<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>politik Arsip - Kabar Today</title>
	<atom:link href="https://kabartoday.co.id/tag/politik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/politik/</link>
	<description>Berani Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Jan 2026 23:33:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://kabartoday.co.id/site/wp-content/uploads/2025/10/cropped-IMG_20251026_055359-32x32.jpg</url>
	<title>politik Arsip - Kabar Today</title>
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/politik/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Wacana Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Konstitusi, Demokrasi, dan Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Daerah</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/wacana-pilkada-langsung-dan-melalui-dprd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2026 23:29:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co.id/?p=81926</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Dr. H. Bambang Sutopo, SEI, MM, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada DPD PKS Depok dan Anggota DPRD Kota Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/wacana-pilkada-langsung-dan-melalui-dprd/">Wacana Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Konstitusi, Demokrasi, dan Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Dr. H. Bambang Sutopo, SEI, MM, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu dan Pilkada DPD PKS Depok dan Anggota DPRD Kota Depok</strong></em></p>
<p>Sebagai kader partai politik sekaligus pelaku dan saksi sejarah demokrasi lokal di Kota Depok, saya memandang wacana pemilihan kepala daerah, baik secara langsung oleh rakyat maupun melalui DPRD, perlu disikapi secara jernih, objektif, dan berlandaskan konstitusi.</p>
<p>Diskursus ini tidak boleh direduksi menjadi pertentangan hitam-putih antara demokratis dan tidak demokratis, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka penguatan sistem pemerintahan daerah.</p>
<p>Saya pernah menjadi Anggota DPRD Kota Depok periode 1999–2004, dan terlibat langsung dalam pemilihan Wali Kota Depok pertama yang dilakukan oleh DPRD. Pada masa itu, mekanisme pemilihan tidak langsung melalui DPRD menghasilkan Wali Kota terpilih Drs. H.Badrul Kamal, MM dan Wakil Walikota H. Yus Ruswandi yang sah secara hukum, konstitusional, dan diterima secara politik oleh masyarakat pada zamannya.</p>
<p>Setelah lebih dari 20 tahun pelaksanaan pilkada langsung, kini muncul kembali wacana nasional mengenai kemungkinan pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Saya mencermati bahwa wacana ini lahir bukan tanpa dasar, melainkan sebagai respons atas berbagai evaluasi terhadap praktik pilkada langsung, mulai dari tingginya biaya politik, pragmatisme elektoral, polarisasi sosial, hingga beban fiskal daerah.</p>
<p>Secara konstitusional, tidak terdapat larangan atas pelaksanaan pilkada baik secara langsung maupun tidak langsung melalui DPRD. Keduanya sama-sama memiliki dasar hukum dan dapat dikategorikan demokratis, selama diatur oleh undang-undang dan dijalankan secara transparan serta akuntabel.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan pernyataan Juru Bicara DPP PKS, Pipin Sopian, yang menegaskan bahwa PKS memandang sistem pemilihan kepala daerah harus dilihat dari aspek konstitusionalitas, efektivitas pemerintahan, serta kebermanfaatannya bagi rakyat. PKS menilai bahwa mekanisme pilkada melalui DPRD tidak dapat serta-merta dianggap sebagai kemunduran demokrasi, selama tetap menjamin prinsip keterwakilan, akuntabilitas, dan kontrol publik.</p>
<p>Perlu juga ditegaskan bahwa pilkada memiliki karakter yang berbeda dengan pemilihan presiden. Dalam konstitusi, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara tegas diperintahkan untuk dilakukan secara langsung oleh rakyat. Ketentuan tersebut tidak secara eksplisit diberlakukan pada pemilihan kepala daerah, sehingga mekanisme pilkada tidak dapat disamakan secara mutlak dengan pilpres.</p>
