HARVETNAS : Serangan Umum 4 hari Kota Surakarta

Solo, Kabartoday – Memasuki bulan Agustus banyak hal sakral bagi bangsa Indonesia dimasa persiapannya menuju hari Kemerdekaan bangsa Indonesia, banyak peristiwa sejarah dalam mempersiapkan Proklamasi. Kota-kota besar yang ada di Indonesia pun mempunyai cerita pergerakannya dalam merebut kemerdekaan. Hal ini tidak terlepas juga dengan kota Surakarta atau dikenal dengan Solo.

Pada hari Car free Day yang bertempat disepanjang Jl. Slamet Riyadi menjelang Hari Veteran Nasional, salah satu pelaku sejarah mengenai pertempuran 4 hari di kota Solo Mayor (Purn). Joko Ramelan berbagi cerita, “Saat itu kota sempat dikosongkan mengantisipasi pendudukan Belanda militer II dalam rangka memperluas daerah jajahannya kembali hingga mendapatkan perintah Komando Militer Kota Mayor Achmadi dibawah Jenderal Gatot Soebroto. Para pelajar, Laskar-laskar dan TNI bergabung untuk menyerang Belanda dan para pelajar yang ikut serta diwadahi dengan nama Tentara Pelajar (TP) yang awalnya 1 batalyon dengan personil -+700 orang, berkembang menjadi 4 batalyon, rakyat Solo adalah sumbu pendek dari perjuangan kemerdekaan,” ujarnya (6/8/2023).
Beliau meminta agar dapat pemuda dan pelajar saat ini mengunjungi rumah Yatim-Piatu, Panti-panti Jompo, serta Taman Makam Pahlawan untuk lebih mengenal sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bacaan Lainnya

Di sessi dialog salah satu warga bertanya “Bagaimana menyikapi mengenai banyaknya warga Cina yang ada di Indonesia…?”. “segala tingkah laku perbuatan harus menguntungkan bangsa dan rakyat Indonesia” jawab beliau. Akhir session Mayor. (Purn) Joko berpesan agar generasi muda Indonesia memegang teguh prinsip “Hidup atau mati untuk rakyat kecil”

Pecahnya Pertempuran Empat Hari di Surakarta

Peristiwa Serangan Umum Surakarta juga dikenal sebagai Serangan Umum Empat Hari atau Serangan umum 4 hari 4 malam. Serangan Umum Surakarta terjadi sejak 7 Agustus 1949 dan berakhir pada tanggal 10 Agustus 1949 tengah malam saat perintah gencatan senjata dari Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI mulai dilaksanakan. Peristiwa Serangan Umum Surakarta merupakan respon atas Agresi Militer Belanda II yang menduduki kota Solo. Serangan yang dilakukan secara gerilya ini terjadi secara terus menerus semenjak pasukan Belanda memasuki Kota Solo.

Mayor Achmadi adalah pemimpin komandan Detasemen Tentara Pelajar Brigade XVII dan Sub Wehrkreise (SWK) 106 Ardjuna. Selain itu ada Suhendro yang memimpin Rayon I dari Polokarto, Sumarto yang memimpin Rayon II, Prakosa yang memimpin Rayon III, A Latif yang memimpin Rayon IV, serta Hartono yang memimpin Rayon Kota. Ada pula Slamet Riyadi dengan pasukan Brigade V/Panembahan Senopati ikut serta dan menjadi tokoh kunci dalam menentukan jalannya pertempuran.

Serangan Umum Surakarta dimulai pukul 06.00 pagi tanggal 7 Agustus 1949 dengan gerakan, pasukan SWK 106 Ardjuna yang menyusup dan menguasai perkampungan di Surakarta. Sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) kemudian menyerang Belanda dari semua penjuru. Serangan dilanjutkan pada pertempuran hari kedua, 8 Agustus 1949 yang terjadi hingga tengah malam.

Hingga akhirnya, pada 10 Agustus 1949, Slamet Riyadi bersama pasukan Brigade V melancarkan aksinya yang disebut sebagai Afscheidsaanval atau serangan perpisahan. Serangan ini dianggap menjadi serangan perpisahan karena pada 11 Agustus 1949, kedua belah pihak memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. Namun nyatanya pada 11 Agustus 1949 Belanda terus melakukan serangan yang menewaskan warga sipil. Kolonel van Ohl mewakili Belanda kemudian berunding bersama Slamet Riyadi dengan meminta Indonesia untuk menarik mundur pasukannya sampai batas kota dan membersihkan barikade. Berkat kesepakatan itu, Kota Solo kemudian diserahkan kepada Mayor Achmadi selaku Komando Militer Kota Solo pada tanggal 24 Agustus 1949. Serangan yang dilakukan Tentara Pelajar ini pun berhasil memperkuat posisi tawar politik di Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB), Den Haag yang menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.

Pertempuran Empat Hari di Surakarta
merupakan perang terakhir di pulau Jawa pada revolusi Kemerdekaan II. Perang yang terjadi selama empat hari empat malam pada 7 – 10 Agustus 1949 menunjukkan bahwa tekad rakyat Kota Solo beserta dengan TNI dan pasukan Tentara Pelajar dalam mempertahankan kemerdekaan tidak main-main. Melalui perang Gerilya dan Pertempuran Empat Hari kota Solo dapat membuktikan kepada dunia bahwa kekuatan Militer Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Setelah gencatan senjata terjadi upacara serah terima kekuasaan dari Pemerintah Belanda yang diwakili oleh Kolonel Van Ohl kepada Pemerinah Indonesia yang diwakili oleh TP Bridge 17 yang terdiri dari Letkol Slamet Riyadi di Stadion Sriwedari. (Atma)

Pos terkait