<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anak Arsip - Kabar Today</title>
	<atom:link href="https://kabartoday.co.id/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/anak/</link>
	<description>Berani Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Jun 2024 02:38:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://kabartoday.co.id/site/wp-content/uploads/2026/05/cropped-kt-1-32x32.jpg</url>
	<title>Anak Arsip - Kabar Today</title>
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Maraknya Percintaan Dini di Kalangan Anak Akibat Media Sosial</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/maraknya-percintaan-dini-di-kalangan-anak-akibat-media-sosial/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 02:38:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70586</guid>

					<description><![CDATA[<p>Media sosial telah mengubah cara anak-anak berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain, termasuk dalam hal percintaan</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/maraknya-percintaan-dini-di-kalangan-anak-akibat-media-sosial/">Maraknya Percintaan Dini di Kalangan Anak Akibat Media Sosial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Percintaan dini, atau hubungan romantis yang terjadi pada usia yang masih sangat muda, telah menjadi fenomena yang semakin marak terjadi di kalangan anak-anak belakangan ini.</p>
<p>Salah satu faktor yang kontributif terhadap fenomena maraknya ini adalah media sosial. Media sosial telah mengubah cara anak-anak berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain, termasuk dalam hal percintaan.</p>
<p>Media sosial memberikan anak-anak akses yang lebih besar untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka, bahkan orang yang tidak mereka kenal secara langsung.</p>
<p>Mereka dapat saling berinteraksi melalui pesan pribadi, komentar, dan berbagai jenis konten yang diposting.</p>
<p>Meskipun media sosial memberikan manfaat dalam memperluas jaringan sosial, namun juga membawa dampak negatif yang signifikan, terutama dalam hal percintaan dini.</p>
<p>Salah satu dampak negatif dari media sosial adalah mengubah persepsi anak-anak tentang hubungan dan cinta. Anak-anak sering terpapar dengan gambaran idealis tentang cinta dan hubungan yang sering ditampilkan di media sosial.</p>
<p>Mereka mungkin merasa tertarik untuk memiliki hubungan serupa, tanpa mempertimbangkan kematangan emosional dan tanggung jawab yang seharusnya dimiliki saat hubungan romantis.</p>
<p>Selain itu, media sosial juga memberikan akses mudah ke konten-konten yang tidak pantas dan tidak sehat. Anak-anak dapat dengan mudah mengakses gambar, video, atau cerita dewasa yang berhubungan dengan percintaan.</p>
<p>Hal ini dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang hubungan dan mengarah pada perilaku yang tidak pantas untuk usia mereka.</p>
<p>Selain berdampak psikologis, cinta dini juga dapat berdampak negatif pada perkembangan sosial dan akademik anak-anak. Anak-anak yang terlibat dalam percintaan dini cenderung lebih fokus pada hubungan mereka daripada pada pendidikan dan kegiatan sosial lainnya.</p>
<p>Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara hubungan romantis dan tanggung jawab sosial serta akademik.</p>
<p>Untuk mengatasi maraknya percintaan dini akibat media sosial, peran orang tua dan pendidik sangat-sangat penting.</p>
<p>Orang tua perlu menyadari pengaruh media sosial dan memberikan pendekatan yang tepat dalam membimbing anak-anak mereka dalam menggunakan media sosial dengan bijak.</p>
<p>Mereka juga harus terbuka untuk berbicara tentang hubungan dan memberikan pemahaman yang sehat kepada anak-anak tentang cinta, persahabatan, dan tanggung jawab dalam hubungan.</p>
