Usai Diperiksa Polisi Sebagai Tersangka, Raja Rohomoni “Hanya” Wajib Lapor

Daud Sangadji, Raja Negeri Rohomoni, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, tersangka kasus tambang galian c tanpa ijin

Kabartoday, AMBON – Raja Negeri Rohomoni, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Daud Sangadji sementara boleh bernafas lega.

Pasalnya, usai diperiksa sebagai tersangka kasus tambang galian C tanpa ijin pada Kamis (1/2/2024), Daud Sangadji tidak ditahan penyidik. Dia hanya dikenakan wajib lapor. Daud Sangadji berkewajiban melapor ke penyidik dua kali setiap pekan.

Bacaan Lainnya

Terhadap status tersangka, Doddi Soselissa selaku kuasa hukum tidak membantah hal tersebut.

Doddi Soselisa, kuasa hukum Daud Sangadji, tersangka kasus pertambangan galian c tanpa ijin

“Tadi sudah diperiksa, dan status klien kami sudah tersangka. Secara materi kami siap hadapi,” tegasnya kepada wartawan usai mendampingi kliennya Kamis (1/2/2024) di Kantor Ditreskrimsus Polda Maluku.

Ia menepis anggapan bahwa kliennya mangkir dari jadwal pemeriksaan pertama pada Senin (26/1/2024) lalu.

Menurutnya, saat itu kliennya tidak bisa hadir karena ada kegiatan yang sudah terjadwal dan tidak bisa di tunda. Karena itu, pihaknya menyurati penyidik meminta penundaan pemeriksaan ke hari Kamis.

“Klien kami kooperatif. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran klien kami terhadap panggilan yang disampaikan pihak penyidik,” tukasnya

Terhadap kasus yang telah menyeret kliennya sebagai tersangka, Doddi berharap proses penegakan hukum yang sementara dilakukan Polda Maluku harus adil.

“Kami menginginkan proses penegakan hukum yang adil,” tandas advokat muda yang cukup vokal ini.

Menurutnya, dalam perkara ini ada dugaan pihak lain yang ikut terlibat dalam hal penggalian, pengangkutan serta pembelian material galian C tersebut.

“Kalaupun klien kami disangkakan melakukan tindak pidana yang melanggar ketentuan pasal 158 Undang-Undang Minerba, maka harus diteliti atau dilihat lagi ada pihak-pihak lain yang terlibat dalam hal melakukan tindakan penggalian pasir dan batu itu, pengangkutan dan pembelian,” tuturnya.

Ia jelaskan ada norma juga dalam Undang-Undang Minerba yang mengatur perbuatan pidana tersebut.

“Itu diatur pada Pasal 161 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang┬áPertambangan Mineral dan Batubara, perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Pihak lain yang harus jadi perhatian penyidik juga adalah Telly Nio,” paparnya.

Ia beberkan bahwa peran kontraktor kondang di Maluku ini cukup signifikan dalam kasus ini.

Tambang galian C ilegal ini berlokasi di kawasan Air Besar (Waeira) Negeri Rohomoni, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

“Kami meyakini ada perannya dia (Telly). Signifikan perannya dia (Telly). Bahkan alat yang digunakan untuk mengangkat material di Rohomoni itu dia (Telly) punya lebih banyak dari klien kami. Dia punya truk lebih banyak,” ungkapnya.

Dia juga menyayangkan tindakan kepolisian yang hanya mengamankan peralatan milik kliennya Daud Sangadji. Sementara milik Telly Nio tidak tersentuh polisi.

“Dan sampai sekarang tidak juga diamankan polisi. Yang diamankan hanya milik bapak Daud saja,” kesal dia.

Doddi lalu membuka alur cerita hingga terjadinya eksploitasi material galian C tersebut.

Awalnya pada tanggal 2 September 2023 lalu, Telly Nio bersama Kasatker Wilayah I Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Maluku Ida Bagus Made Artamana datang temui kliennya di rumah raja Negeri Rohomoni.

“Alur kejadiannya, mereka yang datang meminta karena kepentingannya ada proyek pembangunan jalan di Pulau Haruku. Butuhkan material. Mereka yang datang meminta. Dia (Telly Nio) yang mendatangi bersama dengan Kasatker dari Balai Jalan. Mereka datang sama-sama,” tuturnya.

Karena itu, ia meminta pihak kepolisian untuk meminta keterangan juga dari Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Wilayah I Balai Pelaksana Jalan Nasional Maluku Ida Bagus Made Artamana.

“Dalam BAP klien kami, kami minta penyidik untuk juga memanggil Kasatker Balai Jalan untuk dimintai keterangan,” pinta dia.

Ia katakan, dengan kehadiran awal dari Telly Nio dan pihak Balai Jalan, maka dengan sendirinya membantah tudingan Telly Nio yang mengatakan Raja Rohomoni melakukan intimidasi ancaman atau tekanan dan sebagainya.

“Klien kami tidak pernah mengintimidasi dia (Telly). Klien kami tidak pernah mengatakan bahwa dia (Telly) wajib mengambil material di Rohomoni. Itu tidak benar,” tandas Doddi.

Soal adanya penyerahan uang dari Telly Nio ke kliennya, Doddi tidak membantahnya. Ia tegaskan uang tersebut untuk pembelian material galian C.

“Penyerahan uang ada, untuk pembelian material. Dia menawarkan membeli material. Dan uang itu dipakai untuk pembangunan tanggul jembatan yang putus di Rohomoni. Untuk menyambung jalan supaya dia (Teli Nio) punya armada angkutan bisa lewat di situ. Selain itu juga untuk kepentingan masyarakat.

Ia katakan sesuai fakta lapangan, ada tiga lokasi pengambilan material galian yang dilakukan Telly Nio, yaitu di Pelauw, Haruku dan Rohomoni.

“Fakta lapangan bahwa ada tiga lokasi pengambilan material galian C. Ada di Pelauw, di Haruku dan di Rohomoni. Kami punya bukti-bukti juga. Dan ini akan kami buat laporan polisi terhadap Telly Nio. Dalam waktu dekat akan kami laporkan,” pungkasnya. (IMRAN)

Pos terkait