan membawa manfaat yang signifikan dalam kepemimpinan, namun pemimpin perlu menyadari dan mengatasi tantangan untuk memastikan bahwa sebagai seorang pemimpin harus mempraktikkan empati dengan cara yang mendukung tujuan organisasi dan keseimbangan kepemimpinan yang efektif.

Empati bukan hanya sekadar atribut kepribadian, tetapi merupakan bagian esensial dalam membentuk dan memelihara tim yang kuat dan produktif. Pemimpin yang mampu mempraktikkan empati secara konsisten dapat membina hubungan yang mendalam dengan anggota tim, memahami kebutuhan individu, dan memberikan dukungan yang sesuai. Dalam hal ini, empati bukan hanya menjadi strategi interpersonal, tetapi juga sebagai pondasi untuk membangun budaya kerja yang inklusif dan kolaboratif.

Empati juga membuka pintu untuk komunikasi yang lebih baik, membantu mengelola konflik dengan lebih efektif, dan meningkatkan motivasi individu dalam tim. Keberadaan empati juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa didengar, dihargai, dan termotivasi untuk berkontribusi secara maksimal.

Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang empati dalam kepemimpinan memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan yang berbasis empati bukan hanya tentang mengelola tugas dan proyek, tetapi juga tentang menghargai nilai-nilai individu, memahami tantangan personal, dan menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan bersama. Dengan ini dapat dikatakan bahwa empati bukan hanya menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan, tetapi juga pondasi yang kokoh untuk membangun tim yang kuat dan harmonis di dalam lingkungan kerja.

Andreeyas Saputra
Prodi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya.

Pos terkait