Laporan RML Soal Korupsi DD Negeri Oma di Haruku Tak Terbukti

Monumen Patung Liberty di Negeri Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah dan Bapa Raja Negeri Oma, Eduard Pattiata

Kabartoday, AMBON – Segelintir warga Negeri Oma Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah yang menyatukan diri dalam kelompok Relawan Melawan Lupa (RML) harus gigit jari.

Niat mereka untuk menjatuhkan kepemimpinan Raja Negeri Oma Eduard Pattiata dengan membuat laporan dugaan korupsi ADD DD Negeri Oma gagal total alias gatot.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, hasil monitoring dan evaluasi (Monev) yang dilakukan pihak Inspektorat Pusat tidak menemukan bukti maupun fakta sesuai laporan kelompok RML.

Sekretaris Negeri Oma, As Wattimena ungkapkan Monev telah dilakukan tim dari Inspektorat Pusat pada bulan Oktober 2023 lalu.

Bapak As Wattimena, Sekretaris Pemerintahan Negeri Oma, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

“Ia, Inspektorat Pusat dari Jakarta telah melak

ukan Monev terhadap laporan RML pada bulan Oktober tahun 2023 lalu. Hasilnya, tidak ada temuan. Fakta lapangan ternyata jauh berbeda dengan laporan mereka (RML),” ungkap Wattimena kepada media ini Jumat (22/2/2024)

Ia jelaskan, setelah selesai Monev, tim inspektorat menyampaikan hasil pemeriksaan kepada tim pelapor (RML) bahwa tidak ada temuan sesuai dengan laporan tujuh orang pelapor.

Tujuh warga yang tergabung dalam kelompok RML ini antara lain Prokseyn Hetharia alias Porry, Johan Pattinama, Adolop Pattinama, Markus  Suripatty, Benjamin Suripatty, Rony Manusia dan Zeth Pattikawa.

Adapun point-point yang menjadi pokok laporan kelompok RML ini antara lain pertama, mereka menuding pemerintah Negeri Oma tidak transparan dalam mengelola Dana Desa.

Kedua, RML menuding pembuatan miniatur patung Liberty di pantai Negeri Oma, Penginapan serta fasilitas penahan ombak depan pantai Negeri Oma menggunakan Dana Desa.

Ketiga, RML menyoroti seorang wanita lansia ibu Juliana Hetharia/Haumahu (92 tahun) yang tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah Negeri.

Keempat, RML menyoroti program fisik jembatan air yang menurut mereka menggunakan pipa bekas.

Point kelima, harta kekayaan Raja Negeri Oma Eduard Pattiata yang mereka duga naik pesat menjadi bagian dalam laporan mereka.

Mereka curiga dengan sejumlah aset yang diduga milik Raja Negeri Oma antara lain speed boat, motor ojek serta bangunan rumah berlantai 2.

Point ke enam, RML juga menyoroti soal distribusi air bersih yang tidak merata ke masyarakat.

Porry Hetharia, salah satu kelompok RML yang melaporkan dugaan korupsi ADD DD Negeri Oma.

Terhadap laporan RML ini, Sekretaris Negeri Oma beberkan telah dilakukan  Monev oleh inspektorat pusat.

“Hasil Monev bahwa Inspektorat menilai pemerintah Negeri Oma sudah transparan soal pengelolaan dana desa dimana setiap akhir tahun ada rapat negeri, disertai pemasangan baliho transparansi,” bebernya.

Untuk point kedua, hasil Monev bahwa laporan tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Karena semua proses pembangunan pembuatan miniatur patung Liberty di pantai Negeri Oma, Penginapan serta fasilitas penahan ombak depan pantai Negeri Oma semua anggaran itu berasal dari dana pribadi.

Untuk point ketiga, hasil monev ternyata ibu Juliana Hetharia/Haumahu adalah salah satu penerima BLT tahun 2021 dan bantuan itu biasa diambil oleh Daniel Kaihatu dan selanjutnya diserahkan  ke ibu tersebut.