<p>Dalam perspektif tata kelola pemerintahan daerah, pilkada melalui DPRD justru dapat memperkuat fungsi kontrol dan pengawasan terhadap kepala daerah. Hubungan antara DPRD dan kepala daerah menjadi lebih seimbang (checks and balances), karena DPRD tidak hanya berperan sebagai lembaga pengawas pasif, tetapi sebagai institusi politik yang ikut bertanggung jawab atas kualitas kepemimpinan daerah.</p>
<p>Melalui DPRD, aspirasi masyarakat tetap berjalan secara optimal karena DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat yang secara konstitusional memiliki fungsi representasi, legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Dengan mekanisme yang tepat, transparan, dan melibatkan partisipasi publik, DPRD dapat menjadi saluran agregasi kepentingan masyarakat secara lebih terstruktur dan berkelanjutan, tidak hanya lima tahunan seperti dalam pilkada langsung.</p>
<p>Dalam konteks ini, demokrasi tidak berhenti pada bilik suara, tetapi berlanjut dalam proses pengawasan kebijakan, pengendalian kekuasaan, dan keberpihakan pada kepentingan publik sepanjang masa jabatan kepala daerah.</p>
<p>Sebagai Ketua BP3 DPD PKS Kota Depok, saya memandang bahwa demokrasi secara substantif, bukan semata-mata prosedural. Wacana pilkada langsung maupun melalui DPRD harus dibuka sebagai ruang evaluasi dan ijtihad kebangsaan untuk menghadirkan sistem pemerintahan daerah yang lebih efektif, berintegritas, dan berpihak pada rakyat.</p>
<p>Apapun model pilkada yang dipilih ke depan, tujuan utamanya haruslah menghadirkan kepemimpinan daerah yang amanah, mampu bekerja sama dengan DPRD secara sehat, serta benar-benar menghadirkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/wacana-pilkada-langsung-dan-melalui-dprd/">Wacana Pilkada Langsung dan Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Konstitusi, Demokrasi, dan Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Daerah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://poskota.co/wp-content/uploads/2024/10/HBS.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Opini: Karma Politik</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/opini-karma-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2025 04:30:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Karma]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co.id/?p=80326</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Bambang Sutopo, Anggota Komisi C DPRD Kota Depok</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/opini-karma-politik/">Opini: Karma Politik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Bambang Sutopo, Anggota Komisi C DPRD Kota Depok</strong></em></p>
<p>Menarik membaca dan melihat berita di media sosial Bupati Pati Sudewo yg menaikkan PBB utk Desa dan perkotaan hingga 250 %. Sang Bupati malah menantang dan mempersilahkan kalau mau demo, &#8220;jangankan 5000 orang, 50 ribu orang saya akan hadapi dan tidak akan merubah keputusan saya&#8221;, tentu masyarakat semakin marah dan semakin membuktikan tantangan tersebut.&#8221;</p>
<p>Di era digital, langkah seorang pemimpin ibarat berjalan di atas pasir basah di tepi pantai, jejaknya akan selalu tertinggal, meskipun ombak waktu mencoba menghapusnya. Apalagi bagi seorang kepala daerah, setiap ucapan, keputusan, dan tindakan kini terekam bukan hanya di arsip pemerintahan, tetapi juga di memori kolektif publik melalui jejak digital.</p>
<blockquote>
<h3><em>Janji Politik seorang Kepala Daerah itu identik dengan janji-janji kampanye yang telah ditulis dan diumumkan saat kampanye</em></h3>
</blockquote>
<p>Di masa lalu, politisi bisa mengandalkan ingatan publik yang mudah pudar. Skandal kecil bisa dilupakan seiring pergantian musim. Janji yang tak terpenuhi bisa tertutup oleh proyek-proyek baru. Namun sekarang, sekali sebuah video, foto, atau pernyataan muncul di media sosial, ia bisa kembali muncul kapan saja—bahkan bertahun-tahun kemudian—hanya dengan satu ketikan di mesin pencari.</p>
