<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tasawuf Arsip - Kabar Today</title>
	<atom:link href="https://kabartoday.co.id/tag/tasawuf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/tasawuf/</link>
	<description>Berani Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jul 2024 02:39:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://kabartoday.co.id/site/wp-content/uploads/2025/10/cropped-IMG_20251026_055359-32x32.jpg</url>
	<title>Tasawuf Arsip - Kabar Today</title>
	<link>https://kabartoday.co.id/tag/tasawuf/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cinta dan Koneksi: Penelusuran Aspek Psikologis dalam Konsep Hubungan dengan Allah dan Manusia dalam Tasawuf</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/cinta-dan-koneksi-penelusuran-aspek-psikologis-dalam-konsep-hubungan-dengan-allah-dan-manusia-dalam-tasawuf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jul 2024 02:39:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=72021</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Tasawuf telah berkembang sebagai tradisi spiritual yang kaya dalam Islam selama berabad-abad. Tasawuf,&#160;[&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/cinta-dan-koneksi-penelusuran-aspek-psikologis-dalam-konsep-hubungan-dengan-allah-dan-manusia-dalam-tasawuf/">Cinta dan Koneksi: Penelusuran Aspek Psikologis dalam Konsep Hubungan dengan Allah dan Manusia dalam Tasawuf</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Tasawuf telah berkembang sebagai tradisi spiritual yang kaya dalam Islam selama berabad-abad. Tasawuf, yang berasal dari kata Arab &#8220;sufi&#8221;, menekankan pentingnya penyucian diri dan hati untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Para Sufi percaya bahwa orang dapat mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan mengalami cinta ilahi yang mendalam melalui praktik spiritual dan kontemplasi yang mendalam. Tasawuf adalah ilmu mencari hikmah melalui hati yang suci dan ikhlas. Tasawuf harus ditempatkan pada tataran etis, dengan stereotip yang telah lama dianut oleh pengikutnya.</p>
<p>Dalam pengertian ini tasawuf merupakan perwujudan kesadaran spiritual manusia yang menganggap dirinya sebagai makhluk Tuhan. Kesadaran ini mendorong orang untuk memusatkan perhatiannya pada ibadah kepada Sang Pencipta , yang melibatkan kehidupan zuhud, dan tujuannya adalah pengembangan karakter.</p>
<p>Pengaruh tasawuf terhadap kehidupan spiritual tidak hanya terbatas pada kalangan elite agama saja, namun meluas ke seluruh lapisan masyarakat, mulai dari lapisan atas hingga lapisan masyarakat terbawah.</p>
<p>Memang benar, alternatif terhadap tasawuf menjadi perhatian para pencari identitas di masyarakat Barat di tengah krisis yang menggerogoti setiap aspek kehidupan manusia modern. Seperti yang diprediksi oleh fisikawan Fridtjof Capra dalam bukunya The Turning Point, meramalkan bahwa pada awal dekade kedua abad ke-20, umat manusia akan menghadapi krisis global, serta krisis yang kompleks dan multidimensi.</p>
<p>Manusia lahir dengan kemampuan untuk mengenal tuhan, kemampuan ini ada dalam seluruh manusia karena adanya “ruh”, potensi inilah yang disebut fitrah dalam agama islam, Ketuhanan ini tidak dapat dielakkan karena merupakan pembawaan secara intrinsik. Pengajaran tasawuf bertujuan untuk membangun hubungan langsung dan sedekat mungkin dengan Allah sehingga orang dapat merasa berada di dekat-Nya. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menggunakan metode kontemplasi yaitu melepasakan diri dari jeratan kehidupan duniawi yang bersifat sementara dan selalu berubah.</p>
<p>Dalam hal ini Tasawuf, juga disebut sufisme, memiliki beberapa aspek psikologis yang terkait dengan spiritualitas dan kesehatan mental manusia. Kajian Psikologi memiliki kesamaan dengan tasawuf yaitu pensucian diri dengan cara menjaga perilaku, dan juga adanya persamaan tentang perkembangan jiwa dan potensi dasar. Manusia yang sehat secara psikologis memiliki potensi ruhaniah, yang berarti mereka memiliki perilaku yang baik. Potensi ini, dalam istilah nafs atau psikologi, dianggap memiliki hubungan dengan tingkah laku psikologis, yang tercermin dalam keseimbangan perilaku yang ditampilkan.</p>
<p>Mahabbah dalam tasawuf merupakan istilah cinta yang menjadi pilar utama bagi kehidupan seorang sufi, cinta Allah kepada hamba ditunjukkan dengan kedekatan, sedangkan cinta hamba kepada Allah ditunjukkan dengan taat melakukan perintah-Nya, menjauhi larangan dan mempersembahkan kepasrahan total di hadapannya.</p>
<p>Mahabbah adalah konsep tertinggi dalam dunia tasawuf, yang mana &#8220;cinta” yang bersifat mutlak dan sebagai anugrah dari seorang hamba terhadap Tuhannya, orang dapat mengenal sesuatu hanya sesuai dengan cintanya kepadanya sedangkan menurut para ulama sufi cinta (mahabbah) adalah kehendak, yaitu kehendak-Nya untuk melimpahkan rahmat secara khusus kepada hamba sebagaimana kasih sayang Allah bagi hamba yang dia kehendaki (Mudaimin, 2020)</p>
<p>Metode pengumpulan data dalam penelitian menggunakan gaya penelitian kepustakaan. Sumber data utama penelitian ini adalah literatur berupa buku dan karya ilmiah dengan topik “Eksplorasi Aspek Psikologi dalam Konsep Hubungan dengan Tuhan”. orangorang tasawuf. Metode Analisis Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan atau menggambarkan data yang dikumpulkan. Alat yang digunakan berupa dokumen-dokumen yang mendukung objek penelitian.</p>
<p>HASIL dan PEMBAHASAN Hubungan Allah dengan Manusia dalam konsep Tasawuf</p>
<p>Menurut aliran tasawuf, hubungan antara Tuhan dan manusia lebih dari sekedar hubungan hamba Tuhan. Tasawuf atau tasawuf adalah salah satu cabang ilmu mistik Islam yang menekankan interaksi langsung dan langsung dengan Tuhan. Hubungan antara Tuhan dan manusia sangat kompleks, dan terdapat beberapa konsep penting. Isa, Marifa, Fana dan Baqa, Tariqa, Cinta Tuhan, Wahdat al-Wujud, dll. Konsep ini dapat menciptakan hubungan yang penuh cinta, pengabdian, dan pemahaman mendalam akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari</p>
<p>Salah satu konsep terpenting dalam tasawuf adalah Ehsan, yang berarti “perbuatan baik” atau “perbuatan baik”. Ehsan dalam konteks hubungan kita dengan Allah berarti beribadah kepada Allah seolah-olah Dia terlihat dan beriman bahwa Dia melihat kita meskipun kita tidak dapat melihat-Nya. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dan betapa hadirnya Dia dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Marifa adalah pengetahuan spiritual tertinggi tentang Allah yang diperoleh melalui pengalaman langsung dan meditasi. Dalam tasawuf, para sufi berupaya mencapai marifah dengan mendekatkan diri kepada Allah dan mengenal-Nya lebih dalam.Dua konsep utama tasawuf adalah fana (pemusnahan diri) dan baqa (keabadian di dalam Allah). Setelah menjadi manusia fana, para sufi mencapai Baka, di mana mereka hidup dalam kesadaran terus-menerus akan kehadiran Allah dan mencapai keselarasan dan keselarasan abadi dengan-Nya.</p>
<p>Tarekat adalah jalan atau perintah spiritual yang diikuti para sufi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap pesanan memiliki praktik dan metode tertentu, termasuk: B. Dzikir (mengingat Tuhan), Muhasabah (introspeksi), Murakabah (pengendalian diri). Tujuannya adalah untuk membantu siswa mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf mengutamakan cinta ilahi. Para sufi benar-benar mencintai Allah dan berusaha untuk memiliki hubungan yang penuh kasih dan intim dengan-Nya.Cinta ini dianggap sebagai motif utama dalam segala perbuatan dan ibadah, karena mendekatkan manusia kepada Tuhan dan membuat mereka merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan.</p>
<p>Tasawuf Sebagai Cinta Ilahi (Mahabbah)</p>
<p>Menurut ulama sufi, cinta (mahabba) lebih konkrit dibandingkan kasih sayang. Sebab cintanya adalah melimpahkan nikmat kepada hamba-hambanya, dan cintanya kepada mereka adalah keinginannya untuk melimpahkan nikmat kepada mereka, ketika Allah SWT ingin melimpahkan rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya, maka hal itu disebut rahmat, ketika Tuhan ingin memberikan perhatian khusus kepada hamba-Nya, itulah yang disebut Mahaba. Al-Mahaba adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual, seperti cinta seseorang terhadap kekasihnya, orang tua terhadap anaknya, bangsa terhadap tanah airnya, atau pekerjaan seorang pekerja juga berarti Pada tingkat yang lebih tinggi, Mahava juga dapat berarti usaha tulus seseorang untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi dengan mencapai gambaran Yang Mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan.</p>
<p>Menurut terminologi Ibnu Hajim yang dikutip Khalid Jamal, adalah ungkapan emosi jiwa, ungkapan hati, dan gejolak naluri yang merenggut hati seseorang terhadap kekasihnya ia dilahirkan dengan gairah, cinta dan kegembiraan meskipun segala sesuatunya sederhana pada awalnya, cinta tumbuh semakin kuat di hatinya cinta itu sangat lembut cinta sejati hanya bisa dipahami melalui pengorbanan. Karena banyaknya sufi yang membahas tentang cinta, maka penulis hanya memperkenalkan beberapa sufi yang pandangannya tentang cinta dinilai cukup luar biasa diantaranya adalah Umm al-Khair Rabia binti Ismail al-Adawiya al-Kisiyah yang memperkenalkan ajaran Mahaba. Rabia al-Adawiya menganut ajaran Zuhud dengan menekankan falsafah habu (cinta) dan shauk (kerinduan) kepada Allah SWT cintanya tulus tanpa mengharapkan apapun dari Allah SWT. (9) Zunun al-Misri adalah seorang sufi yang hidup pada pertengahan Hijriah pada abad ke-3 nama lengkapnya adalah Abu al-Faydol bin Ibrahim Zun Anun al-Mishri ia dianggap sebagai salah satu pendiri tasawuf, sebagaimana ia hidup pada awal perkembangannya.</p>
<p>Menurut al-Ghazali, Mahabba adalah cinta kepada Allah, keadaan akhir dan tahapan tertinggi dari semua keadaan berikutnya, dan hasil dari semua keadaan sebelumnya ini adalah langkah pertama untuk mencintai Allah Al-Ghazali membahas tentang pengertian cinta secara umum oleh karena itu, cinta yang sempurna diartikan sebagai apa yang membuat Anda bahagia, yaitu kecenderungan yang kuat terhadap agresi perasaan enggan untuk melakukan sesuatu yang menyakitkan secara terus-menerus disebut kebencian perasaan terikat yang kuat dan bertahan lama ini disebut balas dendam, begitu kita mengetahui sesuatu, kita mengembangkan kecenderungan atau perasaan penolakan terhadapnya panca indera melihat objek nyata, namun indra keenam, akal, cahaya, dan jiwa, membantu kita memahami hal-hal abstrak indra keenam sangat baik dalam mengenali keindahan fisik.</p>
<p>Kecintaan manusia kepada Tuhan yang timbul dari kodratnya menjadi sangat kuat oleh karena itu, cinta kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai kecenderungan sifat manusia yang terjadi ketika jiwa merasa bahagia karena mengetahui indahnya sifat Tuhan inilah kecenderungan yang mendatangkan cinta. Menurut pandangan sufi, al-Mahabba adalah kecintaan Salih kepada Dzat Yang Maha Benar (al-Haqq) dalam segala macam ibadah kepada Tuhan dan hubungan antar manusia hal ini dianggap sebagai salah satu maqam tasawuf para sufi percaya bahwa setiap mukmin mempunyai latar belakang dan motivasi yang unik mereka beribadah untuk masuk surga dan selamat dari neraka.</p>
<p>Dengan penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa Mahava adalah keadaan jiwa yang benar-benar mencintai Tuhan, dan sifat-sifat Sang Kekasih (Tuhan) masuk ke dalam Sang Kekasih tujuannya adalah untuk mencapai kegembiraan batin, yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi hanya bisa dirasakan oleh jiwa selain itu, mahabba, sebagaimana disebutkan sebelumnya, mengacu pada keadaan pikiran seperti kebahagiaan, kesedihan, dan ketakutan. Hal ini terkait dengan makam yang diterima sebagai anugerah dan anugerah dari Tuhan, bukan hasil usaha manusia. Hal ini berbeda dengan maqam yang bersifat sementara dan terus menerus yang dialami oleh para sufi ketika mendekatkan diri kepada Tuhan. Mencintai Allah tanpa pamrih karena Dialah Allah dan berhak disembah, atau mencintai-Nya karena berharap Surga atau takut menderita Neraka, bukanlah cara mencintai Allah yang benar.</p>
<p>Cinta sebenarnya adalah perasaan yang sangat menyenangkan dan tidak ada yang lebih baik dari itu Rabia mengatakan bahwa Mahabba (cinta Tuhan) merupakan tujuan akhir hidup dan tahapan tertinggi tasawuf namun, dia tidak langsung mencapai tahap ini namun ada jalan (tarikat) dan maqamat (tahapan) yang harus dilalui seseorang untuk mencapai maqam. Taubat, wala, taubat, fakr, sabar, tawakkal dan ikhlas adalah langkah-langkahnya (Cinta Tuhan).</p>
<p>Kajian ini menjelaskan tentang konsep cinta dan keterhubungan dalam tasawuf, salah satu aliran tasawuf Islam, dengan penekanan pada aspek psikologis hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia. Sufisme percaya bahwa melalui praktik seperti zikir, meditasi, dan kontemplasi, seseorang dapat mengembangkan hubungan spiritual yang mendalam dengan cinta ilahi (mahabba) dan Allah, yang dapat mengarah pada kedamaian batin, kebahagiaan, dan pencerahan.</p>
<p>Artikel ini menjelaskan beberapa konsep penting tasawuf, seperti Ehsan (perbuatan baik), Marifa (ilmu spiritual), Fana dan Baqa (pelenyapan diri dan keabadian di dalam Allah), dan Tariqa (jalan spiritual). Selain itu, penelitian ini menghubungkan konsep-konsep ini dengan pengembangan kepribadian dan kesehatan mental.</p>
<p>Secara khusus mahabba dalam tasawuf dipahami sebagai cinta yang murni dan utuh kepada Allah, yang menjadikan seorang sufi tunduk dan membuatnya merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya. Mahabba dianggap sebagai tujuan akhir kehidupan seorang sufi dan merupakan tahap tertinggi dalam pencarian spiritual mereka. Sebagai bagian dari tinjauan metodologis, penelitian ini menggunakan penelitian literatur untuk mengeksplorasi dan menganalisis literatur terkait konsep tasawuf yang disajikan.</p>
<p>Secara keseluruhan, artikel ini membahas tentang fakta bahwa tasawuf tidak hanya merupakan bagian integral dari tradisi spiritual Islam, tetapi juga memiliki pengaruh penting terhadap pemahaman dan praktik spiritualitas, serta kesehatan mental individu.</p>
<p>Tazkya Aulia Badjeher , Deva Putri Puspitasari<br />
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/cinta-dan-koneksi-penelusuran-aspek-psikologis-dalam-konsep-hubungan-dengan-allah-dan-manusia-dalam-tasawuf/">Cinta dan Koneksi: Penelusuran Aspek Psikologis dalam Konsep Hubungan dengan Allah dan Manusia dalam Tasawuf</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://storage.nu.or.id/storage/post/16_9/mid/1566902026.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Antara Psikologi Tasawuf dan Kecerdasan Emosional</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/antara-psikologi-tasawuf-dan-kecerdasan-emosional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2024 01:41:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa kunci keberhasilan Kecerdasan Emosional dalam meningkatkan kesejahteraan hidup? Apakah psikologi tasawuf dapat menjawabnya?</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/antara-psikologi-tasawuf-dan-kecerdasan-emosional/">Antara Psikologi Tasawuf dan Kecerdasan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Apa kunci keberhasilan Kecerdasan Emosional dalam meningkatkan kesejahteraan hidup? Apakah psikologi tasawuf dapat menjawabnya?</p>
<p>Sebagian dari kita sering kali kesulitan dalam mengelola emosi serta perasaan yang terdapat dalam diri kita,mengapa hal itu bisa terjadi?</p>
<p>Dikarenakan kecerdasan emosional yang terdapat di setiap individu berbeda, kecerdasan emosional sangat berpengaruh pada kesejahteraan hidup dan meningkatkan kualitas hidup individu, namun, dengan cara apa kita bisa mendapatkan kecerdasan emosional yang tinggi?</p>
<p>Apakah ada cara yang dapat diikuti selama ini? Artikel ini akan mengulas secara menyeluruh tentang peran penting kecerdasan emosional dalam meningkatkan kesejahteraan hidup serta potensi psikologi tasawuf sebagai cara untuk menemukan solusi dan masalah.</p>
