Strategi Mewujudkan Keluarga Sakinah

DEPOKPOS – Memiliki teman seumur hidup adalah langkah pertama menuju pernikahan. Beberapa hal mendorong seseorang ketika menentukan kriteria untuk memilih pasangan hidup. Ada banyak pemilih dalam menentukan pasangan hidup, seperti berat badan, dan anda harus konsisten dengan situasi anda saat ini. Itulah yang dirasakan oleh salah satu generasi, yaitu generasi milenial (Diniya, 2023).

Peneliti ahli demografi bernama William Straus dan Neil Howe, pernah mengemukakan Generasi Milenial. Generasi Milenial adalah suatu dimana kondisi perkembangan dan pertumbuhan kehidupannya oleh keadaan lingkungan, yang dimana dapat terjadi perubahan yang sangat cepat. Apalagi kalangan masyarakat sering terdengar asing dengan istilah ‘Generasi Milenial’, dikarenakan generasi milenial ini dapat merespon kebutuhannya dengan mengikuti pemanfaatan teknologi digital.

Bacaan Lainnya

Sedangkan menurut (Arifin, 2020) Generasi Milenial adalah komunitas yang tak terpisahkan dari dunia maya. Semua upaya untuk memenuhi kebutuhan mereka sangat bergantung pada dunia internet. Pada usia ini, sebagian besar interaksi manusia dapat dilakukan di rumah. Milenial juga dikenal sebagai Generasi Y, yang lahir antara tahun 1981-1996.

Perubahan milenial diawali dengan adaptasi terhadap perubahan teknologi digital. Dengan adanya pergeseran generasi dan perubahan teknologi baru, generasi baby boomer dan Gen X menjadi kewalahan. Hal ini disebabkan adanya pergeseran perilaku generasi milenial yang berbeda dengan cara generasi sebelumnya dibesarkan (Faiza, 2018).

Melalui perubahan generasi tersebut, generasi milenial juga bisa membawa perubahan yang mengejutkan, bahkan mayoritas kelompok usia produktif di Indonesia adalah generasi milenial. Penggerak perubahan pada masa depan.

Di negara yang mulai berkembang ini, dicirikan oleh kehadiran tren model keluarga kecil. Tidak mengherankan bahwa pada akhir rezim orde baru, ada kecenderungan untuk “Dua Anak Cukup” dan “Norma Keluarga kecil Bahagia dan Sejahtera” (NKKBS). Dalam konteks ke-Indonesiaan karena munculnya istilah ini, Indonesia mampu memastikan kesejahteraan keluarga sakinah. Di negara berkembang, lalu kualitas generasi harus dipertimbangkan.

Keluarga sakinah adalah dambaan setiap orang yang ingin mempunyai keluarga. Karena keluarga Sakinah membawa penguhinya demi apa yang diimpikan setiap umat muslim, yaitu keridhaan Allah SWT, yang artinya masuk surganya Allah dan jauh dari nerakanya (Maftuh, 2008).

Keluarga terdiri dari dua suku kata: keluarga dan sakinah. Keluarga adalah elemen terkecil dalam masyarakat, dengan setidaknya beberapa pasangan sebagai sumber utama dan anak-anak yang lahir dari mereka, Semisal ada anak atau tidak ada anak jika hanya sepasang suami istri tetap disebut sebagai keluarga (Derpatemen Agama, 2005). Sedangkan dalam KBBI, kata Sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan. Sakinah berasal dari kata “Sakana Yaskunu Sakinatan” yang berarti kedamaian, ketenangan dan rasa aman (Poewadarminto, 1976).

Konsep keluarga Sakinah harus mempertimbangkan kualitas ekonomi dan pendidikan setiap anggota keluarga untuk menahan kemungkinan pada perubahan dalam masyarakat, apalagi persaingan dalam perdagangan bebas. Maka dari itu, keluarga sakinah bukan hanya berhubungan dengan keluarga yang taat agama. Namun yang tidak meninggalkan generasi yang lemah dan tidak memiliki daya saing. Oleh karena itu, penting bagi anggota keluarga untuk dapat berkomunikasi dengan baik untuk membangun keluarga yang sakinah.

Artinya, keluarga sakinah tidak terbentuk sejak awal perkawinan, atau tiba-tiba ketika harta benda berlimpah, adanya pasangan yang menarik, atau prestasi gemilang yang diraih. Namun, dapat dikatakan pada usia 30, 40, dan 50 tahun setelah menikah, keluarga tersebut bisa dibilang memperoleh gelar keluarga sakinah. Semakin lama perkawinan dilangsungkan maka semakin berharga keluarga sakinah sebagai panutan (Mubarok, 2014). Banyak diberitakan tentang keluarga sakinah di media, namun pada akhirnya mereka gagal dan berpisah karena masalah memalukan yang mereka timbulkan sendiri. Sebutan “Keluarga Sakinah” kurang cocok untuk pasangan muda, mengingat luasnya cakupan kehidupan yang belum teruji.

(Rahman, 2010) Dengan demikian hal yang perlu diketahui adalah konsep tentang Keluarga Sakinah yang akan mereka bentuk. Secara umum Keluarga Sakinah akan terbentuk apabila:

Semua anggota keluarga mengetahui dan menjalankan prinsip- prinsip atau tugas mereka dalam rumah tangga tersebut

Ini adalah hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan dalam menciptakan keluarga yang sakinah. Suami, istri dan anak-anak harus tahu tanggung jawab dan kewenangan mereka dalam keluarga. Tidak peduli seberapa tinggi posisi yang dimiliki oleh istri dan anak, tetapi ketika sudah kembali ke rumah maka sosok suami atau ayahlah yang tetap menjadi pemimpin mereka. Demikian juga dengan suami, ia bertanggung jawab penuh atas kehidupan dalam keluarga. Seorang ayah harus memenuhi Pendidikan, sandang dan pangan keluarganya dengan cara menafkahi keluarganya (Mahdiah, 1993).

Terdapat rasa saling pengertian, sabar dan menerima pasangan hidupnya , baik atau buruknya

Perasaan saling memahami dan bersabar harus menjadi salah satu kualitas yang harus dimiliki pada setiap anggota rumah tangga yang ingin membangun keluarga sakinah di rumah. Dengan rasa pemahaman dan kesabaran yang mereka miliki, setiap situasi dengan anggota keluarga diperlakukan dengan sesuatu yang positif untuk menutup kesenjangan untuk masalah umum yang muncul di rumah.

Jiwa yang sabar juga akan menjadikan anggota keluarga memiliki kekuatan ganda untuk mengatasi masalah apa pun. Dan juga akan menjadikan orang yang sangat kuat di mata orang lain, karena dia akan tabah ketika menghadapi masalah. Seseorang dengan jiwa seperti itu dengan mudah mencapai tujuan hidupnya, salah satunya adalah untuk mendapatkan keluarga sakinah.

Butuh komunikasi yang baik

Meningkatkan komunikasi antara anggota keluarga, seperti suami ke istri, suami ke anak-anak, anak-anak ke ibunya harus selalu kompatibel untuk menghindari buruk sangka di antara anggota keluarga. Di sisi lain, itu memperkuat kasih sayang dengan semua orang. Jika semuanya penuh dengan kebaikan, maka tindakan apa pun yang dilakukan tidak menyebabkan masalah, tetapi kegiatan yang menyenangkan perasaan.

Selalu dihiasi dengan prilaku yang merupakan perwujudan dari pengamalan ajaran agama

(Basyuni, 2008) Perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama selalu membawa akibat yang baik bagi pelakunya. Oleh karena itu, penerapan norma-norma agama mutlak diperlukan. Karena norma-norma agama khususnya Islam diciptakan khusus oleh Allah SWT dan disempurnakan oleh Nabi dengan tujuan untuk dijadikan aturan atau pedoman hidup untuk membimbing manusia mencapai apa yang dicarinya di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Keharmonisan

(Arifin, 2020) Keadaan harmoni adalah menjadi bagian dari keluarga sakinah. Artinya keluarga sakinah sudah pasti harmonis, namun keluarga harmonis belum tentu sakinah. Mewujudkan keluarga harmonis merupakan langkah awal menuju sakinah. Membentuk situasi seperti itu tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, namun harus dilakukan oleh setiap pasangan. Apalagi jika suami memulai pembicaraan dengan baik dan mendampingi istrinya dengan cinta dan kasih sayang, kemudian istri pun perlu melakukan hal yang serupa. Maka dari itu rumah anda akan terisi dengan suasana yang indah.

Kepatuhan Beragama

Ketaatan pribadi saat menunaikan salat lima waktu (fadhu), salat dhuha, atau tahajud, terbukti dapat menuntun pasangan dan anggota keluarga terhindar dari perilaku tercela. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ankabut:45. “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS al-Ankabut: 45) Kesalehan anggota keluarga secara individual juga mempengaruhi anggota yang lain. Seorang suami yang taat beribadah akan menjadi teladan baik “uswatun hasanah” bagi istri dan anak-anaknya. Bahkan, akan menjadi idola keluarga.

Tenonia Komala Kusumadewi
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait