Rajab, Bulan untuk Mewujudkan Persatuan Umat

DEPOK – Mubalighah Widiani Suryaningsih mengatakan agar menjadikan Rajab sebagai bulan untuk mewujudkan kembali persatuan umat dalam satu kepemimpinan yakni Khilafah.

“Jadikan bulan Rajab untuk mewujudkan kembali persatuan umat dalam satu kepemimpinan di bawah naungan Khilafah agar hukum sya’ra diterapkan secara menyeluruh,” ungkapnya dalam forum Kajian Keluarga Sakinah: Rajab, Momentum Kejayaan Islam,(21/01/2024) di Masjid Al-Huda, Depok.

Menurutnya, banyak momentum penting yang terjadi pada Bulan Rajab. “Di antaranya peristiwa hijrahnya kaum Muslimin ke Habasyah (Ethiopia) untuk pertama kalinya, perpindahan kiblat kaum Muslimin dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, lalu peristiwa Isra Mi’raj, pembebasan Masjid Al-Aqsha, sampai runtuhnya Kekhilafahan Ustmani di Turki oleh Mustafa Kemal Attaturk bersama Inggris dan Perancis. Alhasil institusi pemerintah Islam yang menerapkan syariat secara kaffah untuk kemudian digantikan dengan hukum buatan manusia,”bebernya di hadapan sekitar 140 peserta se-Depok.

Tambahnya, begitu banyak prestasi yang ditorehkan umat Islam di bulan Rajab. Hal tersebut bisa terjadi karena keberadaan daulah (negara) Islam yang berfungsi sebagai ra’iin (pengurus) dan junnah (perisai). Para ulama telah bersepakat dan menggariskan bahwa khilafah adalah wajib hukumnya sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya semisal shalat fardu.

“Namun saat ini umat dibuat lupa akan kegemilangan dan kemasyhuran peradaban Islam yang sangat luar biasa, bahkan khilafah dan jihad dianggap tidak lagi relevan saat ini. Padahal Rasulullah SAW telah mencontohkannya, dilanjutkan oleh para sahabat dan para Khalifah setelahnya,” jelasnya.

Runtuhnya kekhilafahan di Turki tambahnya, menjadi sebab berbagai persoalan mulai dari penindasan, penjajahan, dan penistaan yang terus menerus menimpa kaum Muslimin hingga kini. Kita lihat bagaimana saudara Muslim kita di Palestina, Uyghur, etnis Rohingya dan berbagai persoalan yang terjadi di negeri kita. Semua itu dikarenakan umat Islam saat ini hidup tanpa adanya pengurus dan perisai, ibarat ikan air tawar yang dimasukkan ke air laut megap-megap jadinya.

“Maka dari itu perkara penegakan kembali syariat Allah dalam satu kepemimpinan umat Islam penting dan wajib diupayakan agar berbagai persoalan umat mampu teratasi, Mengapa? Karena hanya khilafah seluruh hukum-hukum sya’ra akan diterapkan secara sempurna. Satu kepemimpinan untuk seluruh umat manusia, sehingga tidak ada lagi batas wilayah maupun nation state yang jadi penghalang ketidakmampuan kita menolong kaum Muslimin di Palestina, Uyghur, Rohingya dan negeri-negeri lainnya yang terjadi konflik,” paparnya.

Ia juga mengutip surah Thaha ayat 124, yang didalamnya dengan jelas mengatakan ketika hukum-hukum Allah ditinggalkan, maka persoalan demi persoalan akan terjadi dan datang silih berganti. Dalam mewujudkannya memang bukan perkara mudah, namun Rasulullah SAW telah mencontohkannya dan kita tinggal mengikutinya saja, apa yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan tinggal sami’na wa attha’ na.

“Oleh karenanya mari kita sama-sama berjuang sekuat tenaga melakukan dakwah dengan menyampaikan Islam agar syariat Allah bisa tegak kembali sehingga seluruh persoalan kaum Muslimin bisa teratasi dengan adanya junnah tadi,” pungkasnya. [] Sari Liswantini

Pos terkait