Lambat Sikapi Konflik, Warga Minta Kapolda Maluku Evaluasi Kapolsek Nusaniwe

Para tokoh masyarakat RT 002 RW 005 Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon mewakili warga mengeluhkan lambannya Polsek Nusaniwe sikapi bentrok warga.

Kabartoday, AMBON – Sejumlah warga kawasan OSM RT 002 RW 005 Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon mengungkapkan kekesalannya atas sikap Kapolsek Nusaniwe AKP John Anakotta.

Mereka menilai Kapolsek Nusaniwe lambat menyikapi konflik antar kelompok pemuda sehingga mengakibatkan sejumlah rumah warga kompleks tersebut mengalami kerusakan.

Bacaan Lainnya

Kerugian material yang dialami karena rusaknya tujuh rumah warga ini bisa mencapai puluhan juta rupiah. Selain itu warga juga merasa tidak nyaman dan terintimidasi.

Pasalnya selama tiga malam, kompleks mereka diserang sejumlah pemuda kawasan Kampung Timur yang terpisah jarak sekitar 100 meter.

Warga menilai kejadian penyerangan berturut-turut ini akibat respon lambat aparat kepolisian Polsek Nusaniwe.
((Saya akan tetap melindungi warga saya di RT 002 RW 005. ))

Ketua RT 002 RW 005, Kelurahan Wainitu Sam Patty menyesalkan lambannya pihak Polsek Nusaniwe menyikapi laporan warganya yang jadi korban penyerangan pemuda dari kompleks Kampung Timur.

Sam Patty, Ketua RT 002 RW 005 Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon

“Saya sesalkan dengan tindakan aparat yang selalu lamban dalam penanganan. Yang mana kita sering di serang. Tapi saat kita melaporkan, mereka lamban penanganan,” tandas Patty Senin (19/2/2024) di kediamannya.

Saat kejadian, ia mengaku telah menelpon Bhabinkamtibmas Wainitu, Aipda Roy Soplanit. Namun telpnya tidak diangkat. Warganya juga telah melapor ke pos Benteng Polsek Nusaniwe, tetapi personil polisi di situ lamban tiba di TKP.

“Selama dua jam mereka tidak merespon laporan sekretaris RT. Akhirnya warga berinisiatif melapor ke Polres. Barulah ada personil polisi dari SPKT Polresta Ambon yang turun ke lokasi,” jelas Patty.

John Ulmasembun, salah satu tokoh masyarakat setempat menyesalkan lambannya Polsek Nusaniwe menyikapi laporan masyarakat.

Bahkan dengan tegas ia meminta agar pimpinan kepolisian mengevaluasi kinerja Kapolsek Nusaniwe.

John U, tokoh masyarakat RT 002 RW 005 Kelurahan Wainitu, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

“Saya meminta kepada Kapolda Maluku serta Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau Pulau Lease untuk mengevaluasi Kapolsek Nusaniwe. Dan kalau bisa yang bersangkutan dipindahkan,” tukasnya.

Peristiwa konflik antar kelompok pemuda ini terjadi Rabu (14/2/2024) dinihari.

Sekelompok pemuda berjumlah sekitar 20 orang yang diduga berasal dari kawasan Kampung Timur mendatangi pemukiman warga di OSM pantai, RT 002 RW 005 Kelurahan Wainitu.

Ada warga setempat yang melihat kelompok pemuda ini melengkapi diri dengan batu yang telah disiapkan, kayu pentong, besi tombak dan parang.

Secara brutal, mereka melempari rumah warga. Akibatnya tujuh rumah warga mengalami rusak. Kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Adapun rumah warga yang mengalami kerusakan antara lain rumah milik Markus Linggi, David Seipala, Alexa Lembang, Helena Takaria, Ona Noya, Yohanis Pasang dan John Ulmasembun.

Aksi gangguan kamtibmas ini ternyata terulang lagi esok hari Kamis (15/2/2024) dinihari. Sekitar pukul 02.00 WIT dan 04.00 WIT terdapat kurang lebih dua sampai empat kali pelemparan rumah oleh pemuda Kampung Timur namun tidak terjadi aksi penyerangan dan tidak ditanggapi oleh warga RT. 02/RW.005.

Aksi gangguan serupa kembali terulang Sabtu (17/2/2024) dinihari. Kurang lebih pukul 03.00 WIT, kelompok pemuda Kampung Timur melakukan lagi aksi pelemparan batu terhadap  rumah yang terletak di pantai wainitu namun tidak direspon oleh warga RT.02/R.005.

