Pengaruh Nilai-nilai Keislaman terhadap Kesehatan Mental

DEPOKPOS – Peran penting agama, khususnya Islam, dalam konteks kehidupan dan kesehatan mental. Agama memberikan pedoman moral, nilai-nilai, dan metode-metode psikoterapi yang dapat membantu individu mencapai ketenangan jiwa, kesejahteraan mental, dan pengembangan diri secara optimal. Praktik-praktik agama, seperti shalat, puasa, ibadah haji, dzikir, dan doa, diidentifikasi sebagai metode psikoterapi yang dapat meredakan kegelisahan, menguatkan ketahanan mental, dan menciptakan ikatan spiritual yang mendalam.

Dalam konteks agama Islam, aspek spiritual memainkan peran kunci dalam membentuk kepribadian dan membawa individu kepada kebahagiaan. Praktik keagamaan bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai bentuk psikoterapi yang membentuk karakter, meningkatkan kesabaran, dan membantu mengatasi tantangan kehidupan. Integrasi dzikir dan doa sebagai komunikasi langsung dengan Allah menjadi sarana untuk meraih ketenangan batin dan keyakinan akan pertolongan-Nya.

Bacaan Lainnya

Penekanan pada dimensi spiritual agama Islam menunjukkan potensi sebagai sumber kekuatan dan dukungan psikologis dalam menjaga kesehatan mental, mengatasi stres, dan mencapai kesejahteraan holistik. Meskipun pendekatan ini dapat bervariasi antar individu, integrasi agama dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan manfaat yang signifikan dalam merawat kesehatan mental dan mencapai kesejahteraan secara menyeluruh.

Agama merupakan suatu konsep yang perlu dipahami dalam konteks maknanya, dan dasar agama tersebut berasal dari aspek kejiwaan yang berupa keyakinan. Oleh karena itu, kekuatan atau kerentanannya tergantung pada sejauh mana keyakinan tersebut memberikan ketentraman bagi jiwa. Agama dapat dianggap sebagai pedoman di mana setiap penganutnya didorong untuk melakukan perbuatan baik. Oleh karena itu, semua individu yang mempercayai agama yang mereka anut cenderung menjalankan prinsip-prinsip yang terdapat dalam ajaran agama tersebut. Hubungan antara agama dan manusia sangat erat, dan ketika manusia menjauh dari nilai-nilai agama, dapat terjadi kekosongan dalam dimensinya.

Individu yang tidak mempraktikkan agama, meskipun kebutuhan materi mereka terpenuhi, dapat mengalami kekurangan secara batiniah, sehingga lebih rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Gangguan jiwa dapat menghantui mereka yang tidak memiliki dasar agama, dan ketika menghadapi tantangan hidup, mereka cenderung merasa putus asa dan mungkin mengambil jalan yang melanggar norma-norma yang berlaku bagi mereka. Sebaliknya, orang yang beragama cenderung melakukan segala sesuatu sesuai dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut. Jika mereka melupakan kewajiban ibadah mereka, mungkin merasa bersalah dan akan mencari solusi dalam ajaran agama saat menghadapi masalah dalam kehidupan mereka (Pujiati, 2018).

Di Indonesia, peran agama memiliki signifikansi besar dalam kehidupan masyarakat. Menurut Abdillah (2013), Indonesia diakui secara filosofis sebagai negara yang mengakui eksistensi agama dalam kehidupan berbangsa. Pemahaman ini juga terwujud dalam pasal 29 ayat 1 serta dalam Sila Pertama Pancasila. Oleh karena itu, dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk dalam konteks kesehatan mental, nilai-nilai agama yang dianut tetap menjadi bagian integral (Andini et al., 2021). Beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang ketenangan dan kebahagiaan adalah Surah An Nahl Ayat 97. Dalam surah tersebut memilki arti “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Kemudian dijelaskan juga dalam Surah Ar Ra’ad Ayat 28 yang memiliki arti “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Masalah kejiwaan yang dihadapi oleh seseorang sering kali mendapat tanggapan negatif dari lingkungannya, disebabkan oleh keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap gangguan jiwa. Tradisi dan budaya yang mengaitkan gangguan jiwa dengan keyakinan lokal menyebabkan sebagian masyarakat enggan menerima penjelasan ilmiah dan lebih memilih mengabaikan perawatan medis dan psikiatri terhadap gangguan jiwa. Perspektif Islam terhadap gangguan jiwa sejalan dengan pandangan umum para ahli kesehatan mental. Artikel ini akan membahas kesehatan mental dari sudut pandang Agama Islam. Ungkapan “kesehatan mental” diadopsi dari konsep mental hygiene. Kata “mental” berasal dari bahasa Yunani dan sebanding dengan “psyche” dalam bahasa Latin yang berarti psikis, jiwa, atau kejiwaan. Jadi, mental hygiene diartikan sebagai dinamika kesehatan mental atau jiwa, bukan kondisi statis, karena mencerminkan upaya peningkatan yang berkelanjutan (Ariadi, 2019).

Suatu fakta yang nyata dalam perkembangan dunia modern adalah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagian hidup manusia. Kesulitan dan bahaya alami yang sebelumnya sulit dan menghambat hubungan sosial, saat ini tidak lagi menjadi tantangan. Kemajuan industri telah menciptakan alat-alat yang mempermudah kehidupan dan memberikan kesenangan, sehingga kebutuhan jasmani tidak lagi sulit dipenuhi. Seharusnya, kemajuan ini diharapkan membawa lebih banyak kebahagian bagi manusia. Namun, kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa kebahagian justru semakin menjauh, kehidupan menjadi lebih sulit, dan kesulitan material digantikan oleh kesulitan mental atau beban jiwa yang semakin berat. Kegelisahan, ketenangan yang terganggu, dan tekanan emosional lebih sering dirasakan, sehingga mengurangi tingkat kebahagian (Daradjat, 1990).

Kebutuhan dasar berubah menjadi kebutuhan sekunder, tetapi justru kebutuhan sekunder yang mendominasi. Dampak dari peningkatan kebutuhan ini pada masyarakat modern membuat mereka selalu berpacu dengan waktu, mengejar benda, dan mencari prestise dalam kehidupan mereka. Semua ini mengarah pada kehidupan yang mirip dengan mesin, tanpa istirahat dan ketenangan, diwarnai oleh ketegangan emosional karena dorongan untuk menghindari perasaan tertekan jika tidak dapat mencapai semua yang dianggap memberikan kegembiraan. Konsekuensi lebih lanjut adalah munculnya kegelisahan yang mengurangi kemampuan untuk merasakan kebahagiaan dalam hidup. Dari sinilah seseorang semakin merasa terpisah dari kegembiraan dan kebahagiaan, karena ketegangan dan kegelisahan batin yang selalu menghantuinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan dalam pola hidup sosialnya dapat muncul sebagai respons terhadap kondisi ini (Pujiati, 2018).

Metode yang diterapkan dalam artikel ini adalah studi pustaka, yang mencakup tinjauan terhadap teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang dibahas. Metode studi pustaka adalah pendekatan dalam penelitian yang melibatkan pencarian, analisis, dan sintesis literatur atau referensi yang berkaitan dengan topik penelitian tertentu. Tujuan dari metode studi pustaka adalah untuk mengumpulkan informasi terkini dan relevan yang telah diterbitkan dalam literatur ilmiah, buku, jurnal, dan sumber-sumber lainnya yang terkait dengan subjek penelitian. Fokus masalah dalam artikel ini adalah untuk menyelidiki ” Pengaruh Nilai-Nilai Keislaman Terhadap Kesejahteraan Mental ” Bagian ini mengevaluasi konsep dan teori yang relevan dengan memanfaatkan literatur yang telah dipublikasikan, terutama artikel-artikel yang terdapat dalam berbagai jurnal ilmiah. Studi kepustakaan berfungsi sebagai fondasi utama dalam membangun kerangka konsep atau teori dalam artikel ini. Kegiatan studi literatur, atau sering disebut studi pustaka, merupakan langkah yang penting dalam berbagai jenis penelitian, terutama dalam konteks penelitian akademis yang bertujuan untuk mengembangkan aspek teoritis dan manfaat praktis. Dengan mengadopsi metode ini, penulis mampu mengatasi tantangan penelitian secara efisien. Sumber-sumber yang dimanfaatkan melibatkan buku teks, jurnal ilmiah, referensi statistik, dan hasil-hasil penelitian seperti skripsi, tesis, dan disertasi, termasuk juga sumber-sumber lain yang relevan, seperti internet.

