FOMO Mulu, Hati-Hati Stress!

DEPOK POSFear of missing out yang disingkat FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Przybylski et al pada tahun 2013. Menurutnya, FOMO merupakan ketakutan untuk tertinggal karena orang lain mendapatkan atau merasakan sebuah pengalaman daripadanya. Singkatnya, FOMO atau Fear Of Missing Out adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya. Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik. Contoh FOMO yang mungkin kita semua pernah merasakan di antaranya, mengikuti banyak kegiatan yang juga orang lain ikuti agar tidak tertinggal oleh orang lain atau mengerjakan banyak hal agar tidak tertinggal dari orang lain.

Pandemi Covid-19 menjadi sebuah situasi yang membuat sebagian besar kegiatan dilakukan melalui jaringan sehingga seseorang cenderung lebih banyak melihat media sosial yang menampilkan berbagai aktivitas yang dilakukan seseorang hanya melalui layar saja. Semua kelompok usia melakukan aktivitas dalam jaringan dengan frekuensi yang  lebih sering dibanding sebelum adanya pandemi Covid-19. Kelompok remaja merupakan salah satu kelompok usia yang aktif dalam berselancar di sosial media. Hasil sebuah penelitian yang meneliti tentang hubungan FOMO dengan Covid-19 membuktikan bahwa subjek yang diteliti mengalami kondisi FOMO akibat keterlibatan yang tinggi terhadap media sosial.  FOMO dapat  disebabkan  oleh  adanya  perasaan  tidak  nyaman  di  dalam  diri  seseorang,  artinya apabila seseorang  sedang bosan dengan hal-hal yang terjadi atau rutinitas yang dianggap kurang menarik, mereka akan membuka media sosial untuk melihat hal atau membaca informasi yang menarik. Selain itu FOMO juga dapat disebabkan oleh seseorang yang memiliki keingintahuan yang besar dan memiliki keinginan untuk selalu mengetahui informasi baru.

FOMO dapat menyebabkan masalah identitas diri, kesepian, gambaran diri negatif, perasaan inadekuat, perasaan terpinggirkan, dan iri hati. Seseorang dapat mengembangkan perasaan dan emosi negatif dari situs media sosial karena iri terhadap postingan dan kehidupan orang lain. Peneliti di dua universitas Jerman menemukan bahwa orang-orang memiliki perasaan negatif ketika menggunakan media sosial karena mereka melihat kehidupan yang tampaknya “sempurna” dari teman-teman mereka sosial. Maka dari itu fomo dapat menyebabkan  masalah  kesehatan mental, kelelahan, stress, depresi, bahkan masalah    tidur. Selain itu dampak yang dapat dirasakan adalah perasaan dikucilkan secara sosial saat seseorang tidak dapat berpartisipasi dan tidak mengetahui tentang apa yang sedang   dilakukan temannya. Perasaan ini memengaruhi ketidakpuasan seseorang dalam hidup  mereka  dan merasa apa yang telah dilakukan atau dimiliki seakan tidak pernah cukup. Selain itu dapat memicu munculnya masalah finansial seperti yang disebutkan pada gejala di atas,  seseorang rela mengeluarkan biaya yang besar demi tetap up-to-date dan tidak ketinggalan zaman.

Fear of Missing Out (FOMO) tentunya berbahaya jika membuat kita terus menerus mencari validasi lewat unggahan media sosial. Untuk itu, kita perlu menyadari tanda-tanda jika kita mengalami FOMO dan melakukan upaya untuk mengatasi hal tersebut. Hal yang bisa kita lakukan adalah pertama dengan membatasi diri untuk konsumsi media sosial setiap hari, kita bisa menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial, misal dua jam sehari. Selain itu kita juga bisa menyaring konten-konten yang kita lihat sehingga mengurangi hal-hal yang dapat men-trigger kita. Beberapa hal lain yang bisa kita lakukan misal melakukan hobi serta journaling sehingga pikiran kita terdistraksi dari dampak negatif FOMO. Media sosial memang membuat kita ketagihan dan terdistraksi dengan kegiatan lain, tapi jangan sampai FOMO dan insecure sama hidup yang sedang dijalani, ya!

Oleh: Cindy Anastacia Ratu, Dita Fitriana Anggraeni , Shella Cahya Eka, Zahra Putri Zharfani Miftah

Pos terkait