<p>Bagi seorang kepala daerah, jejak digital bisa menjadi dua sisi mata pisau, Sisi pertama: menjadi bukti kinerja, keberhasilan, dan komitmen yang menguatkan citra. Sisi kedua: menjadi rekaman janji yang tak ditepati, sikap yang berubah-ubah, atau kebijakan yang menuai kritik.</p>
<p>Fenomena inilah yang melahirkan istilah karma politik di era modern. Bukan karma dalam pengertian &#8220;mistis semata&#8221;, melainkan konsekuensi logis dari akumulasi rekam jejak yang dinilai publik. Jika sebuah janji kampanye yg pernah diucapkan di hadapan kamera, maka publik berhak menagihnya. Jika seorang kepala daerah pernah mengunggah pernyataan mendukung suatu proyek, publik akan membandingkannya saat kebijakan berubah di tengah jalan.</p>
<p>Janji Politik seorang Kepala Daerah itu identik dengan janji-janji kampanye yang telah ditulis dan diumumkan saat kampanye, untuk direalisasi dan diwujudkan oleh Seorang Kepala Daerah Terpilih.</p>
<p>Bila janji-janji manis seorang Kepala Daerah tersebut tdk terealisasi dan tdk terwujud, akan berdampak pada hukuman, atau &#8220;karma politik&#8221; oleh warganya untuk keterpilihan berikutnya.</p>
<p>Fenomena nyata di politik lokal maupun nasional, ketika janji, sikap, dan kebijakan seorang pemimpin yang terekam di ruang digital menjadi “cermin masa depan” karier politiknya. Jejak digital tidak hanya menyimpan prestasi, tetapi juga rekam konflik, kontroversi, dan kontradiksi yang suatu saat dapat menjadi karma politik, berupa penurunan kepercayaan publik, kekalahan di pemilu, atau reputasi yang runtuh.</p>
<p>Fenomena ini menarik utk menjadi kajian kritis bagi politisi, akademisi, aktivis, dan warga masyarakat untuk memahami bagaimana interaksi antara memori publik dan dampak kebijakan membentuk nasib politik seorang kepala daerah.</p>
<p>Semoga fenomena &#8220;Karma Politik&#8221; tdk terjadi di kota Depok yg kita cintai ini. [HBS]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/opini-karma-politik/">Opini: Karma Politik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://cdn.rri.co.id/berita/Lhokseumawe/o/1737819508932-kakgem/g888j070r72od28.jpeg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Cabup Isyak Meirobie Tegaskan Yang dilakukan Pihaknya Bukan Money Politik, Melainkan Hak dan Kewajiban Yang Sah</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/cabub-isyak-meirobie-tegaskan-yang-dilakukan-pihaknya-bukan-money-politik-melainkan-hak-dan-kewajiban-yang-sah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Nov 2024 14:08:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Bawaslu]]></category>
		<category><![CDATA[money politik]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kabartoday.co.id/?p=77410</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabartoday &#8211; Belitung, Sehari sebelum Pilkada serentak berlangsung, tuduhan dugaan money politik terhadap Isyak Meirobie&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/cabub-isyak-meirobie-tegaskan-yang-dilakukan-pihaknya-bukan-money-politik-melainkan-hak-dan-kewajiban-yang-sah/">Cabup Isyak Meirobie Tegaskan Yang dilakukan Pihaknya Bukan Money Politik, Melainkan Hak dan Kewajiban Yang Sah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kabartoday &#8211; Belitung, Sehari sebelum Pilkada serentak berlangsung, tuduhan dugaan money politik terhadap Isyak Meirobie mencuat, pada Selasa (26/11/2024), atas tuduhan ini, berkas data klarifikasi telah diserahkan kepada Badan Panitia Pengawas Pemilu (Bawaslu) kabupaten Belitung.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, Isyak memberikan pernyataan resmi yang menekankan pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam menangani kasus ini.</p>
<p>Dalam wawancaranya terkait isu tersebut, Isyak mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan data lengkap kepada BAWASLU untuk memperkuat klarifikasi atas tuduhan tersebut. Tuduhan, dugaan money politik terhadap Isyak Meirobie mencuat, pada Selasa (26/11/2024)</p>
<p>“Kami sudah memberikan data, SK sudah kami fotokopikan, data Pes Lampiran juga sudah kami berikan. Kemudian mereka sudah mewawancarai orang di dalam ruangan kerja,” ujar Isyak.</p>