<p>Pendidik juga memiliki peran penting dalam menyediakan pendidikan seksual yang komprehensif dan mendidik anak-anak tentang risiko dan konsekuensi dari percintaan dini.</p>
<p>Mereka dapat mengadakan program atau seminar yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak tentang pentingnya pengembangan diri dan pendidikan sebelum terlibat dalam hubungan romantis.</p>
<p>Kesimpulannya, maraknya percintaan dini di kalangan anak-anak akibat media sosial adalah fenomena yang perlu diperhatikan dengan serius.</p>
<p>Dampak negatif dari percintaan dini dapat berdampak pada perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak-anak.</p>
<p>Oleh karena itu, upaya bersama dari orang tua, pendidik, dan masyarakat secara luas sangat-sangat penting untuk membantu anak-anak memahami pentingnya hubungan yang sehat dan bertanggung jawab.</p>
<p><em>Sakinatul Munawaroh – Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/maraknya-percintaan-dini-di-kalangan-anak-akibat-media-sosial/">Maraknya Percintaan Dini di Kalangan Anak Akibat Media Sosial</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://akcdn.detik.net.id/visual/2023/07/18/ilustrasi-menikah_169.png?w=650&#038;q=90" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Peran Orang Tua Agar Anak Tak Kecanduan Gadget</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/pentingnya-peran-orang-tua-agar-anak-tak-kecanduan-gadget/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jun 2024 01:02:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70061</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jadi, bagaimana cara orang tua dalam mengawasi dan mengatasi anak agar tidak kecanduan gadget?</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/pentingnya-peran-orang-tua-agar-anak-tak-kecanduan-gadget/">Pentingnya Peran Orang Tua Agar Anak Tak Kecanduan Gadget</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Gadget adalah benda elektronik yang sangat berguna di zaman sekarang,gadget memiliki banyak fungsi untuk kehidupan manusia,tetapi gadget juga dapat berdampak buruk kepada manusia salah satunya pada anak anak,jika para orang tua tidak memperhatikan sanganak Ketika sedang bermain gadget maka akan berdampak buruk pada sang anak.</p>
<p>Di era teknologi yang semakin canggih, penggunaan gadget seperti smartphone, tablet, dan laptop telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat memiliki dampak negatif pada anak-anak, terutama dalam hal kecanduan.</p>
<p>Kecanduan gadget dapat menyebabkan anak-anak mengalami masalah kesehatan, sosial, dan emosional yang signifikan. Oleh karena itu, peranan orang tua dalam mengawasi anak agar tidak kecanduan gadget sangat penting.</p>
<p>Orang tua sangat berperan penting dalam mengawasi anak terhadap gadget,orang tua dapat memantau dan mengawasi anak dalam bermain gadget dan orang tua juga perlu memeriksa gadget anak agar tau apa yang di mainkan/ di tonton oleh sang anak , agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.</p>
<p>Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto pada Minggu (22/7/2018)</p>
<p>“Anak kecanduan gawai menjadi tantangan serius. Hanya saja, tidak semua orangtua mengetahui bahwa anaknya terindikasi kecanduan gawai,”</p>
<p>Selain itu, kebiasaan orang tua yang sering memberikan gadget kepada anak, contohnya ketika anak sedang menangis orang tua justru memberikan gadget kepada anak, hal tersebut menjadi salah satu faktor memicu anak menjadi kecaanduan terhadap gadget.</p>
<p>Jadi, bagaimana cara orang tua dalam mengawasi dan mengatasi anak agar tidak kecanduan gadget?</p>
<p><strong>Membatasi durasi penggunaan gadget</strong></p>
<p>Orang tua perlu membatasi durasi penggunaan gadget sesuai dengan umur anak. American Academy of Pediatrics (2013) dan Canadian Pediatric Society (2010) sudah memberikan pedoman waktu screen time sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Anak di bawah usia 2 tahun: tidak boleh dibiarkan bermain gadget sendiri, termasuk TV, smartphone, dan tablet.</li>
<li>Anak-anak usia 2-4 tahun: kurang dari satu jam sehari.</li>
<li>
Usia 5 tahun ke atas: sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari untuk penggunaan rekreasi (tidak termasuk kebutuhan belajar).</li>
</ul>
<p><strong>Mengajak anak melakukan aktivitas lain</strong></p>
<p>Orang tua dapat mengalihkan perhatiaan anak kepada gadget dengan cara mengajak anak bermain di luar rumah,  seperti bermain di taman kompleks rumah, berlari, maupun berolahraga.</p>
<p>Ataupun melakukan aktifitas di dalam rumah seperti bernyanyi,membaca buku,memasak,melukis dan lain-lain.</p>
<p><strong>Menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak</strong></p>
<p>Hal ini sangatlah sederhana, tetapi tidak semua orang tua bisa melakukan hal ini.Anak anak yang sering dibiarkan sendirian lebih cenderung kecanduan gadget.</p>
<p>Orang tua harus dapat membagi waktu antara pekerjaandan anak, orang tua juga harus berinidiatif untuk mendekatkandan menghabiskan waktu bersama anak dan menemani melakukan berbagai aktifitas yang menarik.</p>
<p><strong>Menentukan jadwal</strong></p>
<p>Salah sattu cara agar anak tidak kecanduan gadget yaitu membatasi waktu pemakaian dan menentukan jadwal yang sesuai seperti ,bermain laptop,smartphone,televisi dan lain-lain.</p>
<p>Orang tua dapat memberikan kebeasan terhadap anak dalam memilih jawal jam berapa mereka mereka ingin menggunakan gadget tersebut. Hal tersebut agar anak dapat bertanggung jawab atas pilihannya.</p>
<p><strong>Menjadi contoh</strong></p>
<p>Anak anak selalu mengikuti ap yang orang tua lakukan ,jadi jika ingin anak tidak ingin kecanduan gadget orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak. Contohnya jangan sering bermain gadget ketika sedang bermain bersama karena anak akan mengikuti apa yang orang tua lakukan.</p>
<p>Jadi, peranan orang tua sangat penting untuk tumbuh kembang seorang anak,orang tua menjadi cerminan anak dalam melakukan sesuatu.</p>
<p><em>Lail Ghasiyah, S1 Akuntansi, Universitas pamulang</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/pentingnya-peran-orang-tua-agar-anak-tak-kecanduan-gadget/">Pentingnya Peran Orang Tua Agar Anak Tak Kecanduan Gadget</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://sippfm.com/wp-content/uploads/2019/10/tega.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2017 02:42:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[depok kota layak anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=16227</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pnsel atau Telepon Seluler merupakan salah satu alat komunikasi yang kini kian marak penggunaannya, dan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/">Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_16229" aria-describedby="caption-attachment-16229" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-16229" src="https://res.cloudinary.com/de5lnco7h/image/upload/v1513651290/anak-ponsel-gadget_20160628_130822_1_xumt0x.jpg" alt="" width="700" height="393" /><figcaption id="caption-attachment-16229" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Pnsel atau Telepon Seluler merupakan salah satu alat komunikasi yang kini kian marak penggunaannya, dan tahukah anda dengan kemajuan teknologi kini perkembangan Handphone semakin meningkat, mulai dari Nokia yang dikenal dengan hp sejuta umat dan hingga saat ini yang popular adalah Android &amp; Iphone.</p>
<p>Namun, dengan berkembangnya teknologi saat ini ada sisi kebaikan dan ada pula sisi keburukan yang ditimbulkan dari teknologi tersebut. Terutama bagi kalangan anak-anak yang mana dapat membentuk karakter yang individualis dan enggan berinteraksi dengan sosial.</p>