Agama memegang peran krusial dalam kehidupan, dan memiliki dampak besar pada pembangunan mental seseorang. Agama memberikan pedoman dan petunjuk yang diperlukan oleh individu sebagai syarat-syarat untuk menciptakan kesehatan mental yang optimal. Kesehatan mental itu sendiri merujuk pada pengetahuan dan tindakan yang bertujuan untuk mengembangkan serta memanfaatkan semua potensi, bakat, dan sifat bawaan sebaik mungkin. Hal ini bertujuan untuk mencapai kebahagiaan pribadi dan orang lain, serta menjauhkan diri dari gangguan dan penyakit jiwa (Pujiati, 2018).

Konsep kesehatan mental atau dalam konteks kedokteran Islam yang dikenal sebagai al-tibb al-ruhani, pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter asal Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi (850-934). Dalam karyanya yang berjudul “Masalih al-Abdan wa al-Anfus” (Manfaat bagi Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil mengaitkan hubungan antara penyakit tubuh dan jiwa. Ia sering menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk merujuk pada kesehatan spiritual dan psikologi. Sementara itu, untuk menggambarkan kesehatan mental, ia sering menggunakan istilah Tibb al-Qalb.

Kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersumber dari internal maupun eksternal. Faktor internal melibatkan aspek-aspek yang berasal dari dalam diri individu, seperti sifat, bakat, keturunan, dan sebagainya. Sementara itu, faktor eksternal mencakup elemen-elemen yang berada di luar individu, seperti lingkungan dan keluarga. Faktor luar lain yang juga memainkan peran termasuk hukum, politik, sosial budaya, agama, pekerjaan, dan lain sebagainya. Faktor eksternal yang positif dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental seseorang, sedangkan faktor eksternal yang buruk atau tidak mendukung dapat berpotensi menyebabkan ketidaksehatan mental. Karakteristik ini mencerminkan kompleksitas pengaruh berbagai faktor terhadap kesejahteraan mental individu.

Kesehatan mental tidak hanya terkait dengan keadaan individu yang memiliki kejiwaan yang sehat, melainkan juga memiliki keterkaitan erat dengan seluruh eksistensi manusia. Kemampuan individu untuk menghadapi realitas kehidupan dan berfungsi secara optimal dalam masyarakat menunjukkan adanya konsep kesehatan mental yang positif (Ramayulis, 2002). Kualitas dan kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, kesehatan, dan keragaman yang dimilikinya. Ketiga faktor tersebut memiliki dampak yang signifikan dalam semua aspek dan aktivitas kehidupan manusia, serta menentukan kualitas hidupnya. Dalam konteks ini, seseorang yang memiliki kesehatan mental baik, baik secara fisik maupun psikis, dapat mewujudkan dan mengembangkan potensi-potensinya dengan seoptimal mungkin (Jaya, 2002).

Agama nampaknya merupakan bagian integral dari kehidupan manusia dan sulit dipisahkan. Penolakan manusia terhadap agama dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersumber dari kepribadian individu maupun pengaruh lingkungan tempat mereka berada. Meskipun mungkin sulit untuk menutupi atau menghilangkan sepenuhnya dorongan dan rasa keagamaan, hal ini dikarenakan adanya unsur batin dalam diri manusia yang mendorongnya untuk tunduk kepada Zat yang gaib. Ketaatan ini merupakan bagian dari faktor internal manusia dalam psikologi kepribadian, yang disebut sebagai pribadi (self) atau hati nurani (conscience of man). Fitrah manusia sebagai ciptaan Allah SWT menyiratkan naluri beragama, yaitu agama tauhid. Jika ada manusia yang tidak menganut agama tauhid, hal itu dianggap tidak wajar, dan kecenderungan untuk tidak beragama tauhid mungkin disebabkan oleh pengaruh lingkungan, seperti yang dijelaskan dalam QS Ar-Rum 30:30, yang menyatakan bahwa manusia seharusnya menghadapkan wajahnya dengan lurus kepada agama Allah, sesuai dengan fitrah ciptaan Allah yang menciptakan manusia dengan naluri beragama tauhid.

Ajaran Islam mengajarkan nilai-nilai ketakwaan dan contoh perilaku yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam memberikan petunjuk kepada akal untuk berpikir yang benar melalui panduan wahyu dari kitab suci Al-Qur’an al-Karim. Panduan ajaran Islam menegaskan kewajiban bagi manusia untuk menjalin hubungan yang baik dengan Allah Swt, sesama manusia, serta dengan alam dan lingkungan sekitar. Peran agama Islam membantu individu dalam menyembuhkan jiwa dan mencegah gangguan kejiwaan, serta membina kondisi kesehatan mental. Dengan menghayati dan menerapkan ajaran Islam, manusia dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.

