FAKTOR INTRINSIK DALAM STUDI S3

KabarToday | JAKARTA – Studi S3 bukanlah sekadar soal kecerdasan semata, tetapi juga melibatkan dimensi lainnya. Dalam menanggapi isu ini, perlu diperhatikan dengan membuka pintu bagi eksplorasi emosional dalam studi S3. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang perasaan dan emosi mahasiswa S3, diharapkan pengalaman belajar pada tingkat pendidikan tinggi dapat menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan.

Studi S3 atau yang dikenal dengan program studi doktoral adalah perjalanan yang menantang. Selama masa ini, para mahasiswa perlu mampu menghadapi berbagai tantangan akademik, kegiatan penelitian yang kompleks, perkuliahan dan tekanan untuk menghasilkan karya yang orisinal dan bermakna.

Bacaan Lainnya

Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan sosial, seperti harapan dari dosen dan rekan sejawat, serta ekspektasi diri sendiri dan keluarga. Apabila tidak pandai mengatur manajemen diri, persoalan kesehatan fisik maupun psikis dapat dialami oleh mahasiswa S3. Dalam menghadapi tantangan ini, perasaan seperti kecemasan, stres, kegembiraan, kelelahan dan ketidakpastian dapat muncul dalam diri mahasiswa.

Merespon dan mengelola perasaan ini secara sehat dan produktif adalah hal yang krusial dalam perjalanan studi S3. Salah satu dialami dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang sedang menempuh studi S3 Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid Jakarta, Novalia Agung Wardjito Ardhoyo, S.T., M.I.Kom.

Agung membagi pengalamannya, “Kuliah S3 cukup berat, perjalanan atau proses sidangnya pun lebih panjang dibandingkan S1 dan S2. Belum lagi kalau ada tugas. Seringkali diberikan tugas translate satu buku yang tebalnya sekitar 300-500 halaman. Kita juga harus siap dari segi finansial dan biaya hidup yang tidak sedikit. Bagi yang sudah berusia lanjut dan atau berkeluarga, tentunya tantangan akan lebih kompleks dan memengaruhi fokus studi S3”.

Efek terhadap perasaan dan emosi adalah bagian alami dari proses perjalanan studi S3. Namun realitanya sering ditemukan ketidakmampuan mahasiswa dalam mengatur hal tersebut sehingga berpengaruh terhadap waktu penuntasan studi. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi, terutama pada tingkat studi S3 dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap aspek emosional mahasiswanya.

Langkah-langkah dapat dilakukan penyelenggara pendidikan dalam peningkatan dukungan emosional. Dengan menyediakan konselor dalam membantu mengatur keterampilan manajemen emosi mahasiswa, dan menciptakan lingkungan yang mendukung mahasiswa. Membangun komunitas yang saling mendukung dan memfasilitasi diskusi terbuka tentang pengalaman emosional. Hal tersebut untuk menciptakan iklim studi yang lebih positif dan merangsang peningkatan jumlah lulusan.

Penting untuk dicatat bahwa eksplorasi emosional bukan hanya tentang mengatasi perasaan negatif. Sebaliknya, melibatkan diri dalam pemahaman yang lebih dalam tentang emosi juga membawa manfaat positif bagi pengalaman belajar. Misalnya, memahami kegembiraan dan semangat saat menemukan jawaban baru atau memperoleh wawasan baru, atau merayakan kesuksesan dalam pencapaian pribadi dan profesional.

Penulis : Astrid Anggraeni & Nines Devina
Email : Ninesdvna@gmail.com

Pos terkait