Kurangnya Kesadaran Generasi Z untuk Memiliki Asuransi

DEPOKPOS – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah risiko yang merujuk pada berbagai potensi kejadian tidak diinginkan. Berbagai jenis risiko, seperti risiko kebakaran, kemungkinan terlibat dalam kecelakaan kendaraan, atau risiko terkena banjir pada musim hujan, bisa menimbulkan konsekuensi yang signifikan jika tidak diantisipasi sejak dini.

Ketidakpastian dalam kehidupan, khususnya terkait dengan risiko, sering kali disebabkan oleh kurangnya atau bahkan ketiadaan informasi yang memadai mengenai apa yang mungkin terjadi. Sesuatu yang tidak dapat dipastikan dapat membawa dampak positif atau negatif tergantung pada situasi dan konteksnya. Oleh karena itu, untuk menghadapi dan mengurangi dampak risiko yang mungkin timbul dalam lingkup perusahaan, organisasi, ataupun individu, diperlukan suatu pendekatan yang dikenal sebagai manajemen risiko.

Manajemen risiko adalah suatu proses sistematis yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengatasi potensi risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Proses ini melibatkan langkah-langkah seperti identifikasi risiko, penilaian tingkat risiko, pengembangan strategi mitigasi, dan pemantauan berkelanjutan terhadap risiko yang mungkin timbul.

Asuransi merupakan suatu teknik yang yang termasuk dalam manajemen risiko atau bentuk pengendalian risiko yang mengadopsi strategi pengalihan atau transfer risiko dari satu pihak kepada pihak lain. Fungsi utama asuransi adalah memberikan jaminan atau perlindungan terhadap risiko yang tidak dapat diprediksi, dengan memanfaatkan mekanisme premi yang dibayarkan oleh peserta kepada perusahaan asuransi. Peran asuransi menjadi sangat signifikan dalam konteks kehidupan masa kini, karena kondisi kesehatan setiap individu tidak dapat diprediksi secara pasti. Kehadiran asuransi berfungsi sebagai bentuk jaminan atau perlindungan, mengingat tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kondisi kesehatan mereka di masa mendatang. Keberadaan asuransi tidak hanya mencakup aspek kesehatan, tetapi juga melibatkan perlindungan terhadap perubahan penghasilan yang mungkin terjadi seiring waktu.

Beberapa tantangan utama yang akan dihadapkan oleh perusahaan asuransi saat ini adalah meningkatkan minat generasi muda untuk mengikuti asuransi. Mereka masih kurang memiliki pengetahuan yang cukup dan rencana jangka panjang dalam kehidupan mereka. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa penduduk Indonesia didominasi oleh generasi milenial dan Generasi Z berada dikisaran 25,87% untuk milenial dan 27,94% untuk Gen Z dari total penduduk Indonesia (Indonesian Central Bureau of Statistics, 2021). Studi dan survei menunjukkan bahwa preferensi mereka berbeda dari generasi yang lebih tua. Kurangnya informasi dan pemahaman di kalangan generasi muda mengenai manfaat perlindungan dari risiko telah berdampak pada kurangnya minat untuk membeli produk asuransi.

Berdasarkan penelitian IDN Research Institute yang dirilis pada tahun 2022, Gen Z hanya mampu mengalokasikan 4,67% dari pendapatan rutin mereka untuk digunakan mengikuti asuransi. Makanan dan camilan menyumbang sebagian besar dari total pengeluaran bulanan Generasi Z. Pengeluaran yang dilakukan dengan tidak terlalu dipertimbangkan, seperti untuk makanan ringan dan hiburan, dapat mencapai sekitar 18,69% hingga 70,59% dari total pengeluaran Generasi Z. Hal ini tampaknya mencerminkan kecenderungan Generasi Z untuk merespons atau mengatasi emosi dengan melakukan aktivitas yang bersifat materi atau hedonis (Utomo & Heriyanto, 2022).

Untuk mengatasi tantangan meningkatkan minat generasi muda terhadap asuransi, perusahaan asuransi dapat mengadopsi berbagai strategi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran mereka mengenai manfaat perlindungan dari risiko. Beberapa solusi yang dapat diterapkan adalah:

Pendidikan dan Literasi Keuangan:
Memberikan program pendidikan dan literasi keuangan yang terfokus pada generasi muda. Workshop, seminar, atau kampanye edukasi yang bersifat interaktif dapat membantu meningkatkan pengetahuan mereka mengenai konsep asuransi, jenis-jenisnya, serta manfaat perlindungan jangka panjang.

Kolaborasi dengan Pendidikan Formal:
Bekerjasama dengan lembaga pendidikan formal untuk memasukkan materi asuransi ke dalam kurikulum sekolah. Hal ini dapat membantu generasi muda untuk memahami peran asuransi sejak dini, memberikan landasan pengetahuan yang kuat seiring pertumbuhan mereka.

Pemanfaatan Teknologi dan Media Sosial:
Memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyampaikan informasi tentang asuransi secara kreatif dan menarik. Kampanye digital, infografis, atau video pendek dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau generasi muda yang lebih terbiasa dengan platform digital.

Penawaran Produk yang Relevan:
Mengembangkan produk asuransi yang relevan dengan kebutuhan dan gaya hidup generasi muda. Menyediakan opsi yang lebih fleksibel dan terjangkau dapat meningkatkan daya tarik produk asuransi bagi mereka.

Promosi Melalui Kolektivitas dan Keterlibatan Sosial:
Mendorong keterlibatan sosial dengan mengkampanyekan asuransi sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan perlindungan bersama. Kolaborasi dengan influencer atau tokoh muda yang memiliki pengaruh di media sosial juga dapat membantu memperluas jangkauan pesan.

Penyederhanaan Informasi:
Mengkomunikasikan informasi mengenai asuransi dengan cara yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit. Penyederhanaan bahasa dan penyajian informasi yang transparan dapat membuat konsep asuransi lebih terbuka bagi generasi muda.

Risiko merupakan bagian tak terhindarkan dari kehidupan sehari-hari, dan berbagai jenis risiko dapat memiliki dampak signifikan jika tidak diantisipasi. Kurangnya informasi dan pemahaman mengenai manfaat perlindungan dari risiko dapat menjadi tantangan, terutama dalam meningkatkan minat generasi muda untuk mengikuti asuransi. Dengan menerapkan solusi-solusi tersebut, semoga perusahaan asuransi dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan menarik minat generasi muda untuk memahami, menghargai, dan akhirnya memanfaatkan produk asuransi dalam membangun perlindungan finansial mereka di masa depan.

Ahnaf
STEI SEBI

Pos terkait