Menurut Quraish Shihab, tujuan utama keberadaan Islam adalah menjaga agama, jiwa, akal, tubuh, harta, dan keturunan agar individu menjadi pribadi yang terarah dengan pendekatan eksternal dan internal. Tiga metode yang menjadi panduan dalam mewujudkan kesehatan mental, sebagaimana ditemukan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, dapat disimpulkan dari panduan yang bersifat umum dan khusus. Tiga metode ini mencakup:

1. Metode Dimensi Spiritual:

Metode ini berperan dalam mencapai ketenangan dan kedamaian jiwa yang sejati. Islam, sejak awal, bertujuan untuk membimbing manusia agar beriman dan menyatukan keyakinan kepada Allah. Tujuannya adalah agar mereka terbebas dari norma dan kepercayaan jahiliyah yang menciptakan kebingungan dan kepercayaan sesat. Pendekatan ini memiliki dampak yang signifikan dalam mengubah karakter individu, sehingga mereka menjadi jiwa yang tidak lagi terbebani oleh kekhawatiran yang sebelumnya sangat mempengaruhi mereka, seperti ketakutan terhadap kematian, kekhawatiran akan kemiskinan, ketakutan terhadap bencana, atau kekhawatiran terhadap manusia lainnya. Dengan memperkuat iman dan tauhid, mereka dapat merasakan ketenangan jiwa yang sejati.

Ketika keyakinan sudah terbentuk dan tujuan hidup terkait dengan Allah, penguatan pada dimensi yang lebih dalam dilakukan melalui pembelajaran terhadap hukum-hukum Islam. Praktik-praktik ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji dianggap sebagai metode pendidikan yang dapat membentuk kepribadian manusia. Melalui pelaksanaan ibadah-ibadah ini, jiwa dibersihkan dan individu diajarkan tentang sifat-sifat terpuji yang membantu mereka bertahan menghadapi realitas kehidupan. Orang yang rutin melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran Islam akan terlatih untuk bersabar dalam menghadapi beban hidup, memperkuat tekad untuk menciptakan rasa kasih sayang, berperilaku baik kepada sesama, serta memberikan dampak positif pada interaksi sosial. Dalam situasi ketika seseorang mengalami tekanan, pengalaman emosional yang negatif, atau konflik batin yang dapat menyebabkan penyakit jiwa, ibadah-ibadah dalam Islam dianggap sebagai bentuk terapi psikologis yang optimal.

a. Psikoterapi Melalui Shalat:

Psikoterapi melalui shalat memiliki dampak yang sangat signifikan sebagai metode untuk mengatasi perasaan galau dan kegelisahan. Dengan melaksanakan shalat secara khusyu, seseorang dapat merasakan ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Rasulullah sendiri sering melakukan shalat ketika menghadapi masalah yang membuatnya gelisah. Hudzaifah RA ia berkata; “Jika Nabi Shallallahu Alaihi Wa’sallam merasa kegundahan karena sesuatu perkara, maka beliau menunaikan shalat” (HR. Abu Dawud). Psikoterapi yang terkandung dalam shalat melibatkan membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bentuk pengobatan yang tidak dapat ditemukan di apotek atau rumah sakit. Oleh karena itu, pentingnya menjalankan ritual shalat untuk menciptakan perasaan tenang dan damai dalam jiwa individu dapat dipahami (Zaini, 2021).

b. Psikoterapi Melalui Puasa:

Dalam pendekatan puasa, terdapat unsur latihan yang mengajarkan seseorang untuk bersabar dalam menghadapi beban kehidupan yang berat, seperti menahan rasa haus dan lapar, mengendalikan amarah, serta menahan diri dari keinginan nafsu lainnya. Dari segi sosial, ketika seseorang menahan lapar dan dahaga, ia dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum fakir miskin yang sering kali tidak mampu mendapatkan makanan. Akibatnya, timbul rasa empati dan kepedulian, mendorong individu yang sedang berpuasa untuk mengasihani saudaranya yang kurang beruntung secara ekonomi. Hal ini dapat menghasilkan tindakan membantu dan berbuat baik kepada orang-orang yang membutuhkan, meningkatkan hubungan sosial mereka. Sensitivitas dan tanggung jawab sosial cenderung mendorong seseorang untuk berbagi, membuatnya merasa sebagai anggota masyarakat yang memberikan manfaat bagi komunitasnya, dan pada akhirnya menciptakan perasaan ketenangan. Al-Quran, dalam surah Al-Baqarah ayat 183, menjelaskan bahwa puasa merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan ketakwaan setiap hamba (Maro, 2021).