<p>Ia menegaskan bahwa semua yang berada di dalam ruangan telah diverifikasi dan divalidasi dengan benar, sementara keberadaan orang di luar ruangan bukanlah tanggung jawab pihaknya.</p>
<p>“Kalau masuk ruangan, wajib diverifikasi dan divalidasi. Jadi jangan menggunakan video itu sebagai dasar. Kami berharap BAWASLU arif dan bijaksana, berkeadilan melihat kasus ini seterang-terangnya,” tambahnya.</p>
<p>Isyak juga menyebutkan bahwa tim hukumnya tengah mempersiapkan langkah-langkah hukum untuk menghadapi tuduhan ini. Selain itu, ia pun telah melaporkan perkembangan situasi kepada DPP Partai Gerindra, PSI, Demokrat, PAN, dan Garuda. Dukungan dari berbagai partai diharapkan dapat membantu memberikan pembelaan hukum yang solid jika dianggap melanggar aturan.</p>
<p>Isyak menegaskan bahwa apa yang dilakukan pihaknya bukan merupakan money politik, melainkan hak dan kewajiban yang sah.</p>
<p>“Kalau soal money politik, logikanya sederhana. Siapa yang mau melakukan money politik secara terang-terangan? Kami tidak menutupi apapun,” tegasnya.</p>
<p>Ia merujuk pada pengalaman serupa yang pernah dihadapi pada tahun 2018 di Mahkamah Konstitusi, di mana gaji manajemen yang dipersoalkan saat itu dinyatakan sah oleh Majelis Hakim. “Kami merasa tidak ada pelanggaran money politik. Ini bukan money politik, ini hak dan kewajiban,” jelas Isyak.</p>
<p>Selain itu, Isyak juga meminta maaf kepada Kapolres atas kekisruhan yang sempat terjadi, termasuk masalah parkir dan kemacetan.</p>
<p>Isyak menutup pernyataannya dengan harapan agar BAWASLU dapat bertindak adil dan bijaksana dalam menilai, mengkoreksi kasus ini.</p>
<p>“Kami berharap semua pihak melihat ini secara terang-terang, tanpa prasangka,” pungkasnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/cabub-isyak-meirobie-tegaskan-yang-dilakukan-pihaknya-bukan-money-politik-melainkan-hak-dan-kewajiban-yang-sah/">Cabup Isyak Meirobie Tegaskan Yang dilakukan Pihaknya Bukan Money Politik, Melainkan Hak dan Kewajiban Yang Sah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Politik Identitas vs Bhineka Tunggal Ika</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/politik-identitas-vs-bhineka-tunggal-ika/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jun 2019 04:29:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=23017</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pemilu dipandang sebagai bentuk paling nyata dari kedaulatan yang berada di tangan rakyat serta wujud&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/politik-identitas-vs-bhineka-tunggal-ika/">Politik Identitas vs Bhineka Tunggal Ika</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu dipandang sebagai bentuk paling nyata dari kedaulatan yang berada di tangan rakyat serta wujud paling konkret partisipasi rakyat dalam penyelenggaraan negara. Tujuan diselenggarkannya Pemilihan Umum adalah untuk memilih wakil rakyat dan wakil daerah untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, kuat dan memperoleh dukungan dari rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan nasional.</p>
<p>Setiap negara jelas memiliki rakyat agar dapat berdaulat, setiap rakyat memiliki identitas masing-masing yang membedakan antar individu. Identitas pada hakekatnya adalah cerminan diri sendiri yang menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lainnya. Sedangkan identitas nasional adalah karakter yang menjadi jati diri sebuah bangsa, beserta pemahaman kehidupan bernegara dan pengetahuan yang ada di dalamnya.</p>
<p>Identitas ada pada setiap manusia, begitu pula politik yang mengalir dalam kehidupan bermasyarakat, maka ada yang dinamakan dengan politik identitas, dan penting untuk mengetahuinya karena berhubungan dengan situasi politik beberapa tahun terakhir. Politik Identitas pada dasarnya adalah situasi dan cara berpolitik yang mempersatukan kelompok karena adanya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan yang didasari oleh persamaan latar belakang golongan, contohnya suku, ras, agama, dan gender.</p>
