Pedagang Eks Gedung Putih Ngamuk, Diduga Ada Praktek Monopoli Kios Pasar Baru Mardika

Pedagang Eks Gedung Putih Ngamuk, Diduga Ada Praktek Monopoli Kios Pasar Baru Mardika
Para pedagang eks gedung putih sempat bersitegang dengan dua anggota TNI di kawasan Pasar Baru Mardika,

Kabartoday, AMBON – Puluhan pedagang eks gedung putih Ambon mengamuk di gedung baru pasar Mardika Ambon. Mereka meluapkan emosi karena tak tahan melihat dugaan praktek curang dimana ada satu pedagang bisa memiliki ruang kios lebih dari lima unit. Sementara masih ada 300 lebih pedagang eks gedung putih yang hingga kini belum juga mendapatkan ruang kios.

Puluhan pedagang meluapkan emosi mereka dengan mencoba menutup kios jualan handphone di lantai 4 Pasar Baru Mardika, Rabu (3/7/2024). Mereka mensinyalir pemilik kios dengan inisial BK memiliki sekitar 8 kios. Seluruh kios itu digunakan berjualan handphone dan asesorisnya.

Bacaan Lainnya

Puluhan pedagang ini terpaksa mengamuk karena selama ini perjuangan mereka mendapatkan kios jualan belum berhasil. Padahal, mereka ini harus mendapat prioritas karena sebelumnya mereka adalah pedagang lama yang menempati eks gedung putih yang kemudian di revitalisasi menjadi Pasar Baru Mardika.

Terlihat puluhan pedagang wanita ikut “ngamuk” menuntut hak mereka untuk bisa mendapatkan kios.

Para pedagang kecewa karena selama ini mereka hanya menelan janji kosong dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

Saat hendak menutup kios yang diduga dimonopoli pedagang berinisial BK ini, para pedagang sempat bersitegang dengan security serta dua oknum TNI dari Kodim 1504/Ambon.

Security dan dua anggota TNI ini berupaya menghalangi amukan para pedagang dan mencegah penutupan kios.

Beruntung dalam aksi ini para pedagang tidak anarkis. Mereka ngamuk ini untuk meluapkan emosi karena selalu menelan janji manis dari pemerintah yang hingga kini hanya ibarat pepesan kosong saja.

Ismail Marasabessy mewakili para pedagang katakan aksi ini sebagai bentuk luapan keresahan karena dulunya mereka berdagang di ele gedung putih, namun saat gedung baru ini beroperasi, hingga kini mereka belum juga mendapatkan kios jualan.

Ismail Marasabessy,SH perwakilan pedagang eks gedung putih Mardika Ambon.

“Kami para pedagang resah, karena saat awal pendataan pedagang untuk dialokasi pada gedung baru, nama kota semua ada, tetapi saat gedung baru beroperasi kok banyak nama pedagang hilang,” ungkap Ismail.

Naifnya ujar pengacara muda ini bahwa saat ini di lantai 4 gedung baru ada sejumlah pedagang yang memiliki kios lebih dari satu unit.

“Bahkan dari data yang berhasil kami himpun, ada pedagang yang memiliki kios lebih dari 5 unit bahkan hingga 8 unit. Ini yang kami pertanyakan bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan kios lebih dari 5 unit ini. Dan itu dimiliki oleh Bung Karman,” tukas Ismail.

Ia akui, dulu BK juga merupakan pedagang di Gedung Putih, tetapi tidak memiliki kios hingga delapan unit. Tetapi anehnya saat gedung baru, BK bisa mendapatkan 8 unit ruang kios. Bahkan lokasi kios-kios BK ini saling berdampingan dan berada pada lokasi yang strategis.

“Sedangkan ada pedagang yang dulu punya tempat bagian depan atau lokasi strategis, hingga saat ini belum juga mendapatkan kios untuk berjualan. Ini merupakan bentuk ketidakadilan pemerintah kepada kami para pedagang,” tandas Ismail.

Ia juga mencontohkan keluarganya dulu memiliki 3 unit kios di eks gedung putih, namun saat gedung baru ini, mereka hanya mendapatkan 1 unit. Itu pun lokasinya di pojok belakang.

“Dulu saya punya satu unit, kakak perempuan punya satu unit dan sepupu saya juga punya satu unit. Tetapi saat gedung baru kita hanya dapat satu unit dari awalnya harus 3 unit,” bebernya.

Masih banyak pedagang yang dulu punya unit kios untuk berjualan, namun hingga kini mereka belum juga punya tempat.

“Sungguh kasihan sekali nasib kami para pedagang. Selalu diberikan janji palsu oleh pemerintah,” lirihnya.

Ia tegaskan, saat ini yang dihadapi oleh para pedagang adalah soal piring makan, soal perut. Olehnya itu ia berharap ada keadilan dari pemerintah kepada para pedagang eks gedung putih.

“Saya tegaskan ini soal piring makan. Siapa pun akan kita lawan. Jangankan kepala dinas, gubernur pun akan kita lawan soal ketidakadilan ini. Olehnya itu, saya berharap ada perhatian serius dari para pemangku kepentingan terhadap persoalan para pedagang yang hingga kini belum juga mendapatkan kios untuk berjualan,” tandas Ismail.

Terhadap kepemilikan lebih dari lima unit kios oleh BK, advokat muda ini menduga ada praktek kotor dari oknum-oknum tertentu di Dinas Perindag Maluku yang memuluskan jalan hingga BK berhasil memiliki lebih dari lima kios.

Ia katakan, para pedagang butuh penyerahan dimana seluruh pedagang yang dulu berdagang di eks gedung putih, seluruhnya wajib mendapatkan kios jualan.

“Bila harapan kami para pedagang tidak digubris pemerintah, saya tegaskan jangan sampai gedung ini kita segel. Sekali lagi saya tegaskan kepada penjabat gubernur dan jajarannya, bila para pedagang tidak diberikan haknya, yakin dan percaya gedung ini pasti kita segel,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Ikatan Pedagang Pasar Mardika Ambon (IPPMA) La Ali yang mempertanyakan pernyataan Kepada Dinas Perindag Provinsi Maluku yang mengatakan bahwa seluruh pedagang eks Gedung Putih sudah tercover.

Bapak La Ali, Sekretaris IPPMA

“Faktanya banyak yang masih belum mendapatkan kios jualan. Bahkan bisa sampai 50 persen atau setengah yang belum mendapatkan haknya berupa kepemilikan unit kios jualan di Pasar Baru ini,” ungkap La Ali.

Ia katakan, para pedagang menagih janji Kadis Perindag Maluku. Beberapa kali pedagang menyambangi kantor Disperindag untuk menemui Kadis, namun juga tidak berhasil.

La Ali tegaskan bahwa seluruh pedagang eks gedung putih harus dikembalikan ke gedung putih juga atau pasar baru saat ini.

Ia juga mempertanyakan banyaknya pedagang yang bukan eks gedung putih tetapi malahan telah mendapatkan kios untuk berjualan. Bahkan presentasi pedagang yang bukan eks gedung putih yang berjualan di pasar baru ini lebih dari 50 persen.

Ibu Pia, salah satu pengurus IPPMA juga mempertanyakan janji pemerintah kepada para pedagang eks gedung putih sebelum di relokasi untuk kepentingan pembangunan pasar baru.

Ibu Pia, pengurus IPPMA

“Sebelum kita direlokasi, tahun 2019 lalu untuk kepentingan pembangunan pasar baru ini, sudah ada komitmen dari Kementrian PUPR, Bappenas dan Kementrian perdagangan bahwa seluruh pedagang eks gedung putih harus dikembalikan ke pasar baru,” ujar Pia.

Namun naifnya, saat gedung baru jadi dan beroperasional ternyata banyak pedagang eks gedung putih namanya hilang. Padahal, seluruh pedagang eks gedung putih ini punya data lengkap, terverifikasi secara by name by address.

Bahkan menurut Pia, DPRD Provinsi Maluku telah membentuk Pansus dengan ketua Richard Rahakbauw dimana salah satu tujuannya mengawal seluruh pedagang eks Gedung Putih harus diprioritaskan terlebih dahulu masuk pasar baru, sebelum pedagang lain.

“Alokasi gedung ini bisa untuk lebih dari 2000 pedagang sementara eks gedung putih tidak sampai seribu. Harusnya tempatkan dulu pedagang eks gedung putih baru di susul pedagang yang bukan eks gedung putih. Karena kita ini dulu asli pedagang eks gedung putih,” tandas Pia.

Pantauan media ini di lokasi Pasar baru Mardika, masih banyak ruang kios yang masih tertutup dan belum beroperasi.

Hal ini mengundang tanya para pedagang yang belum mendapatkan kios jualan, sementara pilihan kios masih belum digunakan.

Para pedagang berharap bila kios ini tidak dimanfaatkan pemiliknya, lebih baik dialihkan ke pedagang eks gedung putih yang hingga sekarang belum mendapatkan haknya. (IMRAN)

Pos terkait