c. Psikoterapi Melalui Ibadah Haji:

Metode ibadah haji, termasuk aktivitas seperti thawaf, wukuf, sa’i, dan melempar jumrah, membawa makna yang mendalam. Thawaf dan wukuf di Arafah dijadikan sebagai bentuk meditasi untuk merenungkan perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah SWT dan untuk memahami dengan lebih mendalam hakikat tujuan hidup. Perjalanan antara Shafa dan Marwah mencerminkan perjuangan spiritualitas individu dalam melawan hawa nafsu. Aktivitas melempar Jumrah melambangkan penolakan terhadap sifat-sifat negatif seperti kemunafikan, kedustaan, dan keduniawian. Menjalankan ibadah haji dapat melatih kesabaran, mengembangkan jiwa untuk berjuang, dan membantu dalam pengendalian hawa nafsu. Ibadah haji berperan sebagai terapi untuk mengatasi kesombongan, arogansi, dan rasa bangga diri karena dalam praktik ibadah haji, kedudukan semua manusia dianggap sama. Permohonan ampunan dan suasana yang penuh dengan lantunan ilahi menciptakan atmosfer ibadah haji yang terkait erat dengan nilai-nilai spiritualitas, yang mampu membangkitkan semangat tinggi untuk mencapai ketenangan (Najati & Utsman, 2003).

d. Psikoterapi Melalui Dzikir dan Doa:

Dzikir dan doa, sebagai bentuk ibadah yang mendapatkan perhatian khusus dalam Islam, dapat dianggap sebagai inti dari praktik keagamaan. Melakukan dzikir dapat membawa ketenangan dan kedamaian pada hati dan jiwa. Sementara itu, melalui doa, seorang hamba dapat menyampaikan isi hatinya dan meluapkan perasaan kekhawatiran yang dialaminya, memohon pertolongan kepada Pencipta. Praktik ini membawa efek ketenangan dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan bantuan untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi. Allah berfirman: ”Berdoalah kepada- Ku, niscaya akan Aku Perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang – orang yang sombong tidak mau menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Al-Ghafir: 60). Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penguatan pada dimensi spiritual dilakukan melalui tiga tahap, yaitu menanamkan iman dan tauhid untuk mengarahkan tujuan hidup dan melaksanakan ibadah sesuai aturan agama. Jika ketiga tahapan ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka kepribadian yang kokoh akan terbentuk, dan pada akhirnya, individu akan mencapai kebahagiaan dan kesehatan mental, bahkan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal (Andini et al., 2021).

Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa dalam konteks kehidupan dan kesehatan mental, agama, khususnya Islam, memiliki peran penting. Agama memberikan pedoman moral, nilai-nilai, dan metode-metode psikoterapi yang dapat membantu individu mencapai ketenangan jiwa, kesejahteraan mental, dan pengembangan diri secara optimal. Beberapa metode psikoterapi melalui praktik agama Islam, seperti shalat, puasa, ibadah haji, dzikir, dan doa, dapat menjadi sarana untuk meredakan kegelisahan, menguatkan ketahanan mental, dan menciptakan ikatan spiritual yang mendalam.

Dalam konteks agama Islam, aspek spiritual memiliki dampak signifikan dalam membentuk kepribadian dan membawa individu kepada kebahagiaan. Praktik-praktik keagamaan seperti shalat, puasa, dan ibadah haji bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai bentuk psikoterapi yang dapat membentuk karakter, meningkatkan kesabaran, dan membantu mengatasi tantangan kehidupan. Dzikir dan doa, sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah, juga menjadi sarana untuk meraih ketenangan batin dan keyakinan akan pertolongan-Nya.

Dengan demikian, integrasi agama dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan manfaat besar dalam menjaga kesehatan mental, mengatasi stres, dan mencapai kesejahteraan holistik. Meskipun pendekatan ini dapat bervariasi antar individu, penekanan pada dimensi spiritual agama Islam menunjukkan potensi sebagai sumber kekuatan dan dukungan psikologis.

Nadhifa Azalia, Hasna Fadhilah Khoerunisa
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyaah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait