Sejarah Candi Pari dan Joko Pandeglang

DEPOKPOS — Candi Pari adalah salah satu candi peninggalan Majapahit yang berlokasi di Desa Candipari, Kec. Porong, Jawa Timur. Bangunan persegi empat dari batu bata ini didirikan pada masa kepemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) dan ditemukan pada tahun 1906. Sempat di renovasi selama 5 tahun, dari tahun 1994-1999.

Sebelum terbentuk menjadi candi, Candi Pari dulunya adalah sebuah lumbung padi yang dimiliki oleh dua pasang suami istri. Salah satunya adalah Joko Pandeglang dan istrinya, Nyai Roro Walangangin. Ia dan istrinya berjasa pada kerajaan Majapahit, karena ketika Majapahit gagal panen, mereka meminta supply kepada sepasang kekasih itu. Hingga suatu ketika, Raja Hayam Wuruk memberi perintah kepada prajurit Majapahit untuk menangkap sepasang suami istri ini. Sebelum penangkapan terjadi, Joko Pandeglang sempat meminta izin untuk masuk ke lumbung padi, sedangkan istrinya meminta izin untuk mengambil air di sumur. Kesempatan itu digunakan oleh mereka untuk melarikan diri dan tidak pernah kembali, Joko Pandeglang dianggap menghilang di tengah lumbung padinya dan istrinya menghilang di sekitar sumur tempat ia mengambil air. Jadi sebagai tanda hilangnya sepasang suami istri ini, Raja Hayam Wuruk membangun dua buah candi sebagai representasi hilangnya Joko Pandeglang dan istrinya, yakni Candi Pari dan Candi Sumur

Selain menjadi tempat sembahyang umat Hindu, Candi Pari juga di fungsionalkan sebagai tempat wisata, dan juga sebagai sarana edukasi untuk anak-anak sekolah. Jadi tidak hanya menikmati keindahan dari Candi Pari, pengunjung juga dapat mempelajari sejarah dibalik berdirinya Candi Pari serta sejarah Majapahit pada masa kepemerintahan Raja Hayam Wuruk. Kurang lebih 1000 pengunjung tiap bulannya mendatangi Candi Pari, baik warga lokal desa Candipari maupun pendatang dari luar Sidoarjo. Untuk kondisi Konversi Candi Pari sendiri masih dipantau oleh Tim BPK Wilayah XI Jawa Timur.

“Menurut saya, keunikan dari Candi Pari adalah dari segi bangunannya, Mbak. Candi pari adalah peninggalan Majapahit, tapi dari segi bangunan tidak menunjukkan ciri khas Majapahit. Karena ketika pembangunan bangunan ini, terpengaruhi dari gaya bangunan Champa atau yang sekarang menjadi Kamboja. Ketika pembangunan Candi Pari ini, di Champa sedang ada perang saudara, banyak penguji Champa yang diberi lokasi pengujian disini, jadi mungkin sebagai rasa terima kasih mereka ikut membangun Candi Pari. Mangkannya Candi Pari tidak ada relief, bentuknya berbeda dari candi majapahit yang lainnya yang ada di Trowulan.” Ucap bapak Saroni selaku juru pelihara Candi Pari.

Oleh : Sava Shayna Jasmine – prodi Film dan Televisi Instit Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Pos terkait