Kabartoday, AMBON – Kepolisian Daerah (Polda) Maluku hingga kini terus bungkam terhadap “Insiden Berdarah” kontak fisik antara dua siswa yang sedang mengikuti Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri tahun 2025 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku.
Peristiwa memalukan yang “mencoreng” wajah SPN Polda Maluku itu terjadi Senin (8/12/2025) siang di kompleks lembaga pembentuk calon bintara Polri.
Adalah dua siswa SPN Polda Maluku yang terlibat kontak fisik yaitu Asrul Tiasa dan Muh. A Hehanussa. Akibatnya siswa MA Hehanussa mengalami cedera luka di bagian hidung. Lukanya cukup parah hingga dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapat perawatan medis.
Belum diketahui apa masalah atau penyebab kontak fisik antara kedua siswa tersebut hingga berujung siswa MA Hehanussa harus dilarikan le RS Bhayangkara untuk mendapat perawatan medis.
Hingga kini pihak Polda Maluku bungkam terhadap “insiden berdarah” antara siswa SPN. Pasalnya, Kabid Humas Polda Maluku Komisaris Besar Rositah Umasugi enggan berkomentar.

Beberapa kali sejak hari Selasa (9/12/2025), Rabu (10/12/2025) hingga Kamis (11/12/2025) wartawan media ini mengkonfirmasi persoalan tersebut ke kantor Bidang Humas di lantai IV Mapolda Maluku, namun Kombes Rositah menolak ditemui. Belum diketahui apa alasan mantan Wadir Binmas Polda Maluku ini melakukan “Gerakan Tutup Mulut” terhadap “insiden berdarah” tersebut.
Padahal, Kabid Humas merupakan corong informasi Polda Maluku dan sekaligus juru bicara Kapolda Maluku untuk memberikan informasi ke publik terkait berbagai hal menyangkut Polda Maluku.
Bungkamnya Kombes Rositah akan persoalan ini menimbulkan berbagai spekulasi miring di mata publik. “Ada apa ya hingga Polda Maluku “sengaja” mendiamkan peristiwa memalukan ini atau ada alasan lain yang mereka tidak ingin diketahui publik,” tanya Ismail Gafar, salah satu pemerhati masalah sosial kemasyarakatan Kamis (11/12/2025) saat dimintai pandangannya akan bungkamnya pihak Polda Maluku terhadap masalah ini.
Padahal, salah satu tugas penting Kabid Humas adalah pengelolaan isu krisis media baik digital maupun elektronik serta penyebaran atau diseminasi informasi digital melalui media online maupun media sosial.
“Tujuan agar produk yang dihasilkan satuan bisa sampai ke masyarakat dan menjadi berita yang positif yang endingnya akan meningkatkan Kredibilitas Polri di mata masyarakat,” tukas jebolan magister ilmu komunikasi publik salah satu universitas di Jakarta.
Diakuinya, mengemban jabatan sebagai Kabid Humas di tingkat Polda memang tidak gampang. Sangat dibutuhkan personil dengan wawasan luas serta skill mumpuni untuk mengelola isu publik baik yang positif maupun bernada negatif namun tetap dapat menjaga kredibilitas lembaga kepolisian di mata publik.
“Memang tidak gampang mengemban jabatan Kabid Humas di tingkat Polda. Sangat dibutuhkan personil yang mempunyai wawasan luas dan skill mumpuni agar produk yang dihasilkan satuan bisa sampai ke masyarakat dan menjadi berita yang positif yang endingnya akan meningkatkan Kredibilitas Polri di mata masyarakat,” jelas Gafar.
Menurutnya, dengan aksi “bungkam” Kabid Humas Polda Maluku maka bisa menimbulkan opini liar di publik yang dapat menurunkan kredibilitas Polda Maluku di mata publik.
Sebelumnya diberitakan dua siswa yang sedang mengikuti Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri Tahun 2025 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Maluku diduga saling adu jotos alias baku pukul.
Dua siswa SPN Polda Maluku yang beradu bogem mentah ini berinisial AT dan MAH. Kedua calon bintara Polri ini terlibat perkelahian pada Senin (9/12/2025) sore di kompleks SPN Polda Maluku Desa Passo, Kecamatan Baguala Kota Ambon.
Dua siswa ini, sedang mengikuti pendidikan bersama 69 siswa lainnya untuk nantinya dapat menjadi insan pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
Akibat duel sesama calon bintara Polri ini, siswa MAH mengalami patah tulang hidung. Saat ini MAH sementara menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Maluku di kawasan Pandan Kasturi, Ambon.
Belum diketahui apa penyebab sehingga dua siswa yang nantinya menyandang pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) saling adu kekuatan fisik.
Perkelahian ini juga mempertontonkan mental kepribadian kedua siswa ini belum layak untuk menjadi seorang polisi.
Padahal, mereka sudah empat bulan lebih menjalani pendidikan dan latihan di SPN Polda Maluku yang dipimpin Kombes Romy Agusriansyah selaku Kepala SPN.
Dua siswa ini merupakan bagian dari 71 siswa yang lulus seleksi penerimaan Bintara Polda Maluku tahun 2025. Pembukaan pendidikan pada 30 Juli 2025 lalu oleh Kapolda Maluku saat itu Inspektur Jenderal Polisi Edy S Tambunan. Setelah menjalani pendidikan kurang lebih 5 bulan, rencananya mereka akan dilantik menjadi bintara Polri dengan pangkat Bripda pada 24 Desember nanti.
Terkait permasalahan ini, baik Kepala SPN Polda Maluku Kombes Pol Romy Agusriansyah enggan memberi keterangan saat dikonfirmasi media ini.
Saat wartawan media ini mendatangi Kantor SPN Polda Maluku dan langsung melapor ke bagian Urusan Administrasi dan Ketatausahaan (Urmintu) dengan tujuan konfirmasi, namun belum berhasil menemui Kombes Romy Agusriansyah.
Saat itu, wartawan media ini sempat menemui AKBP Hendra Haurissa sebagai Kepala Korps Siswa (Kakorsis) SPN Polda Maluku namun Hendra enggan memberi komentar. (IMRAN)