<p>Kecerdasan emosional (EQ) sendiri merupakan suatu kecakapan individu yang dapat dilihat dari kecepatan dan ketepatan mengelola kemampuan dirinya dalam bertindak.</p>
<p>Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak dan rencana seketika untuk mengatasi suatu masalah, kecerdasan emosional merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri serta kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.</p>
<p>Lalu kecerdasan emosional memiliki 5 dimensi yang diungkapkan oleh goleman seorang ahli psikologi untuk teori terkait kecerdasan emosional yaitu, diantaranya adalah kesadaran diri, dimana kesadaran diri merupakan penyadaran dan pemahaman perasaan yang sedang terjadi pada diri dan menjadikannya sebagai panduan untuk mengambil keputusan.</p>
<p>Lalu pengaturan diri, adalah kemampuan mengelola emosi yang mampu berpengaruh positif terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya.</p>
<p>Kemudian motivasi, adalah memunculkan semangat terdalam untuk dijadikan alat dan senjata meraih cita-cita yang diinginkan, mendorong pengambilan inisiatif, dan bertahan dari keterpurukan dan frustasi akibat kegagalan, selanjutnya bangkit melangkah dengan semangat baru.</p>
<p>Lalu empati, yakni kemampuan memahami perasaan orang lain, mengerti cara pandang orang lain, membangun relasi yang saling percaya, dan mampu beradaptasi serta bersinergi dengan berbagai karakter manusia.</p>
<p>Dan yang terakhir adalah keterampilan sosial, merupakan kemampuan mengelola situasi emosional pada saat berhubungan dengan orang lain, mampu membaca kondisi dengan cermat terhadap jaringan sosial, berinteraksi secara baik di tengah masyarakat.</p>
<p>Pada diskusi ini, melibatkan hubungan antara tasawuf dan psikologi. Beberapa ilmuwan muslim dalam literatur Islam membahas kejiwaan, seperti Al-Ghazali, yang terkenal sebagai ahli tasawuf dan filsafat.</p>
<p>Dalam agama Islam, ilmu tasawuf dipelajari sebagai ilmu kejiwaan, yang disebut sebagai &#8220;Tazkiyah nafs&#8221;, atau pembersihan jiwa. Tasawuf berasal dari kata &#8220;suf&#8221;, yang berarti kesederhanaan, &#8220;suffah&#8221;, yang berarti orang yang sering berada di serambi masjid, &#8220;shafa&#8221;, yang berarti bersih atau suci, dan &#8220;saufi.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian, tujuan belajar tasawuf adalah untuk membersihkan jiwa dengan menggabungkan berbagai konsep islami yang berasal dari Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Pembersihan jiwa, yang mencakup mendekatkan diri dengan Allah SWT, seseorang yang sudah terbiasa bertawakal dan mendekatkan diri dengan Allah senantiasa dapat mengelola perasaan serta emosi dengan baik.</p>
<p>Dengan demikian, pertanyaan mendasar muncul apa kunci keberhasilan kecerdasan Emosional dalam meningkatkan kesejahteraan hidup? Apakah psikologi tasawuf dapat membantu menjawab dalam mencapai tingkatan tersebut?</p>
<p>Dengan menggabungkan dua kajian ilmu tersebut dapat diketahui bahwa tasawuf pada psikologi dapat menemukan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tingkatan kecerdasan emosional, sehingga hal tersebut dapat mencapai kesejahteraan hidup yang baik dengan aspek-aspek yang terdapat di kecerdasan emosional lalu digabungkan dengan pendekatan psikologi tasawuf untuk meningkatkan kecerdasan emosional melalui pengembangan spiritualitas dan karakter yaitu dengan, Tazkiyah Nafs yaitu pembersihan dari hal-hal negatif dalam diri.</p>
<p>Pendekatan diri dengan Allah SWT melalui ibadah dapat mengembangkan kesejahteraan hidup,karena senantiasa hidup dipenuhi rasa tenang akan dukungan dan cinta oleh Allah ,salah satu ibadah yang dapat dilakukan adalah dengan berdzikir dapat melatih ketenangan pikiran dan meningkatkan fokus seseorang.</p>
<p>Hal ini terbukti dengan seseorang yang rutin berdzikir lebih tenang saat menghadapi suatu hal yang menimpa dirinya di berbagai situasi dengan ini dapat membantu seseorang mencapai kesejahteraan hidup.</p>
<p>Lalu selain berdzikir terdapat metode sholawat,sholawat merupakan ungkapan salam dan doa kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pujian, penghormatan, dan permohonan rahmat dan keselamatan untuk Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya.</p>
