Kembangkan Potensi Diri dengan Transformasi Pendidikan

DEPOK POS – Transformasi merupakan perubahan rupa dalam wujud bentuk, sifat, fungsi, dan sebagainya. Sedangkan definisi pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan.

Dari pengertian tersebut transformasi pendidikan dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dilakukan manusia dalam mempelajari dan mengembangkan kehidupan selama waktu hidupnya.

Berbicara pendidikan, seringkali dipandang hanya pada lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Padahal kedua institusi tersebut hanya menampilkan satu sisi dari dunia pendidikan.

Dalam sisi pendidikan formal diantaranya: Mengumpulkan pengetahuan, Menjadi pintar, Berfikir kritis, Mengingat teori dan Orientasi ke teknis. Sedangkan dari sisi yang lain terdapat pada pendidikan informal dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya: Menciptakan ide, Menjadi bernyali (berani), Berfikir kreatif, Mempertanyakan teori dan Orientasi ke potensi diri.

⦁ Dari Mengumpulkan Pengetahuan Menuju Penciptaan ide

Sudah saatnya kita menggeser pandangan dalam mempelajari pengetahuan, yaitu pengetahuan tidak hanya sekedar kita kumpulkan karena sudah terdapat banyak alat pengumpul pengetahuan salah satunya yaitu buku.

Pengetahuan harus dijadikan pemicu terciptanya sebuah ide baru yang segar. Pengetahuan dijadikan landasan untuk melahirkan pengetahuan baru yang lebih kreatif dan inovatif yang mampu menjawab persoalan kehidupan pada masa yang akan datang.

⦁ Dari Pintar Menuju Berani

Banyak orang pintar lulusan perguruan tinggi favorit yang tidak berdaya menolong dirinya sendiri. Mereka menganggur dan tidak produktif. Ketidak berdayaan mereka ditopang oleh ketakutan untuk mandiri, dan merasa tidak mampu untuk mendayagunakan sumber daya sendiri.

Untuk menghindari hal tersebut, lengkapilah kepintaran kita dengan keberanian. Berani untuk menentukan nasib dan massa depan sendiri dengan mendayagunakan semua sumber daya yang dimiliki.

⦁ Dari Berfikir Kritis Menuju Berfikir Kreatif

Cara berfikir kritis sebagai output dari otak kiri, sedangkan cara berfikir kreatif merupakan output dari otak kanan. Cara berfikir kreatif harus diberi kesempatan yang sama dengan cara berfikir kritis untuk mengambil perannya dalam merespon setiap masalah sehingga akan melahirkan generasi yang kritis sekaligus kreatif.

Maka dari itu kita harus mulai mengaktifkan penggunaan otak kanan untuk mengimbangi otak kiri yang sudah bekerja keras.

⦁ Dari Mengingat Teori Menuju Mempertanyakan Teori

Ketika masih duduk di bangku SD, kita dihadapkan dengan berbagai hafalan dan itu berlanjut sampai SMA dan mungkin juga kuliah. Kita terpaksa menghafal hanya untuk mendapatkan nilai bagus dalam ujian. Setelah itu, hafalan tersebut akan dilupakan.

Setelah kita dipaksa untuk mengingat banyak teori, sudah saatnya kita mempertanyakan kebenarannya. Dengan mempertanyakan kebenaran teori tersebut bukan berarti kita tidak mempercayainya. Akan tetapi kita memulai menyusun teori baru. Apabila kita menemukan teori baru yang mampu dibuktikan kebenarannya, maka hal itu bisa menggugurkan teori lama.

⦁ Dari Hal Teknis Menuju Potensi

Selama menempuh pendidikan formal, keterampilan teknis untuk bisa mengerjakan suatu pekerjaan dengan tingkat keahlian yang tinggi terus diasah. Sementara itu, potensi kita dibiarkan tidur lelap dalam waktu yang panjang. Akibatnya, ketika kita terampil dalam bekerja, kita hanya akan jadi pesuruh orang lain yang sudah membangunkan potensinya sejak lama.

Berikut ini potensi yang bisa menjadikan kita sebagai majikan bagi diri kita sendiri dan orang lain, yaitu:

⦁ Kekuatan dan kelemahan diri serta visi hidup kita.
⦁ Bakat terpendam yang kita miliki.
⦁ Hobi dan kebiasaan kita.

Maka dari itu, lakukanlah perjalanan ke dalam diri kita dan segera bangunkan potensi dalam diri kita sebelum terlambat.

Oleh: Anggi Repangga Hakim

Pos terkait