<p>Hal inilah yang memang perlu kita tanggulangi agar tidak lagi banyak kasus yang seperti itu. Dan kali ini adalah ungkapan yang dikatakan oleh seorang pakar teknologi tentang kapan anak diperbolehkan dalam penggunaan teknologi, Jika berbicara soal teknologi, tentunya Bill Gates paling tahu apa yang baik dan yang tidak.Bos komputer kelas dunia ini memiliki tiga orang anak yang beranjak remaja.</p>
<p>Sebagai orang yang berkecimpung di dunia teknologi, pastinya dia tahu kapan usia terbaik memberikan gadget pada anak.Dalam sebuah wawancara yang dimuat di Tenplay, Bill Gates menegaskan bahwa anak seharusnya TIDAK dibolehkan memiliki ponsel pintar atau gadget sebelum usianya 14 tahun. Pakar parenting dan ahli teknologi mengamini ucapan Bill Gates. Karena penelitian juga telah membuktikan bahwa membiarkan anak menyentuh teknologi terlalu dini bisa berdampak buruk pada anak. Bill mengaku, bahwa dia dan istrinya Melinda menetapkan aturan ketat terkait memberikan gadget pada anak-anaknya. Meskipun anak mereka memprotes aturan tersebut, namun Bill tetap tegas.</p>
<p>“Kami tidak membolehkan ada yang memegang ponsel pada saat makan. Kami juga tidak memberikan anak kami ponsel sebelum usianya 14 tahun, dan mereka mengeluh bahwa teman-teman merek sudah memiliki ponsel sebelum berusia 14 tahun,” ungkap ayah tiga anak ini.</p>
<p>Berikut ini adalah sederet aturan terkait penggunaan teknologi, yang diterapkan Bill Gates dan sang istri pada anak-anak mereka.</p>
<ul>
<li>Melarang anak mereka memiliki ponsel sebelum berusia 14 tahun</li>
<li>Membatasi screen time, sehingga mereka punya waktu lebih banyak untuk dihabiskan bersama keluarga</li>
<li>Tidak dibolehkan membawa ponsel pada saat makan</li>
<li>Menentukan jam berlaku untuk melihat televisi dan ponsel setiap hari sehingga anak-anak bisa pergi tidur lebih awal dibanding anak lain</li>
</ul>
<p>Dari penjelasan yang diutarakan oleh Bill Gates tersebut, diharapkan orang tua mampu mengontrol anak-anaknya dalam masalah penggunaan teknologi.</p>
<p>Ditulis oleh: Lukman (MAHASISWA STEI SEBI)</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/kapan-anak-boleh-diberikan-ponsel/">Kapan Anak Boleh Diberikan Ponsel?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2017 07:04:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[artikel keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=10567</guid>

					<description><![CDATA[<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_10568" aria-describedby="caption-attachment-10568" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-10568" src="http://res.cloudinary.com/depok-pos/image/upload/v1487487792/Ketahui-Usia-Ideal-untuk-Mengenalkan-Gadget-Pada-Anak-anak_1_fd0afb.jpg" width="600" height="398" /><figcaption id="caption-attachment-10568" class="wp-caption-text">Ilustrasi. (Istimewa)</figcaption></figure>
<p>Teknologi semakin canggih, banyak sekali bermunculan gadget-gadget baru di kalangan remaja. Salah satu nya adalah Android yang saat ini banyak di gandrungi kaum remaja. Globalisasi dan modernisasi nampaknya sudah memberikan kemajuan kepada masyarakat luas. Namun, tahukah jika Globalisasi dan Modernisasi ini dapat membawa kita pada hal-hal positif da negative. Tergantung bagaimana masyarakat selektif dalam memilih perkembangan teknologi yang canggih ini.</p>
<p>Bukan hanya anak muda, remaja, ibu-ibu,bapak-bapak namun anak kecil usia dini pun sudah banyak yang menggunakan Gadget. Beberapa mengungkapkan bahwa gadget adalah salah satu sarana komunikasi untuk saat ini. Memang benar, namun tahu kah bahwa anak-anak di usia dini saat ini yang sudah kehilangan harga diri nya, pelecehan, tindakan menyimpang lainnya yang di sebabkan oleh Gadget yang mereka miliki.</p>