<p>Contohnya Sholawat Nariyah diyakini dapat mendatangkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Membaca sholawat ini secara rutin dapat membantu menenangkan jiwa, meningkatkan fokus, dan mengontrol emosi.</p>
<p><em>Keshia Savinka iftinan dan Siti Haliza Noer Sofyan</em><br />
<em>Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/antara-psikologi-tasawuf-dan-kecerdasan-emosional/">Antara Psikologi Tasawuf dan Kecerdasan Emosional</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Hidup melalui Pendekatan Psikologi Positif dan Tasawuf</title>
		<link>https://kabartoday.co.id/meningkatkan-kualitas-hidup-melalui-pendekatan-psikologi-positif-dan-tasawuf/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jun 2024 04:10:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=70367</guid>

					<description><![CDATA[<p>Fitrohtul Mahmudah, Zahratul Aulia Nurlatifah<br />
Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka</p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/meningkatkan-kualitas-hidup-melalui-pendekatan-psikologi-positif-dan-tasawuf/">Meningkatkan Kualitas Hidup melalui Pendekatan Psikologi Positif dan Tasawuf</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Modernitas dan teknologi membawa gaya hidup yang sering kali membahayakan kesehatan mental manusia.</p>
<p>Manusia modern cenderung kehilangan makna hidup, mengalami keterasingan, dan gangguan kejiwaan seperti kecemasan dan depresi. Dengan adanya berbagai masalah tersebut, dapat mempengaruhi kualitas hidup individu.</p>
<p>Menurut data dari Numbeo yang dilansir oleh CNBC Indonesia, indeks kualitas hidup di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu terendah ke-11 di dunia tepatnya berada di posisi 74 dari 84 negara.</p>
<p>Hal ini menunjukkan pentingnya upaya peningkatan kualitas hidup di Indonesia. Dalam hal ini psikologi positif memiliki relevansi yang kuat dalam peningkatan kualitas hidup.</p>
<p>Psikologi positif menekankan pemanfaatan kekuatan individu untuk menghadapi tantangan, yang dapat membawa pengalaman hidup yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Tujuannya adalah mengaktualisasikan perubahan positif dalam diri setiap individu, tidak hanya memperbaiki kelemahan, tetapi juga mengembangkan kualitas diri dan memperbaiki ketidakseimbangan masa lalu.</p>
<p>Psikologi Positif juga memaparkan bahwa kehidupan yang bermakna dapat dicapai dengan meninggalkan ego individu dan mendedikasikan diri untuk kemanusiaan.</p>
<p>Artinya, kehidupan yang bermakna tercipta melalui kontribusi positif dan bermanfaat bagi orang lain, menjadi bagian dari komunitas atau gerakan yang lebih besar, dan merasakan bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih tinggi dan abadi.</p>
<p>Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup, yaitu:</p>
<p><em><strong>Subjective Well-Being (SWB)</strong></em><br />
Melakukan evaluasi diri terhadap kepuasan hidup, pengalaman emosi positif serta rendahnya emosi negatif.</p>
<p><strong>Model PERMA</strong><br />
Model yang diusulkan oleh Seligman, seorang psikolog Amerika. Cara yang dapat dilakukan dalam mencapai kualitas hidup adalah memperhatikan emosi yang positif, keterlibatan, hubungan yang baik, makna, dan pencapaian dalam hidup.</p>
<p><strong>Kekuatan dan Kebaikan</strong><br />
Mengembangkan kekuatan dan karakter kebaikan (character strength) dalam diri, seperti optimis, kepemimpinan, gairah, dan lainnya.</p>
<p><strong>Tujuan Hidup dan Motivasi</strong><br />
Menetapkan tujuan hidup yang realistis dan relevan dengan nilai maupun minat serta memiliki motivasi untuk mencapainya.</p>
<p><strong>Pendidikan dan Berkelanjutan</strong><br />
Selalu melibatkan diri dalam proses pembelajaran secara berkelanjutan dan terus-menerus mengembangkan minat baru dalam hidup.</p>
<p><strong>Keseimbangan</strong><br />
Menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan menyediakan waktu untuk rekreasi, hubungan sosial, dan aktivitas yang memberi makna.</p>
<p>Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, penting untuk mengintegrasikan aspek keagamaan dalam upaya tersebut.</p>
<p>Tasawuf menawarkan solusi dengan mengingatkan manusia pada dimensi spiritual dan kedekatan dengan Tuhan, yang diharapkan dapat menyeimbangkan kehidupan jasmani dan rohani.</p>
<p>Tasawuf sebagai salah satu bidang studi Islam yang berfokus pada pembersihan aspek rohani manusia yang menghasilkan akhlak mulia.</p>
<p>Melalui tasawuf, individu dapat belajar cara-cara pembersihan diri dan mengamalkannya dengan benar.</p>
<p>Pengetahuan ini diharapkan membuat individu mampu mengendalikan diri dalam interaksi sosial dan dalam menjalankan berbagai aktivitas yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, dan kepercayaan.</p>
<p>Seperti disiplin ilmu lainnya, psikologi dapat digunakan untuk mengkaji fenomena keberagamaan masyarakat, termasuk masyarakat Muslim.</p>
<p>Pendekatan psikologi dalam studi Islam mengkaji hubungan antara agama dan jiwa manusia, yang tercermin dalam perilaku dan interaksi manusia dengan agama Islam.</p>
<p>Sementara itu, tasawuf merupakan cabang keilmuan dalam Islam yang fokus pada dimensi spiritual untuk mencapai kesempurnaan manusia yang menekankan pada keseimbangan antara jiwa dan tubuh serta akhlak yang baik.</p>
<p>Sehingga, keduanya memiliki kesamaan dalam hal konsepsi tentang potensi dasar dan perkembangan jiwa manusia. Lantas, bagaimana cara meningkatkan kualitas hidup dengan menerapkan pendekatan tasawuf?</p>
<p>Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan mental dalam rangka mengoptimalisasikan kualitas hidup dengan pendekatan tasawuf.</p>
<ul>
<li>Membersihkan hati dari hal yang buruk, seperti kebencian, iri, dengki dan mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas sehari-hari.</li>
<li>Menerapkan metode tahlili dengan menghilang sifat negatif dan mengamalkan sifat positif, seperti kesabaran, kasih sayang, ketulusan, dan lainnya.</li>
<li>Mempraktikkan amal shaleh dalam setiap aspek kehidupan dengan melakukan ibadah wajib maupun sunnah serta menjauhkan diri dari laranganNya.</li>
</ul>
<p>Untuk meningkatkan kualitas hidup di Indonesia, diperlukan pendekatan yang mengintegrasikan pendekatan psikologi positif dan tasawuf dalam upaya meningkatkan kualitas hidup di Indonesia merupakan langkah yang strategis dan relevan mengingat konteks budaya dan keagamaan yang dominan.</p>
<p>Psikologi positif menyediakan kerangka kerja yang berbasis ilmiah untuk mengoptimalkan potensi individu dan mencapai kesejahteraan emosional.</p>
<p>Sementara itu, tasawuf memberikan dimensi spiritual yang esensial untuk pembersihan diri dan pengembangan akhlak mulia, yang dapat mengisi kekosongan makna hidup yang sering dialami manusia modern.</p>
<p>Dengan menyelaraskan dua pendekatan ini, masyarakat Indonesia dapat meraih keseimbangan yang harmonis antara kesehatan mental dan spiritual, sehingga mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih bijaksana dan penuh makna.</p>
<p>Langkah-langkah praktis yang mencakup pengembangan kekuatan karakter, menetapkan tujuan hidup, serta mengintegrasikan dimensi spiritual dalam keseharian, diharapkan dapat membentuk individu yang lebih tangguh, seimbang, dan bahagia.</p>
<p>Upaya ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup individu, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.</p>
<p><em>Fitrohtul Mahmudah, Zahratul Aulia Nurlatifah</em><br />
<em>Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka</em></p>
<p>Artikel <a href="https://kabartoday.co.id/meningkatkan-kualitas-hidup-melalui-pendekatan-psikologi-positif-dan-tasawuf/">Meningkatkan Kualitas Hidup melalui Pendekatan Psikologi Positif dan Tasawuf</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kabartoday.co.id">Kabar Today</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.mtsn7banyuwangi.sch.id/wp-content/uploads/2017/07/sufi.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