Untuk laporan point keempat, soal fisik jembatan air. Hasil Monev bahwa DD tahun 2022, proyek tersebut merupakan pekerjaan padat karya tunai. Dimana anggaran sebesar Rp. 64.000.000,- tidak semua untuk material fisik jembatan tetapi dibagi juga untuk upah pekerja.

Dengan demikian, dirasakan nominal anggaran tersebut sangat minim dalam pembelanjaan material. Pasalnya kondisi jembatan tersebut sudah  terkikis air laut. Selain itu, anggaran tersebut juga digunakan untuk pembuatan talud penahan tanah.

Soal laporan point kelima, hasil Monev membuktikan bahwa speed boat, motor ojek serta a rumah dua lantai yang dituding RML merupakan milik pribadi Eduard Pattiata ternyata tidak benar. Karena seluruh barang-barang tersebut merupakan milik keluarga Eduard Pattiata, bukan milik pribadinya.

“Hal ini dibuktikan dengan kuitansi-kuitansi pembelian barang tersebut,” terang Wattimena.

Untuk laporan point enam soal tidak meratanya pembagian air bersih ke masyarakat, Wattimena tegaskan hasil Monev lapangan ternyata justru masyarakat sangat berlimpah ruah dengan air bersih.

Wattimena katakan pula bahwa terhadap laporan  kelompok RML dengan motor gerak Prokseyn Hetharia alias Porry, bisa menjadi laporan balik karena dianggap sudah menuduh.

Parahnya lagi, setelah dilakukan kroscek data kependudukan Porry Hetharia, ternyata identitas kependudukan menunjukan Porry Hetharia bukan penduduk Negeri Oma.

Terhadap tuduhan ini, Raja Negeri Oma Eduard Pattiata mengapresiasi baik tindakan kelompok RML. Ia bersyukur karena masih ada sejumlah warganya yang mengambil posisi sebagai sosial kontrol dalam kepemimpinannya.

“Iya, saya dapat informasi ada beberapa warga yang melaporkan saya ke kejaksaan. Mereka menuduh saya telah melakukan korupsi dana ADD DD. Saya apresiasi saja tindakan mereka. Anggaplah ini bagian dari sosial kontrol,” ujar Pattiata.

Walaupun memberikan apresiasi, Pattiata berharap tuduhan kelompok RML harus memiliki bukti yang kuat. Pasalnya tindakan mereka dinilai telah mencemari nama baik pribadi serta keluarga besar Raja Negeri Oma Eduard Pattiata.

Padahal, sejak memimpin Negeri Oma dari tahun 2020 lalu, Pattiata selalu berupaya maksimal membangun Negeri  yang berteung Leparissa Leamahu ini. Pembangunan negeri juga dilakukan dengan melibatkan seluruh potensi negeri.

Karena itu, ia merasa ada yang janggal dengan pelaporan RML. Ia menduga RML dimotori salah satu warganya Porry Hetharia yang kepentingan pribadinya tidak dipenuhi raja Negeri Oma.

“Semoga laporan mereka terbukti. Jika tidak terbukti, maka saya pasti akan mengambil langkah hukum untuk memulihkan harkat serta martabat pribadi dan keluarga besar saya,” tandasnya.

Terkait miniatur Patung Liberty, sudah diresmikan langsung oleh Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail pada Sabtu (25/11/2023) lalu. Ini menjadi salah satu spot wisata unggulan di Negeri Oma dan Pulau Haruku.

Diketahui, Miniatur Patung Liberty di Negeri Oma ini setinggi sekitar tujuh meter. Monumen dibangun masyarakat setempat sebagai simbol kemajuan negeri.

Patung ini berdiri tak jauh dari dermaga, sehingga langsung terlihat saat melintas di perairan sekitar negeri ini.

Di Negeri Oma sendiri, terdapat beragam objek wisata alam yang menjanjikan kunjungan wisata, seperti Air Panas Sila dan Mata Air Asol, di samping objek wisata bahari lainnya. (IMRAN)

Pos terkait