Klarifikasi Kapolsek

Terhadap ketidakpuasan  warga ini, Kapolsek Nusaniwe AKP John Anakotta tegaskan kepolisian serta dirinya tidak anti kritik.

“Polri tidak anti kritik. Kami siap dikritik demi ke depan polisi lebih baik. Namun saya mau tegaskan, Polsek tidak pernah mengabaikan laporan maupun aduan masyarakat. Kami akan selalu hadir di tengah-tengah masyarakat untuk melayani,” tegasnya saat dikonfirmasi media ini Selasa (20/2/2024) di Pos Polisi Benteng.

Ia katakan jika memang ada miskomunikasi atau miskoordinasi antara personilnya dengan warga, maka itu merupakan salah satu bagian dari kekurangan manusia.

“Kalau memang ada kejadian seperti itu, saya selaku pimpinan  di Polsek Nusaniwe menyampaikan permohonan maaf kepada warga,” ucapnya dengan legowo.

Namun ia mau meyakinkan masyarakat bahwa dirinya bersama seluruh jajaran Polsek Nusaniwe akan selalu konsen melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat di wilayah hukum Polsek Nusaniwe tanpa pandang bulu.

“Kami paling konsen dengan pelayanan terhadap masyarakat. Bahkan kami hadir di tengah-tengah masyarakat untuk selalu memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua masyarakat tanpa pandang bulu,” tandasnya.

Terkait konflik pada Rabu (14/2/2024) dinihari, mantan Kapolsek Leihitu Barat ini jelaskan bahwa semua pihak sedang konsen untuk mensukseskan agenda Pemilu yang merupakan pesta demokrasi Negara Indonesia yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

“Saat kejadian pada tanggal 14 itu kita semua lagi konsen ke pesta demokrasi. Saat kejadian juga, anggota kita ke TKP bergandengan dengan pasukan Polres untuk meredam konflik,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi terulangnya peristiwa ini, Anakotta akui pihaknya telah mengantisipasi dengan melakukan patroli mobile.

“Tetapi kita juga tidak bisa 24 jam jaga lokasi itu, karena tempat lain juga butuh kita. Jadi sistem kita mobile saja. Dan saya sudah atensi agar kita tiap malam selalu mobile ke situ sesuai dengan permintaan warga,” tukasnya.

Ia katakan sudah beberapa malam ini dirinya bersama sejumlah personil konsen ke kawasan tersebut.

“Saya sudah tegaskan saya pertaruhkan hidup dan nyawa saya untuk keamanan wilayah kecamatan Nusaniwe,” tandas Anakotta.

Ia berjanji akan berupaya semaksimal mungkin agar Polsek Nusaniwe ke depan akan lebih action.

“Namun kita juga butuh peran aktif masyarakat. Jangan hanya limpahkan tanggung jawab Kamtibmas ke polisi saja. Jangan sampai Polsek action tetapi masyarakat tidak action. Artinya begini, kalau memang masyarakat mampu meminimalisir duluan, kenapa tidak,” harap dia.

Terkait sentilan warga dimana dirinya tinggal di kawasan Kampung Timur namun tidak mampu meredam pemuda setempat agar tidak anarkis, Anakotta tegaskan kalau dirinya sudah seringkali sosialisasi Kamtibmas di berbagai wadah.

“Saya sudah cukup banyak lakukan sosialisasi kamtibmas. Tetapi terkadang juga mereka ada yang lepas kontrol. Karena tidak mungkin saya awasi mereka selama 24 jam. Saya juga sudah tegaskan di situ agar jangan coba mengulangi lagi. Jika kebobolan ada yang melakukan ya resiko ditanggung sendiri. Pasti saya proses hukum,” tegas dia.

Ia himbau kepada masyarakat agar sama sama membantu polisi untuk menjaga kamtibmas wilayah.

“Karena tanggung jawab kamtibmas itu tidak semata hanya ada di Polisi, tetapi juga ada di tangan masyarakat. Intinya orang tua harus melihat anak anaknya. Jangan biarkan mereka berada di luar rumah hingga larut malam bahkan pagi hari. Yang sangat kita sayangkan, masyarakat kok selalu biarkan anak anak mereka di jalan hingga pagi hari,” sesal dia. (IMRAN)

Pos terkait