Ketua PSSI Papua Pegunungan Yang Juga Sebagai Bupati Kabupaten Jayawijaya Resmi Buka Kongres Biasa 2025

Ketua PSSI Papua Pegunungan Yang Juga Sebagai Bupati Kabupaten Jayawijaya Resmi Buka Kongres Biasa 2025

KABARTODAY,WAMENA | Ketua PSSI Provinsi Papua Pegunungan, Atenius Murip, SH, MH, secara resmi membuka pelaksanaan Kongres Biasa PSSI Papua Pegunungan Tahun 2025 yang digelar di Wamena. Kegiatan ini merupakan evaluasi satu tahun kerja perdana kepengurusan PSSI Papua Pegunungan sejak terbentuknya provinsi baru.

Dalam sambutannya, Atenius Murip yang juga menjabat sebagai Bupati Kabupaten Jayawijaya menyampaikan bahwa kongres biasa ini menjadi forum penting untuk menyampaikan berbagai keputusan strategis kepada seluruh delegasi voters, PSSI kabupaten/kota, serta para presiden klub dari delapan kabupaten yang hadir.

> “Kongres ini merupakan satu tahun setelah kerja perdana. Banyak hal yang kami sampaikan kepada seluruh voters, termasuk perubahan nomenklatur organisasi yang sebelumnya dikenal sebagai Askab dan Asprov, dan kini secara resmi menjadi PSSI,” jelas Atenius Murip.

Ia menegaskan bahwa melalui kongres tersebut, PSSI Papua Pegunungan secara resmi menginstruksikan kepada seluruh PSSI kabupaten/kota agar tidak lagi menggunakan istilah maupun logo Askab dan Asprov, melainkan mengikuti struktur organisasi baru, yakni PSSI Pusat, PSSI Provinsi, dan PSSI Kabupaten/Kota.

Selain itu, pengurus PSSI Provinsi Papua Pegunungan juga menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program kerja selama satu tahun kepada seluruh voters yang hadir. Dalam sidang kongres tersebut, Statuta PSSI Tahun 2024 secara resmi dicabut dan ditetapkan Statuta PSSI Papua Pegunungan Tahun 2025 sebagai dasar hukum organisasi ke depan.

Lebih lanjut, Atenius Murip menjelaskan bahwa statuta baru tersebut memandatkan para pimpinan PSSI kabupaten untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing guna menggelorakan olahraga sepak bola di wilayahnya.

“Kami menekankan penguatan empat pilar utama, yakni organisasi yang berjalan dan diperkuat, pengembangan sumber daya manusia—baik wasit, pemain, maupun pelatih—serta sarana dan prasarana, minimal satu stadion standar di setiap kabupaten yang dapat diupayakan melalui APBD,” ujarnya.

Pilar keempat, lanjutnya, adalah kompetisi sebagai output dari pembenahan organisasi, peningkatan SDM, dan tersedianya infrastruktur. Kompetisi ini mencakup seluruh jenjang, mulai dari usia sekolah hingga Liga 4.

Dalam kongres tersebut juga diputuskan penambahan jumlah klub peserta Liga 4 Papua Pegunungan. Dari sebelumnya sembilan klub, kini ditambah tiga klub baru, guna menampung lebih banyak atlet sepak bola dari wilayah pegunungan.

> “Penambahan ini bertujuan memberikan ruang dan kesempatan seluas-luasnya bagi atlet Papua Pegunungan agar potensi mereka dapat berkembang dan kelak mewakili kabupaten, provinsi, bahkan nasional,” tambahnya.

Terkait keanggotaan klub baru, Atenius Murip menjelaskan bahwa seluruh klub telah diberikan kesempatan menyampaikan kesiapan di hadapan voters, termasuk pemenuhan persyaratan administrasi sesuai regulasi PSSI.

> “Kami memahami tantangan geografis di daerah pegunungan sangat tinggi. Karena itu, kesiapan dan kesanggupan klub, termasuk pembiayaan mandiri, menjadi perhatian agar semangat sepak bola di Papua Pegunungan tetap hidup dan berkembang,” pungkasnya.

Kongres Biasa PSSI Papua Pegunungan 2025 ini diharapkan menjadi tonggak penguatan tata kelola sepak bola yang lebih profesional, terstruktur, dan berkelanjutan di wilayah Papua Pegunungan.

Pos terkait