<p>Salah satu faktor mendasar anak-anak di usia dini telah mengetahui aplikasi-aplikasi internet canggih yang dapat mereka akses kapan pun dan di mana pun. Ini sebabnya orang tua lah yang memberikan Gadget atau handphone kepada anak-anak nya pada usia dini atau terlalu terburu-buru.</p>
<p>Anak SD yang sudah mengenal Gadget bahkan bisa memberikan dampak positif dan negative pada orang-orang di sekitar nya. sebut saja si A yang karena kesibukan kedua orang tua nya, pulang pagi-sore-malam sehingga mereka memanfaatkan gadget untuk di berikan kepada anak nya. namun, tahukah bun. Anak yang kurang perhatian dari kedua orang tua nya memanfaatkan gadget sebagai teman hidup nya. ia jadikan handphone teman kemana-mana tidak lepas dari handphone. Miris, banyak waktu yang mereka habiskan hanya lewat telpon. Siang dan malam bermain games dengan gadget sesuka nya. akses internet yang canggih menyebabkan mereka terjerembab kedalam dunia pornografi yang mereka akses entah karena tidak di sengaja atau faktor lingkungan.</p>
<p>Kasus diatas lazim sekali terjadi di lingkungan kita. Banyak sekali mudharat gadget pada anak usia dini yang mereka pun kurang paham terkait penyalahgunaan gadget tersebut. Naudzubillah..</p>
<p>Salah satu cara agar anak tidak terlalu menghabiskan waktu dengan gadget nya atau bahkan jangan tergantung pada gadget dengan memberikan kegiatan-kegiatan positif terhadap anak, bimbingan belajar, bela diri, kepramukaan dan masih banyak lagi. Hal yang terbaik menjauhkan anak di usia dini pada gadget adalah perbanyak bergaul dan sosialisasi dengan sesama. Buatlah masa kecil anak kita sebagaimana mesti nya, sehingga pertumbuhan anak sekarang tidak cenderung pasif dengan aktivitas yang ada. Mereka tidak akan kaget setelah dewasa nanti memiliki masa kecil yang begitu indah tanpa harus dengan gadget. Jangan biarkan anak cucu kita menghabiskan waktu dengan gadget nya yaa bun.</p>
<p>Yuk, jangan dulu berikan gadget pada anak-anak di usia dini. Sarana komunikasi yang baik adalah salah satu nya dengan selalu berada di dekat anak. Kesibukan orang tua memang tidak ada yang tahu, namun kebersamaan bersama anak adalah hal yang utama di dunia.</p>
<p><strong>Reni Marlina (Writer Executive Media)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/bunda-jangan-berikan-gadget-pada-anak-di-usia-dini/">Bunda, Jangan Berikan Gadget pada Anak di Usia Dini</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak  Sebagai Korban Kejahatan Media Digital</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/anak-sebagai-korban-kejahatan-media-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 May 2016 15:07:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6097</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kita menyadari kalau media digital bagi anak dan remaja memberikan kesempatan untuk akses informasi global,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/anak-sebagai-korban-kejahatan-media-digital/">Anak  Sebagai Korban Kejahatan Media Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kita menyadari kalau media digital bagi anak dan remaja memberikan kesempatan untuk akses informasi global, sumber edukasi, jaringan sosial antarteman, tempat untuk mendapatkan hiburan, games, dan partisipasi dalam komunitas online. Namun, selain itu terdapat risiko yang mengintai, seperti berkeliarannya pedofil di dunia maya, penyebaran kebencian, informasi yang tidak jelas kebenarannya, penyalahgunaan data pribadi, hacking, penculikan, cyber-bullying atau gangguan pada anak yang terjadi melalui internet, dan masih banyak risiko lainnya.</p>
<p>Pada 2014 pemerintahan kita, di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika, bekerja sama dengan UNICEF melakukan riset yang melibatkan anak dan remaja usia 10-19 tahun yang tersebar di seluruh negeri dan mewakili wilayah perkotaan dan perdesaan dengan judul &#8220;Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia&#8221;, menemukan fakta bahwa setidaknya ada 30 juta anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet.</p>
<p><strong>Pornografi</strong></p>
<p>Permasalahan eksploitasi dan kejahatan seksual terhadap anak selalu menjadi perbincangan serius akhir-akhir ini, hal ini terlihat pada pemberitaan media baik itu media elektronik, media cetak maupun media televisi. Mudahnya akses terhadap konten pornografi melalui media internet juga menjadi salah satu penyebab utama kejahatan seksual anak di Indonesia.</p>
<p>Motivasi anak-anak dan remaja menggunakan internet, yaitu untuk mencari informasi, terhubung dengan teman (lama dan baru), dan untuk hiburan. Pencarian informasi dilakukan karena adanya tugas sekolah. Sedangkan, penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi. Sayangnya, terkadang rasa penasaran anak-anak terhadap sesuatu menimbulkan rasa ingin tahu untuk mengakses situs-situs yang dilarang untuk anak seusianya. Terlebih lagi jika tidak mendapat pengawasan dari orang tua.</p>
<p><strong>Peran orang tua</strong></p>
<p>Adapun, peran orang tua di rumah untuk mendukung anak menggunakan internet dengan aman,pertama, membatasi waktu anak menggunakan internet (pembagian waktu untuk belajar, bermain games, dan aktivitas di komunitas online).</p>
<p>Kedua, dengan monitoring, yaitu mengawasi teman yang ditambahkan ke kontak anak di profil jejaring sosial atau aplikasi pesan serta mengawasi dengan siapa saja ia berkomunikasi via chat di media sosial serta status-status sang anak yang ia tulis di halaman media sosial miliknya.</p>
<p>Ketiga, memberlakukan pembatasan ketika mengunggah foto, video, pembatasan informasi pribadi yang bisa dilihat oleh publik maya, pembatasan ketika menonton video di internet, dan film di internet.</p>
<p>Peran orang tua berikutnya diberikan oleh salah seorang ibu tiga anak. “ Kita sebagai orang tua perlu melakukan pengawasan aktif dalam hal keamanan menggunakan internet, seperti memberikan arahan bersikap terhadap orang lain di dunia maya dan penanganannya jika ada yang melakukan bully. Melakukan diskusi dengan anak terhadap hal-hal yang membuatnya penasaran,” ujar Hera.</p>
<p><strong>Peran Sekolah</strong></p>
<p>Hera juga melanjutkan pentingnya peran sekolah dalam membantu mencegah anak-anak menjadi korban kejehatan media digital. Hera merupakan seorang guru bimbingan konseling disalah satu sekolah di Jakarta.</p>
<p>“Jika ada tugas yang harus mengakses internet, para guru sebelumnya harus memberikan pengertian pada anak untuk tidak membuka konten-konten berbau pornografi yang terkadang suka muncul dibeberapa situs sebagai iklan. Berikan pengertian bahayanya membuka konten berbau pornografi tersebut bagi anak, jangan hanya melarang namun kita tidak memberikan pengertian yang justru nantinya anak akan semakin bertanya-tanya,”ujarnya.</p>
<p>Peran orang tua maupun sekolah tentunya sangat penting demi mencegah anak-anak menjadi korban media digital. Keduanya harus bekerja sama dalam mendidik anak-anak. Jika saja keduanya bekerja sama dengan baik, tentunya akan ada banyak anak-anak, generasi penerus bangsa yang terhindar dari bahayanya media digital yang sangat bebas ini.</p>
<p>Bisa kita ambil kasus saat saya melihat sebuah komentar di media sosial yang ditulis oleh anak-anak usia 15 tahun di halaman milik teman sekelasnya. Mereka menuliskan kata-kata yang menyakitkan berupa ejekan. Perilaku tersebut tentunya tidak mendapatkan pengawasan dari orang tua maupun guru. Sampai anak perempuan yang mereka ejek itu menjadi tertekan di rumahnya. Setelah beberapa bulan, orang tua anak perempuan itu menyadari perubahan sang anak, jika ditanya anak itu akan menggeleng dan tak mau menjelaskan.</p>
<p>Akhirnya, orang tua anak itu melihat akun media sosial anaknya dan melihat ejekan-ejekan yang dilakukan teman-teman sekolahnya begitu menyakitkan dan membuat sang anak tertekan. Setelah itu, kedua orang tuanya datang ke sekolah dan meminta bantuan para guru untuk membantu anaknya yang menjadi korban cyber bullying. Anak perempuan itu adalah salah satu teman dekat saya.</p>
<p>Dari kasus tersebut, jelaslah sudah jika peran orang tua, keluarga, dan sekolah sangatlah penting. Mari melakukan perannya masing-masing demi mencegah bertambahnya anak-anak menjadi korban dari media digital.</p>
<p><strong>Aulia Claudia Putri</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/anak-sebagai-korban-kejahatan-media-digital/">Anak  Sebagai Korban Kejahatan Media Digital</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kekurangan Bukan Penghalang</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/kekurangan-bukan-penghalang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 May 2016 07:11:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.depokpos.com/?p=6046</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memiliki anak dengan fisik yang sempurna adalah harapan semua orang tua. Begitu pula dengan pasangan&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/kekurangan-bukan-penghalang/">Kekurangan Bukan Penghalang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Memiliki anak dengan fisik yang sempurna adalah harapan semua orang tua. Begitu pula dengan pasangan suami istri Alal dan Yati, yang sangat berharap agar anak kelimanya terlahir tanpa kekurangan sedikit apapun.</p>
<p>Anak kelimanya berjenis kelamin perempuan, lahir di Depok pada tanggal 1 Februari 2008. Ia diberi nama Nur Aini Febrianti (8), ia sering disapa dengan sebutan Aini. Aini berparaskan cantik dengan wajah mungilnya dan bulu mata lentik. Tubuhnya kecil seperti anak-anak seusianya, serta gaya fashionnya yang selalu menggunakan bando atau hiasan rambut berwarna pink, membuat dirinya terlihat sangat ceria dan bersemangat.</p>
<p>Aini memang dilahirkan secara normal seperti kelima saudaranya. Namun, Aini terlahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Telinganya tidak seperti telinga orang-orang pada umumnya. Kedua daun telinganya tidak terbentuk sempurna. Terlipat ke dalam dan menutupi lubang telinganya, untuk orang awam lebih menilai daun telinganya berbentuk seperti kerang hijau yang biasa kita makan di restoran seafood dan yang sering kita jumpai di pasar. Memang aneh kedengarannya. Orang tuanya juga tidak mengetahui apa penyebabnya, bahkan medis pun tidak bisa menjelaskan secara detail mengenai penyebab terjadinya hal ini.</p>
<p>Orang tuanya sangat terpukul dengan keadaan yang diderita oleh putri kecilnya.“Kenapa ini terjadi pada putriku ? Bagaimana jika di masa depan ia harus menerima cemoohan dari teman-temannya ? Bagaimana jika ia merasa minder dengan keadaan seperti ini ? Serta bagaimana jika di masa yang akan datang tidak ada yang mau berteman dengannya karena keterbatasan fisiknya ?”Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu membuat orang tuanya merasa gundah gulana.Belum lagi saat nanti putri mereka tumbuh dewasa dan sudah mengerti bahwa keadaanya tidak sempurna seperti kakak-kakaknya ataupun teman-temannya.</p>
<p>Sebagai kakak, rasa kasihan, sedih, bahkan bingung pun saya rasakan. Saya juga memiliki pertanyaan yang sama di dalam fikiran saya mengenai bagaimana dengan adikku kelak.<br />
Apa yang telah membuat dia seperti ini? Ada apa dengan dirinya? Kuatkanlah Tuhan.</p>
<p>Berikanlah bidadari kecil orang tua ku ini ketabahan untuk menjalani hidup dengan keadaanya sekarang.</p>
<p>Saat adikku berusia lima tahun ia tidak ingin bersekolah di taman kanak-kanak, ia ingin langsung ke SD (Sekolah Dasar). Tetapi karena usianya yang belum bisa untuk masuk ke SD, akhirnya ia harus menunggu hingga ia berusia tujuh tahun. Awalnya ibunya merasa tidak yakin jika ia harus masuk ke sekolah umum dengan alasan keterbatasan fisik yang dimiliki. Namun, di lain sisi ayah yakin bahwa kepintaran serta kecerdasaan putri kecilnyasetara dengan anak-anak yang memiliki fisik sempurna. Di dalam kelas ia belajar biasa seperti murid lainnya, namun saat suasana ruang kelas sedang berisik, ia mengaku sulit mendengar, walaupun ia sudah duduk di tempat duduk yang terdepan. Hal itu yang membuat ibuku semakin khawatir dengan keadaan putri kecilnya di sekolah.</p>
<p>Memang benar ucapan adalah doa, ayahn yang berucap kalau putrinya memiliki kecerdasan yang setara dengan anak lainnya kini benar-benar terbukti. Dengan keterbatasan telinga yang dimiliki anaknya hingga mengakibatkan kurang dalam hal pendengaran tidak membuat putri dambaanya terpuruk dalam pendidikannya. Aini pun mampu mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah dengan sangat baik bahkan lebih baik dari teman-temannya yang secara fisik sempurna. Tidak tanggung-tanggung Aini mendapatkan peringkat satu di kelasnya.</p>
<p>Walaupun Aini unggul di mata pelajaran, tetap saja ia mendapatkan cemoohan dari teman-teman sekelasnya.<br />
“Kok Aini kupingnya kecil sih ?”<br />
“Aini kalau kuping kamu kaya gitu, kamu enggak bisa denger”<br />
“Aini kupingnya ihh &#8230;”</p>
<p>Kalimat-kalimat itu sering sekali terlontar dari mulut teman-temannya. Aini hanya bisa menjawab, dengan jawaban yang polos serta lugu. “Ih kan emang kuping aku kaya gini,” jawaban itu yang selalu ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan atau mungkin cemoohan dari teman-temannya.</p>
<p>Pernah suatu hari saat ia ingin pergi untuk bersekolah, Aini tertabrak oleh sepeda motor. Keadaanya memang tidak parah saat itu, tetapi yang membuat hati ayah dan ibu bahkan aku sebagai kakak tertua terenyuh. Ketika Aini ditanya kenapa bisa tertabrak, ia menjawab “Aini enggak denger suara tin-tin-tin motornya bu,”sungguh ibuku merasa kasihan serta terpukul ketika jawaban lugu yang keluar dari mulut mungil anaknya.</p>
<p>Mungkin sekarang Aini masih kecil dan belum menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan, tapi suatu saat ia akan mengerti keadaan fisiknya tidak sama seperti orang lain. Bully serta cemoohan mungkin akan diterimanya, tetapi ayah dan ibu akan membuktikan bahwa bidadari surga yang mereka miliki mampu melewati cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya.</p>
<p>Menurut dokter memang bisa telinga Aini dioperasi hingga berbentuk seperti bentuk telinga yang normal, namun biaya operasi yang tinggi menjadi penghalang orang tua kuuntuk menunda tindakan operasi untuk adik kecilku. Maklum saja, kami bukan keluarga yang bisa bergelimang harta. Menurut kami, biaya untuk operasi bukan biaya yang kecil.</p>
<p>“Jangan malu dengan keadaan fisik mu, kamu tetap bidadari ayah dan ibu yang cantik. Jangan pedulikan cemoohan mereka. Mereka hanya peduli dengan kekuranganmu. Buktikan kepada mereka kalau Aini lebih hebat dari mereka yang memiliki fisik yang sempurna,” begitu ucapan semangat yang terlontar dari mulut ayahnya untuk menyemangati sang bidadari surga miliknya. “Bersabarlah nak! jika ada rezeki, kita akan segera mengobati dan memperbaiki telinga mu nak,” ucap ayah sambil membelai rambut hitam putri kecilnya.</p>
<p><strong>Elsi Cahyani </strong></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/kekurangan-bukan-penghalang/">Kekurangan Bukan Penghalang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