<p>Pada dasarnya identitas bukan hanya soal sosiologis tetapi juga bisa masuk ke ranah politik. Dalam teorinya, politik identitas dapat berpengaruh baik dan buruk, ibarat pedang bermata dua dalam republik yang berbhinneka ini.</p>
<p>Indonesia adalah negara yang multikultural dengan berbagai etnis, suku, ras, agama, dan budaya. Menurut data sensus BPS tahun 2010, terdapat 1211 bahasa yang terdaftar di Indonesia, yang mana 1158 di antaranya adalah Bahasa daerah. Dari sumber yang sama pula, teridentifikasi 1340 suku di Indonesia, dimana suku Jawa menempati posisi pertama dalam hal jumlah yang mencapai 41% dari total populasi negara ini.</p>
<p>Mahkamah Konstitusi (MK) mengakui enam kepercayaan resmi yaitu, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu agar tercantum di Kartu Tanda Penduduk masing-masing warga negara. Data-data tersebut sudah membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan dari segi apapun.</p>
<p>Eksklusifitas yang ekstrim, isolasi terhadap budaya yang berbeda, serta menyalahkan kelompok yang tidak sepaham adalah contoh-contoh dari politik identitas yang berlebihan, dan tidak memberi pengaruh baik dalam negara yang bersemboyan “Bhinneka Tunggal Ika” ini.</p>
<p>Hal yang berpotensi terjadi kedepannya adalah pemimpin tidak lagi diadu sesuai kinerja nyata, akan tetapi dengan bermodalkan latar belakang, minoritas akan merasa tersingkirkan, serta struktur politik akan menjadi semu dengan adanya tekanan dari pihak mayoritas. Sekarang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagaimana para pemimpin dan calon pemimpin bangsa bisa meyakinkan masyarakat bahwa pluralisme dalam bernegara adalah sesuatu yang harus dimanfaatkan dengan baik bukan dilawan.</p>
<p>Realitanya politik memang dinamis, tidak hanya dalam memilih kawan atau lawan, tetapi juga dalam ideologi dan prinsip. Kita hidup di negara yang multikultural, maka dari itu toleransi atau tenggang rasa sangat dibutuhkan untuk mendasari kehidupan bernegara, karena itu adalah pondasi dasar dari persatuan itu sendiri dan berperan sebagai jembatan agar tercapai budaya politik yang sehat. Bukankah kita merdeka dari hasil persatuan para pahlawan yang berbeda-beda latar belakang?</p>
<p>Politik identitas kerap kali diartikan sebagai politik yang mengedepankan relasi emosional seraya merendahkan pertimbangan rasional. Sehingga pilihan yang diambil lebih karena bersifat dorongan primordial yang kurang mengedepankan pilihan karena pertimbangan kemanfaatan umum. Pilihan yang berdasarkan identitas dilakukan karena relasi ras, etnis, kedaerahan, dan juga karena kesamaan keyakinan agama. Asumsinya bukan karena pertimbangan kemaslahatan umum.</p>
<p>Kini, politik identitas banyak digunakan oleh para politisi untuk mempertajam perbedaan-perbedaan yang mengarah pada SARA, khususnya isu agama dan etnisitas. Fenomena ini meluas karena praktek politik yang dilakukan dinilai efektif dalam memberi ruang untuk membangkitkan jati diri kelompok tertentu guna mendapatkan dukungan secara emosional. Hingga saat ini, berbagai partai politik dan kandidat yang diusung menjelang Pilpres 2019 masih terasa bersandar pada praktik politik pragmatis. Segala cara masih digunakan demi meraih kemenangan. Inilah yang menjadi kegelisahan bangsa kita dalam bernegara hari ini, karena fenomena politik identitas yang diaktualisasikan secara sempit dan negatif di ruang publik dapat menjadi ancaman bernegara, dan kemudian mendorong gejala disintegrasi.</p>
<p>Karena itu, sepatutnya dalam mencegah timbulnya politik identitas yang negatif perlu menanamkan dasar ideologis dan idealisme yang kuat kepada semua elemen masyarakat.</p>
<p><em><strong>Ditulis oleh Hesty Istiana, mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNTIRTA</strong></em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/politik-identitas-vs-bhineka-tunggal-ika/">Politik Identitas vs Bhineka Tunggal Ika</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
